Crazy Over You

208 24 3
                                        

Jadi~ kemarin itu...

Hyeri menghembuskan napas. Manik mata coklatnya melirik keluar jendela dengan gugup, tak mau menatap kearah coffee bar. Tepatnya disana ada seorang lelaki bersurai biru sedang asyik bereksperimen dengan mesin kopi.

Ada sesuatu mengganggu di benak Hyeri. Sejak kejadian kemarin sore di pipa, ia jadi tak bisa tidur walaupun sangat mengantuk. Tak berselera makan walaupun lapar. Semua karena Ravi~

Memori diingatannya terus berputar seperti rol film. Walaupun ia dapat mengingat dengan baik, tapi ada satu bagian yang menghilang.

Ravi terus mendekat. Saat itu juga Hyeri makin mundur sampai posisinya terimpit diantara dinding pipa dan tangan kokoh Ravi. Tangan itu menahan pinggang Hyeri sedang satunya menyentuh leher.

Tentu saja Hyeri merasa terpojok. Matanya melebar dan napasnya tertahan. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Apalagi tawa kecil yang keluar dari mulut Ravi membuat Hyeri speechless.

"Izinkan gue..."

Satu hal yang membuat Hyeri termangu ketika wajah Ravi semakin mendekat. Jaraknya sempit dan makin pendek, pikiran Hyeri kalut sampai ia memilih untuk memejamkan mata.

Terpejam dan menunggu apa yang akan terjadi... Sungguh menyiksa. Perut Hyeri seperti tergelitik ribuan kupu-kupu berterbangan, dan perlahan mereka membuncah ke dadanya.

Tunggu, ia tak dapat merasakan apapun. Tidak ada yang terjadi ya? Tapi Hyeri tak berani mengakhiri ini. Membayangkan ketika nanti ia membuka mata, pria dihadapannya tersenyum lebih parahnya lagi tertawa. Hyeri bisa gila dan tak mampu bertatap muka dengan Ravi jika seperti itu.

"Lo udah bisa buka mata kok."

Huuufffftttt~ Hyeri menggeleng-geleng untuk kesekian kalinya. Sampai disitu saja, dan Hyeri tak dapat menyimpulkan apa-apa. Apakah ia sudah melakukan kisseu dengan Ravi atau tidak?

Kalian berpikir Hyeri terlalu geer dan berharap Ravi akan.. Ehem.. Menciumnya? Tentu saja bukan begitu!! Namun Hyeri juga tak sepolos anak kecil yang tidak tau tabiat pria.

Pokoknya semua ini begitu memusingkan bagi Hyeri.

"Unnie, kenapa kau melamun saja?" Hyeah duduk di hadapan Hyeri sambil mendekap buku menu.

"Hyeah! Sejak kapan kau disana?" sontak Hyeri.

"Barusan kok... Memangnya aku seseram hantu sampai unnie kaget?" Hyeah cekikikan.

"Bukan begitu, hanya saja... Anu, gimana ya?" Hyeri meringis.

"Pasti unnie lagi kepikiran sesuatu sampai-sampai tak fokus begini."

"Jinjja? Tapi aku fokus, kok." elak Hyeri. Matanya mengerling kearah lain dan tak sengaja bertubrukan dengan mata Ravi. Sesaat mereka bertatapan dari jauh lalu Ravi melambaikan tangan. Hyeri langsung melengos seperti tak pernah mengenal pria itu.

"Aih, sepertinya aku tau.." desis Hyeah misterius. "Ada sesuatu diantara kau dan Ravi oppa?"

"Sesuatuu?!" pekik Hyeri kaget. Ia tak dapat mengontrol volume suaranya sampai tiba-tiba berteriak membuat beberapa pelanggan menoleh.

"Iya unn.. Sesuatu yang terdiri dari lima huruf, huruf pertamanya adalah C dan yang terakhir A." Hyeah menahan tawa melihat ekspresi syok Hyeri.

"Sedang main tebak-tebakan? Oh, itu gampang sekali. C I N T A!" Seru Ravi, ia muncul diantara Hyeri dan Hyeah tiba-tiba.

Hyeri memegang dadanya, memanjatkan doa agar ia tak terkena serangan jantung. Daritadi ada saja yang membuatnya kaget!

"Hei, lo harus coba ini. Gue sendiri loh yang buat." Ravi menunjukkan secangkir kopi ditangannya kepada Hyeri.

"Woaah.. Ada gambar hati-nya!" seru Hyeah. Ravi tersenyum bangga.

"Tadi gue coba-coba yang kayak barista di TV. Bisa kan?" kali ini ia menyodorkannya tepat di depan wajah Hyeri. Hyeri membulatkan mata, milk foam berpola hati di permukaan kopi itu mengenai hidungnya.

"Apaan sih?" Hyeri bergumam sewot.

"Ini spesial buat lo." ucap Ravi singkat sebelum ia berbalik ke belakang meja coffee bar.

"Ehem.. Ehem.." Hyeah menyikut lengan Hyeri sambil berdeham penuh arti. Hyeri hanya dapat memandang secangkir kopi dihadapannya, tak berani menyentuh apalagi meminumnya.

***

Ravi menoleh kesana-kemari untuk mencari Hyeri. Kemana sih anak itu? Di kelasnya, tidak ada. Di perpustakaan, tidak ada. Taman, juga nihil. Masa sih Ravi harus mencari di toilet wanita?

Beberapa orang di depan mading menghalangi jalannya. Ravi heran, mading tak pernah sepi pengunjung. Ada saja murid-murid yang penasaran dan berkerumun. Kini sama saja seperti kantin yang penuh karena para murid yang kelaparan.

Tapi ramainya mading juga membuat Ravi tertarik. Ia mendekat, jangan-jangan ada berita tentang dirinya lagi? Semoga tidak.

"A Running Couple? Lomba lari sprint jarak jauh menyusuri area Sungai Han, sambil membawa pasangannya? Piggy-back?" gumam Ravi membaca selebaran di mading.

"Hadiahnya... Aje gile, 1 juta won? Banyak banget!" Ravi berdecak kagum. Kalau ia bisa mengikuti lomba ini, tentu dirinya bisa dapat banyak keuntungan.

Ravi mundur dari kerumunan dan kembali mencari Hyeri. Kali ini langkahnya makin lebar, karena ia sudah tak sabar memberitahu Hyeri tentang lomba lari itu.

"Hyeri!" seru Ravi. Namun mulutnya segera membungkam saat melihat Hyeri sedang bersama Hongbin dari kejauhan.

"Ada apa?" tanya Hyeri setelah Hongbin berlalu.

"Lo darimana aja?" Ravi menatap tajam punggung Hongbin yang menjauh.

"Aku dari kantin."

"Sama Hongbin?"

"Ya.. Memang kenapa?"

"Gapapa." Ravi berdeham. "Eh, ada yang pengen gue kasih tau. Lo udah liat mading?"

Hyeri mendongak sambil berpikir. "Oh ya, udah kok."

"Gimana menurut lo kalo kita ikut lomba lari yang ada di mading?"

"Eumm.. Ravi, sebenarnya Hongbin yang lebih dulu memintaku menjadi pasangannya. Ia juga ikut lomba lari itu." Hyeri berkata gugup.

"Apa???" Ravi melongo. Ia tak menyangka sudah didahului Hongbin. Hyeri mengusap pipinya sendiri sambil menunduk.

"Terus, lo pilih siapa?"

"Aku tidak berhak memilih, karena Hongbin yang berkata lebih dulu kan?" Hyeri membetulkan kacamatanya yang melorot.

Ravi mendengus keras. Tak bisa menerima kenyataan, dan sudah down bahkan sebelum bertanding di lomba itu. Tanpa Hyeri disampingnya... Seperti masakan tanpa garam.

Sekarang Hyeri seperti kebutuhan pokok bagi hidupnya.

"Gak apa-apa kan, Ravi? Lagipula kau bisa cari murid perempuan lain. Siapa yang tak mau digendong kamu?" Hyeri tertawa gugup.

Ravi mengangguk pelan. Pandangan matanya menatap Hyeri dengan sayu tanpa wanita itu sadari. "Oke. Gue cari yang lain aja."

"Yaudah, gue duluan ke kelas ya." Ravi berbalik dan berjalan lunglai. Hyeri memandangnya dari jauh. Ingin rasanya ia mengejar Ravi, tapi setelah itu apa yang akan ia katakan?

Rasa sakit dihati karena habis menolak ajakan Ravi?

Hyeri takkan berani mengatakannya. Bahkan memikirkannya sudah membuat Hyeri pusing.

"Maafkan aku Ravi."

To Be Continued

* @yoon-hana akhirnya bisa update jugaa~ lagi krisis ide, beberapa kali ngetik lalu dihapus lagi membuatku pusing XD maaf kalo ada kekeliruan dan salah paham saat baca ini hehehe

(On Hold) Lovely GengstaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang