Ada perubahan guys jadi up ulang...
Satu minggu berlalu sejak malam mengerikan di mana Taehyung akhirnya diringkus polisi. Dari luar, kediaman Kai dan Jennie terlihat kembali normal. Matahari pagi masih menyinari taman mereka yang asri, dan rutinitas sarapan kembali berjalan. Namun, jika masuk ke dalam, udara yang dirasakan berbeda. Ada rasa canggung yang menggantung, sebuah trauma yang belum benar-benar sembuh.
Jennie lebih banyak diam. Matanya seringkali kosong saat menatap cangkir cokelat panas, seolah-olah ia sedang memutar ulang kejadian malam itu di kepalanya. Sementara Kai? Dia berubah menjadi sosok yang super protektif. Tidak cukup dengan sistem keamanan lama, Kai memanggil teknisi untuk memasang CCTV tambahan di setiap sudut rumah-bahkan di lorong-lorong yang jarang dilewati. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada satu inci pun dari rumah ini yang tidak terpantau.
"Oppa, ini berlebihan," tegur Jennie pelan saat melihat Kai sedang memantau layar monitor di ruang kerja.
Kai tidak menoleh. Matanya tetap fokus pada layar. "Enggak ada yang berlebihan kalau soal keselamatan kamu dan anak-anak. Aku nggak mau kecolongan lagi."
Di sisi lain, Lisa mulai menjalani hari-hari berat dengan sesi terapi trauma. Meskipun secara fisik kondisi jantungnya dinyatakan stabil oleh Yoona-dokter sekaligus neneknya-mental Lisa masih sangat rapuh. Gadis kecil itu sering terbangun tengah malam dengan keringat dingin. Ia akan meraba sisi tempat tidurnya, memastikan Mommy-nya benar-benar ada di sana.
Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Jennie mengajak Lisa bersantai di taman belakang untuk menghirup udara segar. Lisa duduk di ayunan kayu, sementara Jennie sibuk mengupas buah pir untuk putrinya.
"Mom..." suara Lisa kecil, hampir tenggelam oleh suara gesekan pisau dan buah.
Jennie menoleh, memberikan senyum hangatnya. "Iya, Sayang?"
"Papi SinB beneran nggak akan dateng lagi, kan? Dia nggak akan muncul di lagi?" tanya Lisa. Jemarinya yang mungil asyik memilin ujung jaketnya, sebuah kebiasaan baru setiap kali ia merasa cemas.
Jennie meletakkan pisau dan piring buahnya. Ia berlutut di depan Lisa, menggenggam tangan kecil itu dengan erat. Ia menatap mata bulat putrinya yang kini tampak lebih waspada, kehilangan binar polos yang biasanya ada di sana.
"Enggak, Sayang. Mommy janji. Dia sudah di tempat yang seharusnya. Dia dijaga ketat sama polisi dan nggak akan bisa keluar buat sakiti Adek lagi. Mommy, Daddy, dan Kakak bakal selalu jagain Adek," ucap Jennie dengan nada seyakin mungkin, meski hatinya sendiri masih bergetar.
Lisa mengangguk pelan, mencoba memproses kata-kata itu. Namun, pikirannya tidak berhenti di sana. "Terus... SinB gimana, Mom?"
Pertanyaan itu seketika membuat Jennie membeku. SinB. Anak dari pria yang hampir merenggut nyawa putrinya. Jujur saja, dalam seminggu terakhir, Jennie terlalu fokus pada pemulihan Lisa hingga ia hampir melupakan keberadaan gadis itu. SinB bukan hanya teman sekolah Lisa; dia adalah perpanjangan tangan dari obsesi gila ayahnya.
Jennie terdiam sejenak, membiarkan angin sore memainkan helai rambutnya yang terurai. Nama SinB seperti duri yang tiba-tiba menusuk kembali luka yang baru saja ingin ia tutup. Ia menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan bayangan wajah angkuh SinB dari pikirannya.
"Kenapa Adek tanya soal SinB?" tanya Jennie lembut, sambil mengusap punggung tangan Lisa dengan ibu jarinya.
Lisa menunduk, menatap ujung sepatunya yang bergesekan dengan rumput. "Adek cuma... Adek takut dia marah lagi. Waktu itu di sekolah, SinB bilang kalau semuanya salah Adek. Adek itu cuma beban. Dia bilang karena Adek ganggu dia, Om Taehyung jadi sering hukum adek. Dia bilang Adek pantas dapat hukumannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Light
Teen Fiction"Pelan-pelan de" "Sus mana Mom?" Jennie menuntun anaknya untuk duduk bareng bersama suami juga putri sulungnya. "Mommy sus mana~" rengek Lisa yang tadi dihiraukan Jennie. "Sus resign de, katanya gamau lagi ngurusin bayi gedenya"
