Bagian 26
"Aku bilang tidak usah!--Cara, dengar. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya dan kau masih tidak mengerti!? Demi Tuhan kau benar-benar membuatku marah--Hei, Gomez! Aku dengar yang kau katakan!"
Justin mengernyitkan dahi begitu suara melengking pacarnya yang khas memecah keheningan di dalam mobilnya yang tengah melaju dengan kecepatan standar. Ia menoleh sekilas untuk memastikan Allegra yang kini tengah sibuk berbicara lewat ponselnya. Kedua alis gadis itu saling bertautan tajam dan Justin bisa melihat dengan jelas raut wajah Allegra yang tampak geram. Oh, gadis itu. Justin memilih untuk membiarkan Allegra menyelesaikan urusannya dan kembali memusatkan pandangannya ke arah jalanan.
"Mengapa kalian selalu memaksaku!?--Cara, kau tidak mengerti! Gee, bahkan aku baru selesai bekerja di gerai! Aku sudah bilang beberapa kali bahwa kau tidak perlu membayar anggaranku!--Gomez diam!"
Justin kembali mengernyit. Astaga, gadis itu. Dalam kondisi yang cukup kelelahan saja Allegra masih mampu membentak orang lain. Justin baru saja menjemputnya dari gerai dan kini ia tengah mengantar Allegra pulang. Dan kira-kira apa yang dibicarakan Allegra bersama Cara? Batin Justin bertanya-tanya. Allegra sempat membahas soal anggaran. Apa itu berhubungan dengan studytour ke Italia yang akan dilaksanakan besok pagi? Justin mengerjap. Ia memilih untuk tetap diam dan membiarkan Allegra yang sibuk berteriak. Ia tidak mau mengambil resiko dengan mengalami kecelakaan jika berusaha menenangkan gadis itu yang tengah liar sekarang.
"AKU TIDAK MAU--DENGAR! AKU TETAP TIDAK AKAN IKUT PERGI MESKI KAU MEMBAYARKAN ANGGARANNYA SEKALIPUN! MENGERTI!? OKAY! SELAMAT MALAM!"
Setelah mengakhiri ucapannya, Allegra memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dengan kekesalan yang masih membuncah, ia segera mematikan ponselnya lantas memasukan benda pipih itu ke dalam ranselnya. Heran! Mengapa Cara terus-menerus memaksanya untuk ikut pergi ke Italia? Lagipula studytour itu diadakan besok dan Allegra tidak mungkin berkemas secara mendadak. Ia sudah membicarakan hal itu kepada Kepala Sekolah dan sepertinya beliau tidak keberatan jika Allegra tidak ikut. Allegra hanya perlu menggantinya dengan tugas yang cukup sulit. Dan well, sepertinya ia sanggup mengerjakannya.
Jadi Allegra merasa tidak perlu menerima bantuan Cara yang bersikeras ingin membayarkan anggaran studytournya. Itu sangat tidak perlu. Dan sikap Cara yang pemaksa dan Selena yang cerewet benar-benar membuat Allegra muak.
"Sudah selesai, Babe? Suaramu bisa saja membuat rem mobilku mendadak tidak berfungsi." gumam Justin. Sedetik kemudian, ia meringis ketika Allegra menggeram lantas memukul bahunya. "Geez, itu sakit, Sayang."
Allegra mendecak lantas memilih untuk menyandarkan punggungnya dengan malas ke sandaran jok. Ia menghela napas lantas menghembuskannya dengan berat. Tak ada yang bisa membantu untuk meredakan emosinya saat ini. Benar-benar menyebalkan.
"Kau tidak seharusnya memarahi Cara seperti itu." gumam Justin. Sedetik kemudian ia mendengar dengusan yang berasal dari mulut Allegra.
"Tapi Cara membuatku kesal! Ia terus memaksaku untuk ikut ke Italia, dia tidak pernah mengerti aku!"
"Mungkin dia hanya ingin kau ikut bersenang-senang di sana. Apa itu salah, Babe?"
"Tidak. Tapi--oh aku hanya tidak mau." Allegra mengacak rambutnya lantas mendecak. Perkataan Justin hanya membuatnya merasa semakin kesal. Justin..membela Cara. Dan perasaan yang tidak menyenangkan muncul saat Allegra mendengarnya. "Lagipula, dia bisa bersenang-senang denganmu seperti di dalam kamarmu dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETIMES [DISCONTINUED]
FanfictionAllegra Stewart. Gadis bengis, rakus, aneh, angkuh, dan menyebalkan. Wajahnya juga tidak terlalu cantik. Yaa..walaupun otaknya cukup pintar. Tapi, siapa yang menyangka jika gadis sejenis itu bisa diperebutkan oleh dua cassanova tampan di sekolahnya...
![SOMETIMES [DISCONTINUED]](https://img.wattpad.com/cover/49649377-64-k899183.jpg)