Sepulang dari Singapur, gue kembali ke rutinitas seperti biasa. Namun kali ini ada yang berbeda, Steve mulai lebih berani mendekati gue.
Setiap hari selalu saja gue tolak ajakan dia. Entah ngajak makan, ngajak pulang bareng atau ngajak jalan-jalan.
Lama-lama gue makin dibuatnya illfeel. Gue jadi takut sama dia, sepertinya gue nyerah. Gue nggak mau satu kerjaan dengan dia.
Sudah 2 tahun gue bekerja di pabrik farmasi. Tiba saatnya perpanjangan kontrak kerja, gue dipanggil HRD dan saat itulah gue putuskan untuk tidak melanjutkan bekerja disitu lagi.
Gue nggak jelasin alasan sebenarnya gue berhenti kerja. Jujur saat itu gue pingin ngehindar dari Steve, gue sudah merasa tidak aman lagi.
Gue diwajibkan menyelesaikan kewajiban selama sebulan, barulah diperbolehkan keluar. Gue rasa keputusan yang gue ambil tepat.
Seminggu setelah kejadian gue menghadap ke HRD, dekat kos-kosan yang gue tinggali digrebek densus 88. Tetangga seberang kos ternyata teroris. Seorang ditangkap, seorang lagi masih buron. Ditemukan 22 bom rakitan dalam kamar dan 10 diantaranya aktif.
Selama tiga hari anggota densus 88, memantau kondisi TKP dan sekitarnya. Mewawancarai warga sekitar dan melakukan pembersihan. Tak selang berapa lama, teroris yang menjadi buronan telah diamankan.
Gue harap kejadian ini nggak keulang lagi. Bener-bener sudah nggak aman lingkungan yang gue tinggali sekarang ini. Makin bulat keputusan gue untuk keluar dari tempat kerja gue. Meskipun gue sama sekali tidak ada masalah dalam hal pekerjaan.
Masalah lingkungan sekitar yang menurut gue nggak aman serta sosok makhluk bernama Steve yang bikin gue nggak sanggup lagi melanjutkan kontrak kerja di tempat itu.
Gue pun hubungi Adi, gue berharap ada solusi terbaik darinya. Akhirnya Adi menyetujui gue buat pindah kerjaan.
Benar saja, gue langsung kirim-kirim lamaran. Gue diterima di pabrik kosmetik di Semarang dan pabrik farmasi di Solo.
Setelah gue timbang-timbang, gue terima kerja di pabrik farmasi Solo. Lagi-lagi gue kerja di farmasi.
Gue masa percobaan dulu selama setahun disana. Banyak sekali ilmu baru yang bisa gue dapat disana dan gue merasa waktu begitu cepat dan tak terbuang sia-sia, karena padatnya kerjaan gue yang baru ini.
Enam bulan kemudian kembali timbul masalah. Adi menghubungi gue, dia bilang bahwa dirinya sudah dimutasi ke Jakarta. Dia minta gue untuk nyusul dia dan cari kerja disana. Adi ingin lebih serius dan berencana nikahin gue.
Disatu sisi gue bahagia, namun gue baru bekerja 6 bulan di tempat baru. Masa gue harus keluar lagi dan cari kerjaan baru. Mulai stres gue disitu. Bingung keputusan apa yang harus gue ambil.
Saat gue beri tahu hal ini ke ayahanda dan ibunda. Bunda sangat menyetujui keinginan gue dan Adi karena bunda sudah nggak sabar menimang cucu. Sedangkan ayahanda belum berkata apa-apa.
Masalah satu belum selesai timbul lagi masalah lain. Cukup buat kepala gue pusing tujuh keliling.
Marco! Dia kembali dari Zimbabwe dan sekarang ia sudah berdiri tepat di depan pagar rumah gue.
Ayah dan bunda sudah mengenal Marco. Ortu gue justru menyambutnya dengan hangat.
Saat ortu gue sudah meninggalkan kami berdua di teras. Gue mencoba membuka pembicaraan,"Ngapain lo kesini?"
"Sewot banget sih! Harusnya lo seneng dong, gue kembali! Ini oleh-oleh dari Zimbabwe." Marco menyerahkan sebuah kalung bebatuan, dia bilang kalung itu bisa melancarkan peredaran darah dan susah didapatkan.
"Thanks." Jawab gue singkat.
"Gue sekarang udah jadi lawyer di Jakarta Pusat," katanya lagi.
"Ehm baguslah. Selamat ya! Bukannya itu cita-cita lo dari dulu."
"Ya udah gue mau to the point aja deh. Gue pingin ngajak lo balikan. Kita mulai dari awal lagi. Gue udah berubah kok. Gue nggak bakal kecewain lo. Kalau lo mau tahun ini kita menikah!" kata Marco dengan penuh keyakinan.
"Gue udah punya pasangan! Dulu gue memang sayang banget sama lo. Bahkan untuk move on dari lo, gue butuh waktu berbulan-bulan lamanya. Tapi sekarang gue udah menemukan pasangan hidup gue. Gue nggak mau khianatin dia." Jelas gue tegas.
"Ok gue nggak bakal maksa, gue harap lo nggak salah pilih. Gue nggak mau lo nyesel nantinya." Marco lalu pamit pulang dan sejak saat itu kita benar-benar hilang komunikasi.
Saat gue sudah memutuskan untuk mencintai seseorang. Gue bakalan menjaga perasaannya. Gue nggak akan khianati Adi. Meskipun banyak hambatan saat kita menjalin hubungan, cinta gue nggak akan pudar pada Adi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My (Ex) Boyfriend
ComédieKumpulan kisah kegilaanku di masa lalu.... Dalam revisi... Maaf jika nama-nama pemain diganti untuk menjaga privasi. 😊 #3 in humor (02.02.17)
