4 - Si Culun

26.3K 1.1K 105
                                        

Beberapa tahun kemudian gue tamat SD. Pisah dengan Jerry dan teman-teman lainnya. Kita punya pilihan berbeda-beda untuk lanjut ke SMP.

Pilihan gue jatuh ke salah satu SMP favorit di kota gue. Masih sama seperti dahulu, gue anak yang cupu, kutu buku dan penyendiri.

Dengan rambut setengah kribo, bandana warna-warni, rok di bawah lutut dan kaos kaki sampai ke paha. Seniorpun kalau ngelihat gue pasti rasanya pingin bully.

Tiap gue duduk di bangku terdepan pasti teman gue yang di belakang pada protes karena rambut gue yang Aduhai ini menghalangi pandangan mereka.

Sebenarnya rambut gue ini multifungsi, bisa di pakai buat nyembunyiin kertas contekan, bisa buat ngegantung pensil maupun bolpoin.

Kalo dibilang kribo sih nggak rambut gue nih mirip iklan shampoo tapi di bagian before nya. Mungkin pada takut deketin gue karena dikira zombie. Gue nggak mau ngomong kalau nggak di tanya. Tiap bel pelajaran gue langsung lari ke perpustakaan.

Gue tertarik dengan buku mitologi yunani. Semua buku berkisah tentang sejarah Yunani gue baca walaupun gagal paham. Kisah tentang dewa-dewi zaman Yunani kuno yang sampai sekarangpun tak bisa kupahami.

Selain nongkrong di perpustakaan, gue paling duduk-duduk di kelas sambil perhatiin temen-temen gue lari-larian di kelas.

Saat pembagian lembaran kertas pilihan ekstrakulikuler. Gue bingung banget tuh milih dua ekstrakulikuler apa yang bakalan gue ikutin.

Pilihanpun jatuh pada kelas bina vokalia dan karya ilmiah remaja. Namun pada kelas bina vokalia, banyak sekali peminatnya sehingga harus diseleksi.

Dengan penuh rasa deg-degan gue nyanyi di depan seluruh teman-teman yang audisi. Dan apa kalian tau hal yang terjadi selanjutnya?

Mentor menghentikan lagu yang gue nyanyiin. Saat itu gue nyanyi "Desaku yang kucinta" dengan penghayatan yang luar biasa tapi apa daya dia berkata, "Katt, sebaiknya kamu cari ekskul lain."

Aishsyappp! Gue diusir depan teman-teman gue. Dengan berat hati gue berusaha tersenyum dan pamit pergi.

Tapi dari situ gue belajar sakitnya penolakan! Gue nggak diem aja terus mewek. Ntar aja gue pending meweknya di rumah, malu lah kalau di sekolah. Masih untung karya ilmiah nggak diseleksi juga. Jadi gue udah ngantongin ekstrakulikuler satu, masih perlu satu lagi ekskul tambahan.

Lalu, gue daftar jadi vokalis band di sekolah. Kebetulan band sekolah butuh penyanyi. Gue gak peduli meski abis diusir dari Bina vokalia, gue sih modal nekat aja. Dengan sedikit pemaksaan dan muka memelas, gue pun diterima jadi vokalis band.

Gue sadar sih sebenarnya suara gue pas-pasan. Pas buat kuping berdenging. Nada kemana suara kemana. Tiap latihan kayanya nggak pernah beres. Entah suara gue yang nggak pas nada atau nadanya yang nggak bisa ngikutin suara gue.

Kayanya sih gue bikin kesel gitaris, pianis sama drumernya deh. "Katt lo mau nggak gue anter pulang?" kata Bob si gitaris sewaktu kita masih latihan.

Gue rasa ini gitaris udah nyerah denger suara gue. Pingin ngusir gue nih ceritanya. "Nggak, gue naik bis aja." Gue menghentikan nyanyian gue  dan beranjak pergi.

"Eh gue dapat kabar dari supir bus katanya semua bus dan angkutan umum demo dan diliburkan semua hari ini!" seru Bob namun nggak gue peduliin. Gue tetep aja pergi. Kesel juga gue, diusir-usir mulu kalau nyanyi.

My (Ex) Boyfriend Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang