E N A M B E L A S

116K 5.5K 101
                                        

Setelah kejadian Stevano memeluk Olivia ditaman sekolah tadi, malah membuat hubungan mereka menjadi sangat canggung.

Seperti sekarang, setelah kejadian itu Stevano menawarkan Olivia untuk pulang bersama, dan disinilah mereka sekarang, dimobil sport Stevano.

Kecanggungan membuat mereka sedaritadi diperjalanan hanya diam berkutat dengan pikiran masing-masing.

Stevano yang sibuk menyetir sedangkan Olivia dengan sengaja menyibukkan diri dengan ponsel ditangannya, hanya berpura-pura sibuk dan sesekali menghadap jendela disampingnya.

"Sudah sampai, lo gak mau turun?" Tanya Stevano masih menghadap kedepan.

"E-eh, udah sampai, ga sadar." Ucap Olivia lalu memakai tasnya.

"Makasih" ucap Olivia bersiap membuka pintu namun tangannya ditahan oleh Stevano.

"K-kenapa Van?" Tanya Olivia tergagap, dalam hati dia merutuki kebodohannya karena masih sempat-sempatnya dia gugup didepan Stevano membuatnya tambah kelihatan menyukai laki-laki itu.

Ehem.

Stevano berdeham setelah sebelumnya melepas tangannya yang tadi memegang tangan Olivia.

"Kejadian tadi.." ucapan Stevano mengantung.

"Sorry, gue kebawa suasana dan ga sengaja meluk lo." Ucap Stevano berbohong, gengsinya terlalu besar mungkin.

"O-oh, iya, gapapa kok, gue udah biasa lo gituin, bikin baper terus dihempas, tarik ulur aja perasaan gue Van, gapapa kok" ingin sekali Olivia berkata seperti itu, namun apa daya dengan kebodohannya.

"Ya, gapapa kok" ucapan itulah yang akhirnya keluar dari mulutnya.

"Kalo gaada yang mau lo omongin lagi, gue keluar ya" ucap Olivia ingin bergegas keluar sebelum air matanya keluar lagi untuk kesekian kalinya.

Dengan gerakan cepat Olivia membuka pintu mobil lalu keluar.

Tanpa berbalik dia langsung memasuki rumahnya dan memasuki kamarnya.

"BODOH!" ucap Stevano memukul stir mobilnya keras. Lalu dengan cepat menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.

Dia butuh sahabat-sahabatnya sekarang.

Dia berpikir sejenak lalu berikutnya dia memberhentikan mobilnya kepinggir jalan.

Lalu mengeluarkan ponselnya.

Stevano: guys, ktmuan dtmpt biasa skrg

Dylan: eh tumben sikampret ngajakin ketemuan, kangen gue ya?

Julian: gw otw

Dimas: jemput dong bang Jul.

Julian: mt aj l!

Dimas: ih abang mah gitu, lelah hayati digituin bang! :(

Julian: bd amt!

Dimas: srius dong Jul, jmput gue, motor gue disita emak:(

Dylan: kok bisa?

Dimas: mak gue kmrn nanya, gue udah pny pcr apa belom. Trs gue jwb jjur kan, gue jwb belom, eh dia mrh" trs dia nyita motor gue. Sedih kan?

Dylan: lol mampus! Jones!

Brandon: lol mampus! Jones(2)

Julian: lol mampus! Jones (3)

Dimas: ih jht! Ok fix gue ngambek.

Julian: gw udah didpn, cpt bgst!

Dimas: yeay, abang Julian tercinta mng terbaik.

Julian: njis!

Brandon: gw otw

Dylan: gw jg.

Setelah membaca chat line diponselnya, dengan cepat Stevano kembali menjalankan mobilnya kecafe biasa tempat mereka nongkrong.

Setelah 10 menit akhirnya dia sampai dan langsung memarkirkan mobilnya.

Lalu setelahnya dia turun dari mobilnya dan memasuki cafe.

Gerakan berikutnya dia memilih tempat duduk dan menunggu.

Sekitar 20 menit kemudian akhirnya sahabat-sahabatnya itupun datang secara bergiliran kecuali Julian dan Dimas yang datang bersamaan.

"Kenapa lo ngajakin ketemuan Van? Ada masalah lo?" Tanya Brandon.

"Gue lagi bingung sekarang" ucap Stevano.

"Kenapa bang?" Tanya Dylan.

"Olivia..." ucapan Stevano mengantung.

Namun tanpa Stevano meneruskan ucapannya sahabat-sahabatnya dapat langsung mengetahui apa yang menganggu pikiran temannya ini, namun mereka lebih memilih mendengarkan Stevano sampai selesai.

"Gue rasa gue suka dia" ucap Stevano.

"Tapi, gue takut hal yang sama bakalan terjadi lagi" ucap Stevano lalu diam.

Selama 10 menit tidak ada yang bersuara diantara mereka, hanya ada suara-suara pengunjung lain yang berbicara.

"Coba aja dulu jalanin, buat dia tau kalo lo suka dia, lo kaya gini juga ga guna, lo justru malah nyakitin diri lo sendiri dan nyakitin Olivia." ucap Dylan.

"gue cuma nyaranin ke lo Van, terserah lo mau denger apa nggak" ucap Dylan lagi.

Dylan kemudian diam namun sekitar 3 menit kemudian, Brandon mengucapkan kata-kata yang membuat Stevano merutuki kebodohannya selama ini.

"Atau lo pengen dia jauhin lo karena sifat bodoh lo yang terus nyakitin dia selama ini dan pergi kecowok lain? bukannya kita-kita pada ga tau kalo selama ini lo terus narik ulur dia Van. Kita diem karena selama ini kita pikir lo bakalan sadar, tapi nyatanya sekarang kita disini dengerin curhatan lo." Ucap Brandon.

"Gue sebenernya pengen nonjok lo sekarang Van, cuma karena lo sahabat gue, gue tahan, tapi kalo setelah dengerin nasehat Brandon dan Dylan lo masih nyakitin sepupu kesayangan gue lagi, gue ga jamin setelah ini gue masih bakalan bisa tahan atau nggak." Ucapan Dimas yang akhirnya membuat Stevano terdiam lama mencerna kata-kata Dimas.

24 September 2016.

Difficult LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang