39 - Keputusan Yang Berat

9.1K 532 11
                                        

Gue ngerasa hidup gue ada yang kurang. Tiap pulang ke kos yang gue tatap cuma tembok. Tanpa temen ngobrol, keselpun cuma bisa teriak-teriak ke tembok.

Gue sempet kepikiran, apa gue harus nikah aja ya. Tapi siapa yang mau nikahin gue? Pacar aja udah gue putusin. Gue malu ngakuin, tapi sejujurnya gue sangat merindukan Adi.

Sempat Adi telpon namun ga gue angkat. Sebenernya gue kesepian, tapi ya gitu. Gue gengsi!

Gue udah berusaha keras agar bisa move on namun gue gagal! Dalam hati kecil gue berharap bisa mengulang kembali masa indah bersama Adi. Waktu 5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Sudah banyak sekali memori yang terekam dan sulit dihilangkan.

Tiap gue memikirkan Adi, air mata gue pasti tanpa disadari menetes. Apalagi saat gue inget waktu dia magang di Bengkulu bertepatan dengan wisuda gue. Dia sempatin pulang walau menempuh perjalanan 3 hari 3 malam di bus. Gue dibawakan buket bunga mawar saat Adi hadir di wisuda gue. Hanya sehari kita bertemu lalu malamnya dia kembali ke bengkulu, menempuh perjalanan 3 hari 3 malam lagi.

Mana mungkin gue bisa lupa hal semanis itu. Setiap ulang tahun, gue selalu diberi kejutan dan hadiah spesial oleh Adi. Dia benar-benar pria romantis dan pengertian. Jarang sekali dia marah.

Banyak tempat-tempat romantis yang pernah kita datangi. Setiap kita bertemu pasti selalu sempatin untuk quality time ke tempat menarik.

Nggak akan bisa gue lupain momen-momen hangat saat kita bersama.

Akhirnya setelah merenung cukup lama, gue memberanikan diri hubungi Adi.

Line

Katt : "Pa kabar?"

Adi : "Baik."

Katt : "Syukur deh."

Adi : "Buka pintunya!"

Gue kaget, kenapa dia suruh gue buka pintu. Gue pun membuka perlahan pintu, ternyata benar dugaan gue. Adi sudah ada di depan pintu sambil membawa boneka Teddy bear segede beruang.

Gue seneng sih tapi masih dengan wajah datar, "Gak salah alamat?" tanya gue.

"Maaf ya!" Dia hanya bisa ngucapin kata itu. Kata-kata yang sebenarnya udah gue tunggu sebulan yang lalu. Gue yang aneh sih, gimana dia mau minta maaf kalau gue aja gak mau dihubungi.

"Ini buat kamu, aku harap kamu mau maafin aku," ucap Adi lalu gue terima boneka itu.

"Iya gue maafin," sahut gue.

"Lalu artinya?" tanya Adi.

"Apa?"  Gue balik bertanya.

"Nggak disuruh masuk nih?" tanyanya lagi.

"Nggak perlu masuk. Kita keluar aja ke taman." Gue ajak Adi keluar menuju D'Breeze di kawasan BSD.

Sesampai disana, Adi kembali mengajak gue berbincang. "Beginilah aku, kalau kamu masih mau nerima aku. Aku ingin perbaiki hubungan kita. Aku emang gak bisa jadi yang kamu mau begitu juga sebaliknya."

"Aku juga tau kok, kita cari solusi terbaik untuk mengatasi perbedaan ini," kata gue.

"Sampai kapan kita seperti ini?" tanya dia lagi.

"Sampai orangtuaku terutama ayahku setuju, aku ikut denganmu," jawab gue dengan mantap.

"Kamu yakin?" tanya Adi. Guepun mengangguk.

Berat sesungguhnya keputusan yang gue ambil ini. Gue sudah memikirkannya matang-matang. Gue tahu pasti akan ada yang kecewa dengan keputusan ini. Segala konsekuensi bakal gue pertanggungjawabkan nanti.

Nggak mudah untuk melepas seseorang yang sangat kita cintai. Bagaimanapun juga gue menghindar dan berlari, dia tetap saja kembali.

Gue sayang dengan Adi. Gue juga sayang dengan ayah dan bunda. Gue hanya berharap keputusan gue ini tidak melukai hati orang-orang yang sangat gue cintai.

My (Ex) Boyfriend Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang