Lovey Dovey Game

221 19 6
                                        

Ravi heran menatap gadis di depannya tampak sangat kelelahan. "Lo kenapa sih?"

Hyeri mendongak, tersengal-sengal. Bahkan ia kesusahan untuk sekedar bicara.

"Heh? Kayak abis di kejar hantu aja."

"Capek banget, tadi aku mengejar pemasok yang membawa buku-buku keluar perpustakaan."

"Idih! Ngapain lo kejar? Naksir?"

Hyeri meliriknya sinis. Apa sih? Orang lagi kecapean malah melawak.

"Dia kelupaan satu kardus buku jadi aku harus menyusulnya."

Ravi terkekeh geli melihat wajah nelangsa itu. Meski sedang merengut, kenapa tetap terlihat imut?

"Biar gak sumpek gue ajak jalan-jalan deh."

"Ah ... Tidak terima kasih. Aku mau pulang, segera mandi dan tidur!"

"Jalan-jalan di alam mimpi?" Giliran Ravi yang bete.

"Nah itu kau tau. Yuk pulang!" Ajak Hyeri. Ravi melangkah malas di belakangnya.


"Oppa tumben kau ada di rumah?" Tanya Hyeri begitu sampai di rumah.

"Memangnya tak boleh?"

"Jangan-jangan kau bolos kuliah. Aku adukan ke ibu!" Hyeri berlari menuju dapur.

"Ibu sedang tak ada di rumah~" jawab Taekwoon santai. Hyeri langsung menginjak rem di kakinya, bahkan membuat lantai berdecit.

"Kan ada telepon. Aku telepon ibu!"

Taekwoon langsung menangkap adik gadis nya sebelum sempat meraih telepon. "Hari ini sangat penting! Aku akan menembak Hyeah."

Mulut Hyeri membentuk huruf O. "Benarkah?"

"Ya, aku sudah menyiapkan rencana dengan matang. Jadi jangan merusaknya!"

Hyeri merengut. "Sejak ada wanita yang kau sukai, kau jadi galak padaku. Aku sedih, tau tidak?"

Taekwoon mencubit pipi Hyeri. "Adikku yang manis, oppa minta maaf ya. Kau mau menitip sesuatu saat aku pergi?"

"Coklat! Yang besar dan berbentuk hati."

"Kau ini tak mau kalah ya?" Taekwoon mengacak-acak rambut Hyeri. Sedangkan Hyeri hanya tersenyum lebar.

Setengah jam kemudian, sang kakak telah rapi juga necis. Ia pergi dengan motor balapnya, meninggalkan Hyeri di tengah keheningan. Hyeri mulai mengantuk dan memutuskan untuk tidur.

"Whoaaa!!" Hyeri dikejutkan dengan Ravi yang muncul dari dapur.

"Lo laper gak?"

Hyeri membelalak melihat Ravi. Pria itu memakai apron sambil bawa pisau.

"Eh, maaf-maaf. Gue gak bermaksud nodong lo pake pisau." Ravi menyembunyikan di balik punggung nya.

"Kamu sedang apa sih?"

"Ini gue lagi .... "

"Kamu lagi masak? Memang bisa ya? Pft" Hyeri menahan tawa.

"Eits, jangan menghina gitu dong. Spesial nih buat lo ... Dan lo wajib nyobain."

Ravi mendorong Hyeri ke dalam dapur. Sedikit memaksa agar gadis itu duduk manis di meja makan. Kemudian ia kembali dengan dua piring spagetti.

"Spagetti bolognese ala mister Ravi is ready to serve~"

Hyeri tertawa. "Ada yang kurang, loh."

"Apa?" Ravi duduk di seberang meja. Mereka kini berhadapan.

(On Hold) Lovely GengstaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang