Dont Wanna Know

251 25 6
                                        

"Oppa aku mau pergi!"

"Hei kau harus tetap disini!"

"Aku tidak mau!"

"Jung Hyeri, jangan membuatku kesal! Ada apa denganmu?"

"Jangan biarkan dia melihat aku!!"

"Siapa sih yang kau maksud?!"

Hyeri dan Taekwoon sedang bertengkar mempertahankan pendapat masing-masing, ketika tiba-tiba Ravi terbangun. Ia mengerjapkan mata tidak mengerti, dan lebih heran lagi saat terbangun di tempat asing.

"Maaf gue ganggu kalian," Ravi berdeham. Menghentikan pertengkaran dua kakak beradik itu. "Tapi kenapa gue ada disini?"

Hyeri langsung bersembunyi di balik badan sang kakak. Berharap Ravi tak melihatnya.

"Kamu terluka parah." jawab Taekwoon singkat. Hei, harusnya dia yang bertanya "siapa kamu?" pada Ravi kan?

"Well..." Ravi kembali mengingat kejadian kacau di rumahnya. "Memangnya ini dimana?"

"Rumah keluarga Jung." lagi-lagi Taekwoon menjawab. "Aku sendiri tidak tahu untuk alasan apa ibuku membiarkan mu masuk. Jadi, jangan bertanya apa-apa lagi. Tunggu sampai ibuku datang, ya."

Keluarga Jung? Ini... Keluarga yang dipercayakan bapaknya untuk tempat tinggal sementara Ravi? Bahkan kamar tamunya tak lebih besar dari kamar mandi mewah di rumah Ravi.

Namun Ravi hanya mengendikkan bahu dan kembali berbaring.

"Dan kamu," Taekwoon berbalik menghadap Hyeri. "Oppa tak ada waktu lagi untuk bercanda. Ibu mempercayakan tamu kita pada mu selama ibu pergi, jadi rawat lah dia."

"I- ibu pergi kemana?!" tanya Hyeri takut-takut.

"Tenang lah, cuma ke swalayan membeli beberapa bahan untuk Cafe. Takkan lama." Taekwoon menepuk bahu Hyeri. "Aku pergi ya?"

Tidak! Jangan tinggalkan aku dengan si berandal!

Namun Hyeri hanya mengangguk lemah. Keputusan kakaknya tak bisa di ganggu gugat, karena jika ia sudah bersikap tegas Hyeri tak bisa apa-apa.

Hyeri mengantar sang kakak keluarga gerbang, dan menatapnya saat melaju menggunakan motor balapnya. Hyeri kembali dan mengambil baskom air hangat dan handuk baru karena yang lama ia tumpahkan.

"Mungkin tadi Ravi belum lihat wajahku. Sebaiknya aku menutupinya dengan masker." Hyeri memakai masker yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Kemudian ia menuju ke kamar tamu dan menghampiri Ravi.

Ravi terdiam, memandang Hyeri yang masuk sambil membawakannya kompres. Ia tak protes saat Hyeri beringsut mendekat dan mulai membersihkan lukanya dengan handuk basah.

"Ehem." Hyeri pura-pura batuk. Ia berusaha terlihat se normal mungkin- padahal tangannya sudah gemetaran.

"Gue kayak pernah lihat lo." gumam Ravi.

Duar! Hyeri panik.

"Di- dimana?!"

"Di sekolah, lah. Itu kan seragam sekolah gue." tunjuk Ravi pada pakaian yang dipakai Hyeri. Hyeri menunduk dan menjadi salah tingkah.

Percuma Hyeri pakai masker... Seragamnya belum ia ganti dengan baju biasa! Penyamarannya bisa terbongkar.

"Lo gak kenal gue?" Ravi menaikkan alisnya.

Hyeri menggeleng cepat. Keringat dingin mulai mengucur di keningnya.

"Aneh.. Padahal gue paling beken di sekolah." Ravi tersenyum menggoda. "Lo kalo di sekolah sembunyi di bagian mana sih? Sudut perpus? Masa sampai gak kenal gue."

(On Hold) Lovely GengstaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang