Cia pov
Akhirnya aku dan Ecis sudah sampai di coffee shop Kak Syanin. Aku melihat bagaimana bagusnya kafe itu. Warna dominan hitam dan minimalis serta terdapat area outdoor dan indoor.
"Kak Cia turun duluan ya ini temen aku nelpon". Ujar Lexis.
"Oke, kamu jangan lama ya"
Aku turun dari mobil dan berjalan memasuki area kafe. Saat akan memesan, aku terpaku pada pemandangan di pojok kafe. Aku melihat Kak Syanin berpelukan dengan seorang perempuan. Dadaku rasanya sesak dan air mataku sudah tidak bisa terbendung.
Dia terlihat sangat risih saat bersamaku. Dia tidak nyaman saat aku mendekatinya dan menyentuhnya, tapi dia malah mendekap perempuan lain. Kenapa saat aku bertanya dia punya pacar apa tidak dia menjawab tidak. Tidak mungkin dia seperti itu jika mereka tidak punya hubungan.
"Kak ayo pesan!"
Mendengar teriakan Lexis, mereka melepas pelukannya dan Kak Syanin terlihat sedikit tegang. Ia berjalan cepat ke arahku dan aku segera berlari pergi dari tempat ini.
"Ayo pulang!"
Aku menarik lengan Lexis, mengajaknya pulang. Aku sudah tidak ingin berada di sini dan aku tidak mau melihat wajahnya. Aku masuk mobil dan diikuti oleh Lexis.
"Buruan nyalain mobilnya!". Pintaku karena ia hanya diam saja memandangku.
Tok.. tok.. tok..
"Cia dengerin aku dulu Cia! Aku bisa jelasin!". Ujar Kak Syanin yang masih berusaha membuka pintu mobil sambil mengetuk kaca.
"Astaga Alexis! Buruan jalan!". Bentakku.
Setelah aku membentaknya barulah dia menjalankan mobilnya. Saat aku menoleh ke belakang ternyata dia mengejar kami.
"Kak, Kak Syanin masih ngejar". Ucap Lexis.
"Udah jalanin aja mobilnya!"
Aku kasihan melihat dia mengejar kami seperti itu, tapi aku kecewa dengannya. Aku menangisinya sepanjang jalan, aku tidak mau dia menjadi milik orang lain. Tapi kenyataannya dia sudah menjadi milik orang lain.
Sesampainya di rumah aku segera naik ke kamarku. Aku mengabaikan pertanyaan dari bubu dan mama. Aku masuk kamar, membanting pintu, melepas sepatu dan melempar tasku. Aku langsung merebahkan badanku ke kasur dan menangis.
"Sakit banget kak.. sakit.."
Cia pov end
Di ruang keluarga semua kebingungan karena Cia pulang dalam keadaan menangis. Saat Lexis baru saja muncul, ia langsung ditanya oleh Lexa.
"Kalian kenapa? Kakak kamu kenapa nangis?"
"Kalian gapapa kan?". Tanya Sheril panik.
"Kami gapapa bu, ma. Kak Cia tadi liat Kak Syanin pelukan sama cewek. Belum sempat duduk, Kak Cia udah nangis dan minta pulang". Jelas Lexis.
"Bocah bodoh! Baru aja kemaren diperingatin sekarang udah dilanggar". Gumam Lexa.
"Ya udah biar ini jadi urusan bubu". Ujar Lexa.
Dilain tempat, Syanin sedang ada di jalan menuju ke rumah Cia. Ia harus menjelaskan pada Cia siapa perempuan tadi.
"Sial! Bisa-bisa gue dihajar bapaknya". Gerutu Syanin.
Setelah beberapa menit akhirnya ia sampai di rumah Cia. Ia menekan bel, tak lama menunggu ada suara pintu yang akan dibuka. Saat pintu terbuka terlihatlah siapa yang membuka. Syanin langsung menundukan kepalanya karena ditatap tajam oleh Lexa.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Happiness
General FictionSequel Choice of My Heart dan My Enemy is My Love.
