Saat ini Winter dan Rain sedang mengupas buah di dapur. Setelah saling menghibur dan menguatkan, perasaan mereka sekarang sudah lebih baik. Bahkan saat ini mereka sibuk bercerita hal-hal yang seru, terlihat dari mereka yang sesekali akan tertawa.
"Tapi aku tidak menyangka kak Mina akan lebih memilih pergi ke Amerika untuk mengejar Sean daripada merayakan tahun baru dengan kalian." Kata Winter menanggapi cerita Rain tentang bagaimana Mina bisa berada di Amerika sehingga tidak bisa merayakan tahun baru bersama mereka.
"Kekuatan cinta." Kata Rain lalu terkekeh pelan di akhir kalimatnya.
"Cinta memang sehebat itu." Kata Winter mengakui.
"Tapi, kau bagaimana?" Tanya Winter.
"Aku apanya?" Tanya Rain bingung.
"Apakah kau tidak tertarik dengan siapa pun saat ini?" Tanya Winter penasaran karena selama ini Rain tidak menceritakan apa-apa tentang kehidupan asmaranya.
"Saat ini tidak ada." Kata Rain.
"Benarkah? Aku bisa tebak hidupmu pasti membosankan." Kata Winter dengan senyum jahilnya.
"Membosankan apanya? Kehidupanku sangat menarik!" Protes Rain.
"Sepengalamanku hidup tanpa pengalaman asmara itu memang kurang menarik." Kata Winter.
"Kurang menarik apanya? Aku bahkan menyukai kehidupanku."
"Tapi setidaknya kau harus memiliki pengalaman asmara, kalau tidak punya pengalaman setidaknya punya pengalaman menyukai seseorang." Kata Winter.
Mendengar itu, Rain pun tampak terdiam selama beberapa saat.
"Jika tidak punya pengalaman menyukai seseorang, aku memutuskan hidupmu memang membosankan." Kata Winter dengan tatapan anehnya.
"Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Aku juga memiliki pengalaman itu, pengalaman menyukai seseorang." Kata Rain dengan ekspresi biasa.
"Benar? Kapan? Dengan siapa?" Tanya Winter bertubi-tubi dengan heboh membuat ayah dan Yoohan sempat melihat ke arah dapur.
"Stt! Jangan berteriak. Aku tidak mau ada orang lain yang tahu." Kata Rain panik setelah ayah dan Yoohan kembali fokus ke permainan catur mereka.
"Baiklah. Siapa dan kapan?" Tanya Winter dengan tenang.
"Ada seorang senior di kampus, dia orang yang baik. Tapi tidak bisa aku miliki." Kata Rain.
"Seorang senior ternyata. Tapi kenapa kau tidak bisa memilikinya? Dia tidak suka padamu? Atau dia sudah punya pacar?" Tanya Winter.
Rain menggelengkan kepalanya pelan. Ingatan semasa kuliah terlintas dan perlahan Rain merasakan perasaan tidak nyaman. Dia ingin bercerita, tapi bibirnya sulit untuk mengatakan.
"Ada apa?" Tanya Winter pada Rain ketika dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"... kau masih ingatkan cerita tentang orang-orang yang merundungku semasa kuliah." Kata Rain membuka cerita.
Mendengar itu emosi Winter memuncak. Walaupun kejadian itu sudah berlalu dan bukan dirinya sendiri yang mengalami, tapi mendengarkan ceritu itu diungkit kembali membuat Winter kesal. Karena dia tahu betapa buruknya kejadian itu mempengaruhi Rain.
"Maaf karena baru memberitahumu alasan yang sebenarnya, tapi sebenarnya orang-orang yang merundungku di kampus melakukan itu bukan hanya karena membenciku tanpa alasan. Tapi mereka merundungku karena dekat dengan pria yang disukai oleh salah satu dari mereka." Kata Rain berkata jujur.
Memang cerita yang diketahui oleh Winter sejauh ini adalah orang-orang yang merundung Rain melakukannya karena membenci Rain tanpa alasan. Winter bahkan berpikir mungkin karena mereka merasa iri saja pada Rain.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Safe Time
Fiksi Penggemar📌 Follow Dulu Sebelum Baca 😊 Menjadi terbaik dalam bidang pekerjaanku adalah hal yang terhebat, tapi menjadi terbaik baginya adalah hal yang luar biasa. Karena itu aku memerlukan waktu yang bisa membuat perjalanan hidup terkesan menyenangkan serta...
