E M P A T P U L U H - L A S T

138K 3.9K 39
                                        

Terlihat seorang perempuan sedang menarik koper besarnya dan berjalan kearah pintu masuk bandara bersama seorang lelaki yang sedang melakukan hal yang sama dengannya.

"Lo serius kan Liv tetep mau berangkat? Ga nyesel ninggalin dia disini?" ucap Dimas masih dengan barang-barangnya yang banyak.

"Udah deh Dim, jangan banyak ngomong, ini barang gue banyak banget, gue ga kuat lagi bawanya astaga" ucap Olivia dengan sangat kesal, rasanya dia ingin membanting semua barang-barang bawaannya itu dan meninggalkannya disana.

"Bukan cuma lo doang bego, gue juga, lagian kenapa juga kita bawa semua, kenapa ga dikirim aja nanti sisanya, bawa yang penting dulu, duh gue ga kepikiran lagi." ucap Dimas sambil menepuk dahinya pelan.

"Udah lah mending kita ngurus bagasi dulu, Liana udah nungguin gue ini" ucap Olivia masih dengan bersusah payah membawa kopernya.

Setelah sekitar 20 menit menunggu akhirnya barang-barang mereka mulai berkurang karena semua dimuat dibagasi.

"Ahh akhirnya, udah ayo kita ke sana, temen-temen gue udah nunggu, ada dia juga tuh udah nungguin lo" ucap Dimas membuat Olivia mengabaikan ucapan Dimas dan berjalan pelan kearah kerumunan orang yang sedang berdiri menunggu mereka.

"Liv, hati-hati ya lo disana, jangan lupain gue, sering-sering balik, kabar-kabarin ya disana" ucap Liana memeluk sahabatnya itu menahan tangis.

"Duh cengeng nya, iya tenang aja gue pasti kabarin kok, udah jangan nangis, hahaha" ucap Olivia membalas pelukan sahabatnya itu.

"Oliv, lo jangan pergi dong, gaada partner berantem lagi gue, sedih nih berbi" ucap Dylan membuat Brandon menabok pipinya.

"Najis tau nggak Lan" ucap Brandon.

"Duh sini peluk dulu coba" ucap Dylan mencoba memeluk Oliv namun dihalangi oleh Dimas dan akhirnya Dimas yang memeluk Dylan.

"Iya, duh jangan kangen ya sama gue, entar gue bawain lo cewek bule deh" ucap Dimas memeluk Dylan dan menepuk punggungnya keras.

Baru saja Dylan ingin marah namun ketika Dimas bilang akan membawakannya bule dengan senang hati dia membalas pelukan Dimas dengan bahagiannya.

"Emang lo yang paling ngertiin kemauan sahabatnya Dim, sahabat sejati emang ya" ucap Dylan.

"Eh Liv, lo gapapa nih ninggalin Vano sendirian disini, entar dia punya pacar disini gimana?" tanya Dylan ketika pelukannya dan Dimas sudah terlepas.

"Gapapa kok, gue tenang, gue sama dia juga belom balik pacaran, yang penting kalo jodoh ga kemana kok" ucap Oliv membuat Vano menoleh kepadanya.

"Duh kasihan banget sih temen gue satu ini, digantungin, sakit Liv, sakit" ucap Dylan memanaskan suasana membuat Vano menatap tajam kearahnya.

"Ngomong sama gue bentar bisa?" tanya Vano lalu menarik Oliv menjauh dari teman-temannya yang lain.

"Gue bakal nungguin lo, jangan pacaran disana, jaga kesehatan, jaga diri, makan yang teratur, awas aja kalo gue tau lo pacaran sama orang lain" ucap Vano.

"Duh bukan pacar tapi segininya" ucap Oliv menahan tawanya melihat keoverprotektifan Vano kepadanya.

"Gue serius Liv, gue bakal nyusul kesana kalo tau lo pacaran, gue bakal gangguin lo, pada akhirnya lo bakal tetep sama gue, jadi percuma lo pacaran sama cowok lain" ucap Vano telak.

"Iya-iya sih, udah lo juga ya, awas aja gue denger kalo lo deket sama cewek lain, gue bakal pacaran sama bule ganteng disana dan bakal ngelupain lo, liatin aja" ucap Oliv.

Terdengar panggilan bahwa pesawat yang akan mereka naiki akan segera berangkat dengan cepat Oliv dan Dimas mulai menyelesaikan perpisahannya dengan yang lain.

Difficult LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang