Bab 31

11 0 0
                                        

"Aku harus pergi dari tempat busuk ini!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Aku harus pergi dari tempat busuk ini!"

Kaki Vanessa melangkah keluar dari tempat mengerikan itu. Hal pertama menyambutnya mentari yang baru terbit dan pepohonan yang menjulang tinggi dengan kokoh.

"I- ini di mana? Semuanya hanya pohon." Vanessa menelisik sekitar, kakinya melangkah tanpa arah. "Ini sudah berapa lama aku disekap? Ah, kenapa pakaianku jadi gini? Di mana seragamku?" Vanessa menyadari pakaian yang ia pakai saat ini berbeda dengan sebelumnya. Dress polosan berwarna putih, di pergelangan tangannya ada bekas luka dan ikatan tali.

Pandangan Vanessa mendadak kabur, perasaan mual, dan pusing menyelimutinya. Kakinya melemas lalu ia jatuh terduduk sambil menundukkan kepala. Kepalanya mulai merasakan sakit luar biasa, disaat bersamaan dari mulutnya keluar cairan lendir yang menjijikkan— Vanessa membulatkan mata tak percaya dengan apa yang ia muntahkan. "Sebenarnya apa yang pria itu masukkan ke dalam mulutku selama aku tidak sadar? Jangan-jangan, saat aku tidak sadar dia melakukan hal bejat padaku?" Suara Vanessa terdengar parau, ia mengatupkan mulutnya, dan berusaha menyingkirkan pemikiran buruk yang terjadi padanya.

"A- aku harus kabur dari tempat ini! Aku mau pulang!" Vanessa berusaha bangkit, tetapi kakinya begitu lemas. "Aku harus pergi! Jangan lemah, Vanessa!" teriak Vanessa pada dirinya sendiri sambil menggertakkan gigi. Ia melawan rasa sakit disekujur tubuhnya, berusaha bangkit, dan bertahan hidup.

"Ukh." Vanessa meringis menahan rasa sakit kakinya apalagi ia terkilir. Ia tidak peduli lagi jika harus menyeret kakinya hanya demi bisa keluar hidup-hidup. Itu saja lebih dari cukup untuknya.

***
Vanessa berjalan tertatih-tatih melewati banyaknya pohon. "Ini mana, sih jalan keluarnya? Aku ingin pulang ... entah sudah berapa lama aku berjalan dan ini sudah jam berapa? Aku tidak tahu," lirih Vanessa. Kakinya tidak sanggup lagi berjalan, pandangannya juga mulai kabur. "Aku tidak boleh ... pingsan di ... sini." Tubuh Vanessa ambruk karena kelelahan dan tidak adanya tenaga untuk bergerak lagi.

Suara langkah kaki mendekat terdengar semakin dekat, sosok itu memandang tubuh Vanessa yang terkapar dengan tatapan dingin. Ia menarik sudut bibirnya seraya mengangkat tubuh Vanessa— membawanya pergi dari hutan.

"Kamu hanya milikku, Nessa."

***
"Sudah bangun, Tuan Putri?"

Bau menyengat menusuk hidung membangunkan Vanessa, gadis itu membuka mata lalu perlahan duduk sambil mengucek matanya. Setelah kesadarannya terkumpul, Vanessa baru bisa melihat sosok yang menyapanya dengan jelas.

"K- kamu?! Bukannya—"

"Kenapa, hm? Kamu pikir berhasil kabur? Sayangnya, kamu tak akan pernah bisa keluar dari tempat ini karena tempat ini terisolasi dari dunia luar. Kamu juga sudah melihatnya dari luar, kan?" Sosok itu terkekeh pelan, ia mendekati Vanessa lalu tangannya dengan lembut menyelipkan helaian rambut Vanessa ke belakang kupingnya.

"Katakan saja apa yang kamu inginkan?" Vanessa bertanya dengan sedikit membentak.

Sosok itu tertawa terbahak-bahak, dengan seringaian orang tersebut mencekik leher Vanessa seraya berkata,  "Kamu masih bertanya apa yang aku inginkan? Itu pertanyaan konyol sekali ... sudah pasti kamu mengetahuinya, kan? Toh, sebentar lagi aku akan membunuhmu menyusul wanita-wanita yang tak berdosa. Kamu itu hanya perlu melayaniku, seperti pelayan. Aku mohon banget sama kamu jadi anak penurut maka aku akan memperlakukan kamu dengan baik."

Vanessa membelakkan mata. "Itu takkan terjadi, selamanya takkan terjadi! Aku takkan memberikan apa pun padamu, dasar penipu!"

"Penipu?" Sosok itu tertawa. Dia mencekram lebih kuat leher Vanessa, sedangkan Vanessa mulai merasakan sesak. Ia meronta-ronta tuk dilepaskan, tetapi sosok itu enggan melakukannya. Malahan lebih mencekiknya dengan senyuman lebar menatap Vanessa.

"Akan kujawab pertanyaanmu tadi sebelum pingsan. Ini sudah satu minggu berlalu sejak kamu ku culik dan jangan sok suci karena saat kamu pingsan aku sudah memasukkan obat padamu biar kamu berhalunasi serta telah berusaha melakukannya. Sayangnya, dirimu di bawah pengaruh obat masih memberontak jadi aku memberikanmu makanan yang berisikan cacing, ulat, makanan basi, dan kotoran sebagai hukumanmu," jelasnya sambil memojokkan Vanessa— cekramannya semakin kuat, tetapi Vanessa yang syok mendengar penjelasan pria yang sudah menipunya ini akhirnya tidak memberikan perlawanan.

"Iya, begini saja. Kamu adalah wanitaku. Kita akan bersenang-senang, Nessa," bisik pria itu, "panggil namaku dengan begitu kita akan seperti sepasang kekasih. Nah, panggil aku Anton. Anton nama asliku. Impas, kan? Aku tidak menipumu kali ini."

Anton— pria itu melepas cekramannya lalu beralih menculuti Vanessa. Vanessa yang hampir kehabisan napas dan tak berdaya, dengan sisa kesadarannya berusaha memberontak. Namun, itu sia-sia. Tenaga Anton sangat kuat, pria itu menekan bagian bawah tubuh Vanessa.

Gak boleh berakhir begini, saja. Ayah, ibu, aku rindu. Vedol dan teman-teman, maaf aku keras kepala tak mendengarkan kalian. Aku nyesal, jadi tolong selamatkan aku, batin Vanessa sebelum kehilangan kesadaran.

Maaf agak pendekan, aku niatnya up kemarin malam malah ketiduran di tengah-tengah menulis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Maaf agak pendekan, aku niatnya up kemarin malam malah ketiduran di tengah-tengah menulis. Jadi, bangun-bangun aku langsung menyelesaikannya.

Jangan lupa vote, komen, dan share buat ramaikan. Sisa 2-3 bab masa lalu Vanessa diceritakan lalu kita akan masuk ke masa lalu Arkan dan Sisil.

See you next time...

CandramawaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang