"Kalo udah punya kamu gimana dong sis" ucap Vano membuat Olivia terdiam, tak biasanya Vano membalas gombalannya dan itu membuatnya senang.
Olivia kemudian diam sejenak, sedangkan Vano mulai memejamkan matanya mencoba tidur dan merasakan tangan Olivia yang mengelus rambutnya pelan membuatnya semakin nyaman.
"Lo.. Nggak apa-apa kan Van?" tanya Olivia pelan.
Tak ayal kejadian tadi sore membuatnya khawatir dengan Vano, walaupun Vano tidak memperlihatkan kepanikan dan kekhawatirannya pada Olivia, namun dia tau jika Stevano adalah sebaliknya, pastilah ucapan Vino tadi membuat Vano terpengaruh, ucapan tentang Oliv yang juga akan meninggalkannya, memikirkannya saja sudah membuat Vano takut.
"Gue gapapa, asalkan lo terus disamping gue Liv" ucap Vano membuka matanya lalu menatap Olivia.
"Bisa lo janji sama gue gaakan ninggalin gue Liv?" ucap Vano terlihat serius.
"Mama sama papa kerja setiap hari dari gue kecil, jarang dirumah, setiap hari gue cuma sama bibi, pacar pertama gue selingkuh sama Vino, pacar kedua gue selingkuh juga sama Gilang, kalo lo sampe ninggalin gue juga Liv, gatau lagi deh idup gue bakalan kaya gimana" ucap Vano sambil memejamkan matanya, tidak mau membuat Olivia tau dia menahan tangis, cukup memalukan jika harus menangis didepan wanita bukan? Apalagi yang kau cintai.
"Gue tau kok Van, gue janji sama lo gaakan ninggalin lo, ataupun selingkuhin lo, gue sayang sama lo Van" ucap Olivia membuat Vano membuka matanya lalu bangun dari tidurnya.
"Bisa ulang omongan yang terakhir Liv" ucap Vano dengan duduk disamping Oliv.
"Gamau, gaada seri-seri pengulangan" ucap Olivia.
"Ulang Liv" ucap Vano.
"Gue juga biasanya sering ngomong gini, lo aja yang gamau denger, tumben-tumbenan lo nyuruh ngulang" ucap Olivia heran.
"Iya juga sih, yaudah deh mau pulang kan? Sini gue anterin" ucap Vano.
"Iya lah lo yang nganterin, lo yang bawa gue kesini juga" ucap Olivia.
"Ye si nenek lampir, ngomel aja mulu" ucap Vano lalu berdiri dengan cepat.
"Terserah lo deh ya Van" ucap Oliv lalu menuju keluar sedangkan Vano kembali kekamarnya untuk mengambil kunci mobilnya.
---
"Gue laper Liv, mamam dulu ya baru pulang" ucap Vano manja ketika dia baru saja keluar dari kamarnya menuju ke pintu besar rumahnya.
"Iya, lo laper mulu deh perasaan kalo sama gue, gendut entar" ucap Olivia.
"Biarin gendut asal tetap tampan" ucap Vano acuh lalu berjalan kearah mobilnya.
"Awas aja ya kalo lo jelek, gue putusin lo" ucap Olivia bercanda.
"Oh jadi pacaran sama gue gara-gara gue ganteng doang nih ceritanya" ucap Vano menatap Oliv kesal.
"Ehmm, maybe yes maybe no" ucap Olivia ambigu, mendengar itu Vano tak menjawab lagi dan memilih fokus menyetir.
"Mama lo tinggalin disalon sendirian jadinya?" tanya Vano kemudian.
"Iya, dia tadinya gamau, terus marah-marah, tapi sekalinya gue bilang pergi sama lo dia langsung heboh dan nyuruh gue pergi aja ga usah balik sekalian katanya, segitu senengnya dia sama lo, bingung gue siapa anaknya sebenernya" ucap Olivia kesal mengingat kejadian tadi sore.
"Ya iyalah, secara gue tampan gitu, siapa sih yang ga suka sama gue" ucap Vano bangga lalu tertawa mendengar cerita Oliv.
"Kok lo jadi pd abis gini sih, dulu aja sok-sokan datar, sok-sokan cuek, tau-taunya gini aslinya" ucap Olivia, namun dia senang ternyata Vano sudah bisa mengeskpresikan diri, tidak seperti dulu lagi.
"Gue kan belajarnya dari lo, kalo gue kaya dulu lagi entar lo marah, apasih maunya" ucap Vano membuat Olivia tertawa.
"Iya serah lo deh, nurut aja gue sama sifat lo, semerdeka situ aja ya" ucap Olivia.
***
D
ylan: Hello epribodehhh, jalan yuk, bocen nihh :(
Brandon: Alay!!
Dimas: Alay!! (2)
Stevano: Aly!(3)
Julian: Alay!! (4)
Dylan: Jir, jahad banget sih kalian sama ken, entar ken lporin ke berbi :(
Dimas: Najong bgt sih lan!!! Mati aja lo sana!!
Brandon: sok-sokan berbi, pcr aja ga punya!!
Dylan: Hehe dijaga ya mulutnya tuan brandon yang terhormat, gue udah punya keles
Brandon: SERIUS LO? DEMI APA?
Dimas: iya, kemarin yang nembak cewek ditengah lapangan itu siapa lagi kalo bukan dia Den, untung ga ditolak, klo td ditolak mau gue sukur-sukurin dia mah
Brandon: Siapa sih yang mau sama dia mas? Anak mana?
Dimas: lupa gue namanya, tanya dia aja sono.
Dylan: Melisa bro, adik kelas kita hahaha.
Brandon: tuh cewek harus hati-hati deh kayanya, takutnya dia jadi korban pedofil
Dylan: Eh si anjing, mulutnya ngasal aja, gini-gini gue alim ya
Julian: jadi ceritanya lo mau PJ gitu?
Dimas: Oh gitu, boleh deh, dengan senang hati loh lan, gue otw ya tempat biasa.
Dylan: Jul jemput :(
Julian: lo nyusahin mulu anjir, gue mau jemput Angel juga nih
Stevano: gue dkt rmh lo, btr lg smp, cpt klr
Dylan: SUMPEH LO? WIH SENANGNYAAAAAAAAA :))))))
Stevano: bacot:)
Dylan: jahad :(
Dylan: teman-teman, ternyata yang ngomong dritd itu bukan Vano, tapi Oliv, pantesan gue bingung kok bisa Vano nawarin nebeng
Read by 4
Dengan kesal Dylan melempar ponselnya dengan kasar kekursi mobil disampingnya, terlihat Vano dan Oliv yang saling bercengkrama membuatnya diabaikan, dan lagi, susah-susah dia mengetik panjang lebar, hanya dibaca saja.
"Maafkanlah hambamu itu Tuhan, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" ucapnya pelan lalu mengatur nafasnya.
Olivia yang mendengarnya malah tertawa terbahak-bahak.
"Jangan buat gue ketawa bisa lan? Segitu frustasinya kah lo?" ucap Olivia.
"Harusnya gue pergi sendiri tadi" ucap Dylan.
"Kok cewek lo ga lo ajak sih?" tanya Olivia.
"Eh iya ya, kok bego gue ya, Van cepet van, gue pinjem mobil lo jemput dia ya" ucap Dylan membuat Olivia kembali tertawa.
"Bodo amat deh sama lo" ucap Vano pasrah sama anak satu itu, entah bego atau apa, dia bingung juga kenapa bisa mempunyai teman seperti ini.
2 Februari 2017.
KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult Love
Novela JuvenilApa jadinya jika bukan laki-laki yang mengejar wanita melainkan sebaliknya? Dan lebih parahnya lagi si laki-laki tidak menyukai wanita ini. Apa yang akan terjadi dengan percintaan keduanya nanti? When i love him, but him can't love me back, my love...
