"Kenapa lewat sini?"
Sora melirik Kylo saat mobil mereka membelok ke jalur servis sekolah—jalan sempit di belakang gedung auditorium yang biasanya cuma dipakai truk katering atau guru-guru yang datang terlalu pagi. Aspal masih basah oleh sisa hujan subuh. Pohon-pohon ketapang meneteskan air ke kaca mobil seperti jam pasir yang bocor pelan.
Kylo tidak langsung menjawab. Ia menurunkan kaca sedikit, menempelkan kartu akses ke sensor di dekat gerbang besi.
Palang terbuka otomatis.
Padahal akses itu nyaris tidak pernah ia pakai. Sebagai Ketua OSIS, Kylo punya hak parkir di area belakang sekolah. Tapi dia benci area itu. Terlalu banyak guru sok akrab, terlalu banyak pegawai sekolah yang suka bertanya macam-macam.
"Banyak wartawan di pintu depan katanya. Gue males." Kylo menyahut datar.
"Wartawan? Kenapa wartawan sampai peduli banget sama acara anak SMA?"
Sora merasa ini terlalu jauh. Iya Ramuna Group membatalkan sponsorship, tapi bagaimana pun ini kan cuma acara anak SMA.
"Bukan gara-gara event," sahut suara lain tiba-tiba. "Gara-gara Regy."
Sora dan Kylo sama-sama menoleh kaget.
Pintu mobil bahkan belum sempat ditutup Kylo ketika Pram muncul dari sisi parkiran, rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat seperti orang yang belum tidur semalaman.
"Mas Pram?" Kylo mengerjap. "Ngapain di sini?"
Namun Sora tidak terlalu peduli soal keberadaan Pram. Matanya otomatis menyapu sekitar, mencari satu sosok lain.
Tidak ada.
"Regy mana?" tanyanya cepat, nyaris tanpa jeda. Kekhawatiran yang sejak semalam ia tekan akhirnya bocor juga. Pesannya ke Regy masih centang satu.
Pram mendecih sambil memijat pelipis. "Kalau gue tahu dia di mana, gue nggak bakal muter-muter nyari mobil gue dari tadi pagi."
"Dia bawa mobil lo?" Kylo mengangkat alis.
"Dari kemarin."
Sebelum Sora sempat mencerna itu, Kylo sudah lebih dulu menanyakan hal yang lebih penting.
"Kenapa wartawan nyariin Regy?"
Perut Sora langsung terasa dingin.
Pram tertawa pendek, tapi tanpa humor. "Karena anak itu baru deklarasiin perang ke ibunya."
"Perang?"
"Dia mindahin hak pengelolaan warisan ke ayahnya."
Kalimat itu menggantung beberapa detik sebelum benar-benar masuk ke kepala mereka.
Kylo mengerutkan dahi. "Ayahnya?"
Kalau dipikir-pikir, Regy memang nyaris tak pernah bicara soal ayahnya. Kadang cuma menyebut sepintas—ayahnya di rumah, ayahnya lagi pergi, ayahnya lagi sibuk. Tidak pernah lebih dari itu.
Media juga nyaris tak pernah menyinggung keberadaan pria itu. Seolah sosoknya sengaja dihapus dari narasi keluarga Ramuna.
Pram menangkap kebingungan mereka.
"Ayah Regy masih hidup," katanya datar. "Kalau itu yang kalian pikirin."
"Kami tahu," sahut Kylo cepat. "Tapi kenapa pemindahan hak warisan bisa bikin wartawan ngejar sampai sekolah?"
Pram menghela napas panjang. "Karena selama ini ibunya Regy yang pegang kendali semuanya. Secara teknis, keputusan Regy tadi malam bikin posisi Dahlia bisa dilengserkan kapan aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Novela JuvenilIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
