Bab 32

13 1 0
                                        

Bab ini mengandung adegan dewasa🔞

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bab ini mengandung adegan dewasa🔞

***

Dua minggu berlalu, Vanessa telah dilucuti beberapa kali tiap jam. Ia sudah tak berbusana, tangannya terikat, dan sekujur tubuhnya penuh luka serta tanda merah. Suara langkah kaki mendekatinya, wajah pria itu sumringah begitu melihat Vanessa terikat di kursi.

"Temani aku bermain lagi. Ah, kamu terlihat cantik seperti ini. Aku bisa mencicipimu dengan puas." Pria itu menjulurkan lidahnya lalu tangannya dengan nakalnya mencekram bagian dada Vanessa.

Vanessa mendesah tiap sentuhannya. "He- hentikan, bajingan. Jangan kamu lakukan! Anton!"

Anton tersenyum nakal sembari mencium tengkuk Vanessa. Reaksi dari Vanessa semakin membuat hasrat Anton membuncah. "Bagaimana ini? Aku semakin menginginkan lebih dari ini. Nessa-" Anton bangkit, ia menatap Vanessa dengan penuh hasrat, lidahnya menjilati telapak tangan Vanessa. "- Bagaimana ini? Apakah kita harus ke bagian lebih intim dari ini? Aku belum mencicipimu lebih, puaskan aku, ya? Kamu kan cinta aku, Nessa. Benar, kan?"

"Tidak!" Vanessa meronta-ronta menolak walaupun rasa sakit dari luka di tubuhnya telah mengeluarkan nanah dan darah. Bagi Vanessa itu bukanlah apa-apa dibanding rasa sakit selama dua minggu ini yang ia alami.

"Kamu ini kenapa tidak menurut? Jika seperti ini terus aku terpaksa membunuhmu!" Anton bangkit, ia berjalan mengambil pisau lalu diangkatnya tinggi-tinggi. "Selamat tinggal, jalang!"

"Berhenti, kamu dasar biadab!"

Pintu kayu didobrak hingga hancur, seorang laki-laki dengan pistol ditangannya menarik pelatuk hingga peluru mengenai tangan Anton. Pisau yang dipegangnya terjatuh. Anton berbalik menatap siapa yang berani memasuki tempat persembunyiannya.

"Kami dari pihak kepolisian, serahkan dirimu. Ikut kami ke kantor polisi!"

"Tunggu-"

Anton ditangkap dan Vanessa akhirnya terbebas. Dean mendekati Vanessa yang masih terduduk lemas. Ia berjongkok melihat kondisi keponakannya itu, tetapi kondisinya begitu memilukan. Dean menggertakkan gigi, ia melepaskan ikatan yang membelenggu Vanessa. "Nak, kamu? Mana pakaianmu? Jawab, Paman-" Dean terdiam begitu melihat tatapan mata Vanessa kosong.

"Bajingan itu," gumam Dean. Ia meminta ke rekan kerja perempuannya meminjamkan jaketnya untuk dipakaikan Vanessa.

"Astaga, orang tadi beneran bajingan. Anak dibawah umur masa diperlakukan begini?"

"Itu kita bisa urus nanti saat pengadilan, bantu aku membawanya keluar tanpa hambatan. Dia tidak meresponku juga," timpal Dean. Rekannya mengangguk pun menuntun keluar dari gubuk tersebut.

"Nessa, tidurlah. Kamu sudah aman sekarang, maaf Paman datang terlambat," lirih Dean sambil menggendong Vanessa dengan hati-hati.

***
Kabar ditemukan Vanessa membuat sekeluarganya, terutama orang tuanya bergegas ke rumah sakit. Akan tetapi, yang mereka temukan putri semata wayang mereka dalam kondisi tidak baik-baik saja.

David mengepalkan tangan hingga terlihat urat nadinya, sedangkan Rissa terus menangis disamping bangsal Vanessa. Ucapan dokter tentang kondisi mental Vanessa sangat prihatinkan. Disamping itu, luka-luka yang dialaminya, termasuk luka bagian keintiman Vanessa. Pihak keluarga Vanessa bertekad tidak akan membiarkan pelaku yang membuat Vanessa Naya Putri hidup tenang.

"Cecunguk itu harus dihukum penjara. Dia tidak boleh dibiarkan begitu saja," murka David. Ia pun berbalik pergi meninggalkan rumah sakit. Satu tempat yang ia tuju, kantor polisi.

***
"Dek, cecunguk itu bagaimana? Kapan pengadilan?"

Dean menatap kakaknya sesaat lalu beralih ke berkas dokumennya. "Dari jadwal sidang akan dilaksanakan tiga minggu lagi karena surat dari dokter mengatakan bahwa Vanessa sebagai korban tidak dapat memberikan kesaksian."

"Lebih baik, Nessa tidak datang. Dia tidak perlu lagi bertemu dengan cecunguk itu!" ucap David dengan tegas.

***
Tiga minggu kemudian, sidang dilaksanakan. Suasana begitu tegang dengan tiga hakim di depan. Sidang dimulai.

"Saudara Anton, dugaan kasus pemerkosaan dan penculikan maka dari itu diputuskan Anda dijatuhi hukuman berlapis menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Hukum Perlindungan Anak dengan hukum 15 tahun penjara," ucap hakim sambil mengetuk palu tiga kali.

Sidang pun diakhiri. Semua orang di dalam sana keluar dengan perasaan campur aduk. Lega dan ketengangan masih dapat dirasakan. David mengembuskan napas dengan lega seraya berkata, "Semoga ini tidak terulang kembali."

Tiba-tiba ponsel David berdering, melihat siapa yang menelpon ia segera mengangkatnya. "Kenapa, Sayang?"

"Nessa, sudah sadar, Mas. Datanglah ke sini."

"Baik, tunggu aku. Urusanku sudah selesai juga," kata David lalu mengakhiri telepon. Ia pun segera bergegas ke rumah sakit dengan hati gembira.

Namun, di sisi lain, sosok berjubah hitam menatap kepergiannya. Ia hanya diam memerhatikan.

"Ini belum berakhir."

Kukira aku akan baik-baik saja nulis bagian ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kukira aku akan baik-baik saja nulis bagian ini. Ternyata tidak. Sempat tremor di awal, tanganku gemetaran bagian Vanessa yang akan dilucuti oleh Anton. Sebenarnya yang ingin dipegang Anton itu em.. bagian puting wanita. Aku tremor disini dan tidak berani menuliskannya malah jadi dada.

Mungkin ini karena aku dulu pernah ngalaminnya, tapi syukurlah itu kenal sama orang kek gitu secara online. Cuma yah begitulah ternyata masih membekas.

Maaf telat banget, ya. Aku maju mundur bagian ini. Duh, malah curhat. Oh, ya, jawab di bawah ini, ya.

CandramawaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang