BAGIAN 39

2.9K 273 0
                                        

Bagian 39

Allegra menghela napas.

Gadis itu tengah melangkah memasuki koridor sekolah dengan kehampaan. Lamunan menyertainya ketika berjalan. Ditemani seporsi besar hotdog, Allegra sesekali menyuap makanan tersebut tanpa selera. Keramaian di lingkungan sekolah sama sekali tidak ia hiraukan. Pikirannya melayang, memikirkan satu nama yang memengaruhi dirinya sejak semalam:

Justin.

Sialan. Allegra tak bisa memungkiri bahwa ia gelisah setelah semalam Justin meneleponnya, tiba-tiba menyanyi, lalu meminta maaf tanpa tedeng aling-aling. Setelah satu minggu terlewati, Justin baru mengambil satu langkah untuk meminta maaf. Hanya lewat telepon? Allegra mendengus saat mengingat itu. Lelaki brengsek seperti Justin memang menyebalkan! Batinnya.

Dengan wajah datar, Allegra menganga lebar-lebar. Lantas memasukan potongan terakhir hotdog ke mulutnya. Seketika mulutnya terlihat penuh, noda saus bahkan mulai mengotori permukaan bibirnya. Namun Allegra sama sekali tidak peduli alih-alih mulai mengunyah makanan di mulutnya dengan kasar dan terkesan rakus. Sesekali matanya mendelik tajam ketika siswa-siswi lain diam-diam melirik ke arahnya. Sungguh, Allegra terlihat sangat mengerikan sekarang.

Dan semua itu gara-gara Justin.

Allegra tidak bisa berhenti merutuki Justin dan dirinya sendiri. Kesal. Ia merasa kesal dan gemas dengan semua yang terjadi antara dirinya dan Justin saat ini. Bagaimana bisa Justin begitu mudah meminta maaf hanya lewat sambungan telepon? Bernyanyi dengan suara parau yang sialannya malah terdengar seksi? Dan lagi, mengapa juga Allegra harus terpengaruh dan memikirkannya hingga sefrustasi ini? Sial. Allegra benar-benar merasa bodoh.

Belum sempat Allegra mengumpat secara lisan, atau memaki sekeras-kerasnya di tengah lingkungan sekolah seperti orang sinting, tiba-tiba langkahnya terhenti. Allegra terdiam begitu saja dengan tubuh menegang. Seketika ia merasa terkejut setengah mati saat melihat eksistensi seseorang yang berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalannya. Seseorang yang selama ini memengaruhi pikirannya. Seseorang yang menyebalkan. Seseorang yang bodoh, pengecut, dan brengsek.

Justin berdiri tepat di hadapannya. Dengan hoodie hitam kebesaran dan celana jins yang melekat di tubuhnya, juga esensial aftershave bercampur dengan bau rokok yang menguar di tubuhnya, lalu wajah pucat dan rambut pirang yang berantakan. Sepersekian detik, Allegra terdiam, lantas mendongak dan seketika pandangannya bersirobok dengan iris mata hazel itu. Justin dan Allegra bersitatap, seakan berbicara lewat tatapan yang sontak mengundang perhatian siswa-siswi yang berlalu lalang.

Justin mengangkat satu tangannya, mendekat, membersihkan noda saus di permukaan bibir Allegra lantas pergi begitu saja.

Dan Allegra terdiam. Sampai Justin berlalu dari balik tubuhnya, ia tetap diam.


***


Allegra Stewart's View


Sial.

Rasanya hariku begitu aneh setelah bertemu dengannya. Kau tahu? Si Perkins sialan itu. Setelah semalam ia meneleponku, bernyanyi, meminta maaf tanpa rasa bersalah, dia kembali menunjukkan batang hidungnya di hadapanku meski hanya sekilas. Aku tidak tahu apa maksud kedatangannya ke sekolah jika tadi pagi dia kembali pergi dari teritorial ini dan membuatku gelisah. Sungguh. Dia sangat menyebalkan.

Moodku berantakan, emosiku naik-turun seperti orang sinting dan aku merasa benar-benar lemas sekarang. Setelah tadi pagi aku dan dia bertemu di koridor, gairahku untuk menjalankan hari ini dengan lancar serasa lenyap. Jam sekolah telah usai, sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku ingin bolos kerja, menyendiri atau menenangkan diri. Dan untuk pertama kalinya, aku meraaa bingung harus melakukan apa. Semua ini gara-gara dia! Menyebalkan!

SOMETIMES [DISCONTINUED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang