Jakarta tengah malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang seperti ikut menahan napas bersama Pram. Lampu-lampu jalan berpendar pucat di atas aspal basah, memanjang di kaca depan mobil seperti garis-garis takdir yang buruk. Di balik kemudi, napas Pram pendek-pendek. Detak jantungnya berantakan, tidak sinkron dengan deru mesin yang ia paksa meraung di jalanan lengang.
Di lampu merah berikutnya, sebuah Honda Civic modifikasi murahan berhenti tepat di sampingnya.
Knalpotnya meraung berlebihan. Lampu depannya menyilaukan. Pengemudinya menoleh, mengangkat dagu, lalu menggeber mesin sekali lagiâ€"jelas sekali menyangka Pram sedang mencari lawan balapan.
Dalam kondisi normal, Pram mungkin akan mengabaikannya.
Malam itu, Pram mengamini tantangan bodoh tersebut.
Begitu lampu berubah hijau, ia menginjak pedal gas dalam-dalam.
Dan kalah.
Honda Civic itu melesat lebih dulu, meninggalkan Pram bersama asap knalpot, deru menjengkelkan, dan rasa terhina yang entah kenapa tetap sempat menyelinap di tengah krisis hidup-mati.
"Aaarrrgh!"
Pram mengerang frustrasi sambil menggebuk setir. Baru ketika telapak tangannya menghantam bagian tengah kemudi, matanya menangkap logo mobil di tombol klakson.
Ia terdiam sepersekian detik.
Sial.
Ini mobil Regy.
Dan ia tidak sedang mengebut karena ingin membuktikan maskulinitas murahan di jalan raya. Ia sedang mengebut karena, secara sangat tidak masuk akal, ia mungkin sedang berusaha menyelamatkan nyawa bosnya.
"BALIKIN MOBIL GUE, GYYY!" lolong Pram dari dalam kabin mobil yang terlalu kedap untuk membiarkan dunia luar mendengar penderitaannya.
Mobil Regy ia ambil atas seizin ayahnya. Setelah mentalnya sempat remuk karena diledek turun dari ojek oleh resepsionis gedung, Pram menolak mengambil risiko apa pun malam ini. Tidak dengan ojek. Tidak dengan taksi. Tidak dengan kendaraan yang membuatnya tampak miskin, lemah, atau mudah diremehkan.
Apalagi orang yang akan ia hadapi adalah wanita gila itu.
Vira.
Ibu dari Sora dan Kylo.
Sejak pertama kali melihat Vira, Pram sudah memiliki firasat buruk. Ada sesuatu yang salah dari wanita itu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata "intimidatif" atau "berbahaya". Dulu, Dahlia pernah mengutus Pram untuk menemui Vira karena tidak setuju Regy berteman dengan Kylo. Saat itu, Pram datang dengan keyakinan seorang pengacara korporat yang terbiasa bernegosiasi dengan manusia-manusia bermasalah.
Ia pikir Vira hanya ibu-ibu biasa.
Ibu-ibu yang bisa diajak bicara baik-baik.
Ibu-ibu yang akan gentar begitu nama Dahlia disebut.
Pram salah besar.
Vira adalah titisan Harley Quinn.
Bukan versi romantis yang bisa dijadikan estetika kaus atau poster kamar. Bukan. Vira adalah jenis kekacauan yang tampaknya sengaja diturunkan Tuhan untuk menghadapi kecongkakan umat manusia akhir zaman. Gila, tidak kenal takut, chaotic, dan tindakannya mustahil diprediksi.
Yang membuatnya lebih mengerikan, Vira tidak hanya gila.
Ia pintar.
Tentu saja ia sangat pintar. Wanita itu melahirkan seorang Kylo. Gen semacam itu tidak mungkin muncul dari rahim orang biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Teen FictionIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
