Niki sebenarnya sudah terbiasa diselimuti kecanggungan seumur hidupnya. Banyak hal yang tidak pernah benar-benar ia mengerti terjadi di atas meja makan keluarganya. Mulai dari obrolan bisnis orang tuanya, silsilah keluarga, ketegangan antara Ayah dan Kakaknya, sampai urusan warisan yang entah kenapa selalu diulang-ulang.
Dia adalah bungsu keluarga Lee. Selama masih ada Heeseung, Niki merasa dirinya hanya pelengkap di rumah itu. Jadi dia tidak pernah benar-benar dituntut untuk memahami semuanya.
Tapi pagi ini berbeda.
Ada orang asing di meja makan.
"Siapa tadi namanya? Dia beberan gk ngadu kan?" batin Niki. Matanya terus melirik pemuda di seberang meja dengan curiga.
Si kakak minimarket. Niki tentu tidak lupa dengan pertemuan teakhir mereka.
"Oh iya, Ini Niki adik gw. Lo pernah ketemu di minimarket waktu itu. Yang ciki gede, inget gk?" Heeseung mengenalkan Niki, memecah kecanggungan. Dia berdiri di meja pantry menggantikan posisi ibunya. Dia begitu telaten menyipkan. Pelayan lain masih di sana dengan tugas mereka masing masing.
Saat piring pertama selesai, Heeseung langsung mengarahkannya untuk di hidangkan pada Jaeyun lebih dulu.
Niki hendak protes, Dia biasa di dahulukan Maka ketika semua tidak sesuai, Niki tanpa sadar menekuk alisnya kesal.
Jaeyun melihatnya. Dia menatap Niki diam, lalu menggeser nasi goreng itu kearah Niki.
"lo keliatan udah laper banget kayaknya" nada bicaranya datar.
Itu terasa kering, memancing. Nuansanya persis sama seperti pertemuan mereka sebelumnya.
Niki yang mendengarnya mendadak menciut. Tidak enak hati. Namun belum sempat dia beraksi lebih, Jaeyun keburu bicara lebih dulu.
"lo udah tinggian ya? terakhir kita ketemu kayaknya gk setinggi ini, Cil" kata Jaeyun lagi, pada akhir kalimatnya terjeda sebentar sebelum kata kata itu kembali menggetarkan nyali Niki.
"Huh?" Niki mendongak, memasang wajah dungunya. Tepat saat itulah usapan kepala datang tiba-tiba. Heeseung melewatinya untuk meletakan piring terakhir pada tamu mereka.
"Ada yang mau omlet?" Heeseung menyela.
"Aku mau" Niki menyaut semangat. Sengaja mengalihkan fokusnya. Dia tesenyum menatap Heeseung.
"Oke. Jaeyun, lo mau?" Heeseung.
" Gw engga" Jawab Jaeyun.
Dan setelah Heeseung pergi, Jaeyun berlalih kembali pada Niki.
"Jadi nama lo Niki, ya Cil?" sekarang Jaeyun menopang dagu. Sudut bibirnya tertarik sedikit. "Gw Jaeyun" sambungnya memperkenalkan diri.
Oh namanya Jaeyun.
Niki ingat sekarang, itu nama yang sering di ulang kakak dan ayahnya di meja makan beberapa waktu belakangan. Jadi ini, orang yang sedang dimanfaatkan keluarganya itu?
"Iya Bang- Jaeyun" Niki tersenyum kikuk.
Niki diam diam pemperharikan pria itu.
Menyebalkan sekali rasanya saat Niki malah mendadak kasihan dengan orang itu.
Tapi, dalam hubungan seperti ini pasti mereka memang saling memanfaatkan satu sama lain kan?
Dan Kakaknya- jangan jangan juga sedang Orang itu manfaatkan sekarang?
Belum selesai pikirannya bekerja...
Heeseung sudah kembali.
Sebuah pisang yang sudah dikupas langsung disodorkan ke depan mulut Jaeyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
FanfictionHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
