D E L A P A N B E L A S

110K 5K 22
                                        

"Gue suka lo" ucap Stevano membuat Olivia terkejut bukan main.

"Gue ga bisa romantis kaya cowok-cowok lain, lo masih bisa nerima gue?" Tanya Stevano, Olivia masih diam, pernyataan Stevano tadi benar-benar membuat Olivia terkejut.

Banyak sekali pertanyaan diotak Olivia mengenai Stevano yang memang menurutnya laki-laki paling misterius dan tidak pernah bisa ditebaknya itu.

Perasaan baru kemarin-kemarin dia menolak cinta Olivia, dan menyuruh Olivia untuk tidak menyukainya. Sekarang dia tiba-tiba menyatakan cintanya kepada Olivia.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri Olivia senang, bahkan sekarang jantungnya sudah berdetak sangat kencang dan rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu diperutnya dan perasaan itu membuat Olivia senang bukan main.

"Hei, melamun?" Tanya Stevano karena melihat Olivia yang sedaritadi hanya diam saja.

"Apa selama ini lo romantis sama gue?" Akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulu Olivia setelah sedaritadi diam.

"Nggak sih" jawab Stevano sambil mengaruk leher belakangnya yang tidak gatal sama sekali pastinya.

"Tapi gue masih suka lo, gue juga bingung sih kok gue bisa suka lo. Lo itu dingin, datar, nyuekin gue mulu, bikin gue sakit hati mulu lagi, tapi dengan bodohnya gue masih suka lo sampai detik ini" ucap Olivia membuat Stevano terdiam, sebenarnya lebih tepatnya dia merasa bersalah.

"Sorry." Hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Stevano.

"Lo beneran suka sama gue? Gue bingung, lo sebenernya mau mainin gue atau gimana sih? Waktu itu lo suruh gue buat jangan suka sama lo lagi. Tapi sekarang lo malah bilang suka ke gue." Ucap Olivia.

"Kalo emang lo cuma kasihan atau apapun itu mendingan lo pergi, gue ga butuh, dan gue janji setelah ini gue ga bakalan deketin lo lagi kok, semuanya bakalan kaya awal sebelum lo kenal gue. Gue janji" ucap Olivia.

Stevano hanya diam tak ingin membuat wanita didepannya ini bertambah marah, entah kenapa dia mulai merutuki mulutnya itu, karena dia merasa sedikit saja di berkata lagi wanita itu akan mengeluarkan emosinya.

"Kalo emang ga ada yang mau lo omongin, lo boleh keluar" ucap Olivia.

Stevano hanya menurut lalu keluar dari kamar Olivia. Ah rasanya kesal sekali.
Olivia sudah membencinya, apa yang harus dia lakukan sekarang? Entah mengapa Stevano merasa benar-benar bodoh sekarang.

Ketika keluar dari kamar Olivia, Stevano bertemu Dimas.

"Wess bro, gimana? Udah ngomong belum sama dia? Udah pacaran kan berarti lo berdua? Makan-makan yeay" ucap Dimas membuat Stevano rasanya ingin memukul kepala sahabatnya satu ini.

"Dia marah, ais nggak tahu lah, gue bingung, apa sih maunya cewek? gue pulang duluan ya, bye" ucap Stevano.

Dimas hanya terdiam, setelah dirasanya Stevano sudah pergi, Dimas pun memasuki kamar Olivia.

"Liv" panggilnya.

"Kok lo disini sih? Ketemu Stevano ga? Eis ketahuan ya?" Tanya Olivia sambul bangkit dari tidurnya dikasurnya karena panik.

"Dia emang udah tahu dari tadi pagi. Lo kenapa lagi sih sama dia?" Tanya Dimas kesal melihat hubungan cinta kedua orang ini.

"Kok lo kasih tau dia sih, gue kan udah bilang jangan ngomong kedia kalo kita itu sepupuan" ucap Olivia kesal.

"Lo kenapa lagi sama dia Olivia?" Tanya Dimas serius.

Olivia terdiam, ini pertama kalinya Dimas seserius ini padanya.

"D-dia ngomong kalo dia suka gue" ucap Olivia terbata.

"Terus?" Tanya Dimas lagi.

"Gue takut dia cuma kasihan sama gue, gue takut dia mainin hati gue lagi Dim, gue cuma takut sakit hati lagi, gue cuma ngerasa udah cukup kalo gue cuma jadi pacar bohongan dia terus setelahnya gue bakalan ninggalin dia. Kalo sampe gue jadi pacar beneran dia dan gue nambah suka atau cinta kedia terus dia nyakitin gue lagi, mungkin gue bakalan..." ucapan Olivia terhenti karena Dimas memeluknya.

"Gak liv, lo ga usah mikir sampe segitunya, gue yakin Stevano beneran suka sama lo, tadi pagi dia udah yakinin gue makanya gue nyuruh dia kerumah lo buat ngomong sama lo, gue percaya dia ga bakalan nyakitin lo lagi liv" ucap Dimas.

"Tapi percuma, dia udah pergi Dim, lo bener-bener telat datengnya." Ucap Olivia masih menangis.

"Hahah, lo bener-bener sepupu gue yang paling kocak, cepet banget sih ngubah pikiran, tadi sok-sokan nolak." Ucap Dimas sambil tertawa.

"Ih lo ngeselin banget sih, mendingan lo pergi sekarang, gue mau tidur" ucap Olivia lalu berbaring dan menutup selimut sampai kekepalanya.

Dimas hanya tersenyum kearah sepupunya itu.

"Yuk makan malem sama gue, biar lo ga galau lagi, gue bakalan traktir, mau nggak?" Ucap Dimas.

"Hah? Beneran? Tumben banget lo" ucap Olivia bangkit dari tidurnya dengan mata berbinar.

"Beneran lah, kapam gue boong keelo?" Tanya Dimas.

"Entar jam 7 gue jemput, gue pulang dulu, bye" ucap Dimas lalu keluar dari kamar Olivia.

Setelah itu dia keluar dari kamar Olivia dan menutup pintu. Dan detik berikutnya dia mengeluarkan ponselnya.

To: Stevano.
Entar malem dateng ke restaurant XX jam 7 malem. ga pake telat!!!

SEND.

"Ini terakhir kalinya gue bantu lo Van, kalo sampe lo sia-siain lagi gue bakalan bener-bener jauhin lo dari Olivia." Ucap Dimas sambil memandang pintu tertutup didepannya ini.

Hai, akhirnya gue update wkwkwk.
Sebenernya senin gue masih uts, tapi karena hri ini libur jd gue sempetin buat update.
Gue bakalan update lagi sekitar hari kamis atau jumat ya guys, jdi ditunggu aja kelanjutannya.

8 Oktober 2016.

Difficult LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang