Disarankan baca part sebelumnya dulu...
Satu bulan telah berlalu sejak badai yang meluluhlantakkan kedamaian keluarga Kim berakhir. Kehidupan di kediaman Kai dan Jennie perlahan-lahan merangkak kembali menuju ritme yang disebut "normal".
Namun, normal bagi mereka kini memiliki definisi yang berbeda. Normal berarti tidak lagi mendengar deru mobil polisi di halaman, tidak ada lagi kilatan lampu kamera wartawan di depan gerbang, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayang-bayang Taehyung yang menghantui setiap sudut pikiran.
Taehyung telah dijatuhi hukuman maksimal. Kejatuhannya membawa serta seluruh intrik yang sempat mencekik keluarga ini. Tidak ada lagi musuh dalam selimut. Segalanya benar-benar telah usai. Namun, bagi Jennie, memenangkan peperangan hukum hanyalah separuh dari perjuangan. Perjuangan yang sesungguhnya adalah menyembuhkan trauma yang tertinggal di dalam hati putri bungsunya, Lisa.
Pagi itu, Jennie terbangun oleh cahaya matahari yang masuk malu-malu melalui celah gorden sutra di kamar utama. Di sampingnya, Lisa masih terlelap. Gadis kecil itu masih sering meminta tidur di antara Daddy dan Mommy-nya. Jennie memperhatikan wajah Lisa yang tenang. Tidak ada lagi gurat kecemasan atau napas yang tersengal pendek karena syok.
Jantung Lisa yang secara fisik dinyatakan stabil oleh Yoona kini berdetak dengan ritme yang teratur, seolah sedang memainkan melodi kedamaian.
Jennie mengusap rambut halus Lisa, merasakan kehangatan yang menjalar di jemarinya. Ia teringat malam-malam di mana ia harus terjaga hanya untuk memastikan Lisa masih bernapas. Kini, melihat Lisa tidur begitu nyenyak adalah sebuah kemenangan besar bagi Jennie.
Kai masuk ke kamar dengan langkah sepelan mungkin, membawa aroma kopi yang harum dan baki berisi sarapan. Ia melihat Jennie sudah terjaga dan tersenyum lembut ke arahnya. Kai meletakkan baki itu di meja samping tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang, memerhatikan dua wanita kesayangannya.
"Dia tidak terbangun semalam," bisik Kai, suaranya parau khas orang yang baru bangun tidur namun penuh dengan kelegaan.
Jennie mengangguk kecil. "Ini malam ketiga berturut-turut tanpa mimpi buruk. Aku rasa terapi seninya benar-benar membantu."
Kai mengusap punggung tangan Jennie. Sebagai seorang ayah, Kai sempat melewati fase di mana ia ingin membungkus rumah mereka dengan baja. Ia sempat memasang CCTV di setiap sudut, bahkan di lorong-lorong yang jarang dilewati, sampai Jennie harus menegurnya karena rumah mereka mulai terasa seperti penjara daripada tempat tinggal.
Kini, Kai mulai belajar untuk sedikit melonggarkan kendali. Ia menyadari bahwa perlindungan terbaik bagi Lisa bukanlah kamera pengawas, melainkan rasa aman yang tumbuh dari dalam diri anak itu sendiri.
Lisa menggeliat, hidung mungilnya kembang kempis menghirup aroma makanan. "Wangi pancake cokelat..." gumamnya dengan mata yang masih terpejam.
Kai terkekeh, ia membungkuk dan mencium pipi Lisa dengan gemas. "Bangun, Tuan Putri. Daddy sudah buatkan pancake bentuk Leo kesukaan Adek."
Lisa membuka matanya, disambut oleh tawa Daddy-nya dan senyum hangat Mommy-nya. Pagi itu, tawa pecah di kamar utama. Tidak ada lagi masker oksigen yang disiapkan di samping bantal, tidak ada lagi kecemasan yang menggantung di udara. Hanya ada keluarga yang sedang berusaha saling menguatkan.
Lisa segera bangkit dari posisi berbaringnya, rambutnya yang sedikit berantakan tidak mengurangi keceriaan yang terpancar dari wajahnya pagi itu. Ia langsung merangkak menuju baki sarapan, namun sebelum jemari kecilnya menyentuh piring, Jennie dengan lembut menahan tangannya.
"Cuci muka dan gosok gigi dulu, Sayang. Baru boleh sarapan," tegur Jennie lembut sambil mencubit hidung Lisa.
"Tapi Daddy sudah buatkan bentuk Leo, Mom! Nanti kalau dingin, Leo-nya sedih," jawab Lisa dengan alasan khas anak-anak, membuat Kai tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Light
Fanfiction"Pelan-pelan de" "Sus mana Mom?" Jennie menuntun anaknya untuk duduk bareng bersama suami juga putri sulungnya. "Mommy sus mana~" rengek Lisa yang tadi dihiraukan Jennie. "Sus resign de, katanya gamau lagi ngurusin bayi gedenya"
