T U J U H B E L A S

116K 5.5K 110
                                        

Pernyataan Dimas tadi mengenai Olivia yang sebenarnya adalah sepupu Dimas membuat Stevano terkejut pasalnya memang selama ini Dimas jarang sekali berinteraksi dengan Olivia.

Apalagi tadi Dimas sampai menyebut 'kesayangan' dan menurut Stevano itu sangat jauh dari kenyataan selama mereka disekolah, dan yang membuat Stevano penasaran adalah, kenapa Olivia dan Dimas selama ini tidak pernah bercerita atau sekedar berbicara berdua layaknya sepupu 'kesayangan'.

"Dim, beneran Olivia sepupu lo? Kok gue baru tau sih?" Tanya Dylan.

"Hm, Olivia yang bilang gak mau ngumbar gitu, apalagi waktu tau ternyata Vano sahabat gue, ya nambah minta dirahasiain lah dari Vano." Ucap Dimas.

"Pantesan dulu dia bisa tau nomor hp gue" ucap Vano datar.

"E-eh itu, sorry bro, dia kemarin langsung nyomot ponsel gue pas dia tau lo sahabat gue. Lagian gue juga bersyukur dia ketemunya sama lo dari pada sama Dylan. Walaupun lo suka nyakitin dia." Ucap Dimas membuat Stevano terdiam.

"Kok nama gue dibawa-bawa sih?" Ucap Dylan kesal.

"Tapi Van, gue serius sekali ini, cukup lo buat dia sakit hati dan nangis, sekali lagi lo masih bersikap kaya gini gue bakalan jauhin dia dari lo dan gue bakalan nyariin dia cowok yang lebih baik. Sekarang semuanya terserah lo, gue cuma ga mau dia sakit lagi, dia udah kaya adik kandung gue, bukannya gue maksa lo atau apapun, kalo emang lo lebih milih ninggalin dia, persahabatan kita ga bakalan berubah kok, gue juga ga mau lo terpaksa sama dia dan malah ngebuat dia nambah sakit, kalo emang lo ga suka jauhin dia, dan setelah lo jauhin dia please jangan pernah deketin dia lagi atau buat dia ngarep sama lo lagi, dan setelah itu gue bakal buat cara supaya dia ga suka sama lo lagi apapun caranya itu." Ucap Dimas serius.

Mendengar ucapan Dimas membuat Stevano bergidik ngeri, membayangkannya saja dia tidak sanggup, ya sepertinya Stevano sudah sedikit mulai sadar jika dia sudah mulai sedikit menyukai Olivia, dan dia yakin dan tidak akan pernah membiarkan Olivia menjauh darinya.

"Gue suka dia Dim, gue janji ga bakal buat dia nangis lagi, thanks ya bro, udah buat gue sadar kalo dia berarti buat gue" ucap Stevano membuat Dimas tersenyum.

"It's okay Van, yang penting lo udah sadar dan gue harap lo ga buat dia nangis atau sakit lagi, cuma itu yang gue minta dari lo sebagai sahabat dan sekaligus kakak Olivia." Ucap Dimas.

"Woahhhh, tumben Dimas bisa serius anjir, gue terpukau masa" ucap Dylan sambil terbahak.

"Sialan lo nyet, gue lagi serius ini, gue tempeleng juga lama-lama lo nyet! Ucap Dimas kesal membuat yang lain terbahak.

***
Setelah menunggu sedaritadi, Stevano akhirnya berinisiatif untuk mendatangi kelas Olivia, sedaritadi memang dia menunggu di gerbang depan yang selalu Olivia lewati, namun sudah hampir setengah jam dia menunggu tapi Olivia tidak terlihat sama sekali batang hidungnya.

Setelah mendatangi kelas Olivia, namun dia tidak menemukan Olivia disana.
Namun tatapannya bertumpu pada seorang wanita yaitu Liana, sahabat Olivia.

"Hai Li, lo liat Olivia ga? Daritadi gue nyariin dia kok ga ada ya?" Ucap Stevano.

"Oh, hai, oh si Olivia nya ga masuk, dia sakit" ucap Liana.

"Hah? Sakit? Sakit apaan?" Tanya Stevano.

"Tadi sih gue nelpon dia katanya dia demam, jadi rencananya sih gue pengen jenguk dia entar malem" ucap Liana.

"Oh oke, thanks ya Li, gue duluan" ucap Stevano lalu pergi meninggalkan Liana.

***
Ketika sampai di rumah Olivia, Stevano memarkirkan mobil Sport nya didepan rumah Olivia.

Kemudian dia mematikan mesin dan keluar dari mobil, diketuknya pagar rumah Olivia.

"Eh, nyari siapa ya den?" Tanya seorang wanita paruh baya yang menurut Stevano adalah pembantu rumah tangga Olivia.

"Saya nyari Olivia bik, Olivianya ada kan?" Tanya Stevano.

"Oh iya ada kok den, masuk aja, nyonya sama tuan lagi ga ada dirumah jadi mending langsung kekamar non Oliv aja, dilantai 2 kamar cat putih den" ucap pembantu itu.

"Ok bik, makasih ya" ucap Stevano lalu berjalan masuk dan menaiki tangga langsung menuju kekamar Olivia.

Tok tok tok.

Diketuknya pintu kamar Olivia.

"Masuk aja, ga dikunci bik" teriak Olivia dari dalam kamar.

Setelah itu Stevano membuka pintu kamar Olivia, dan memasuki kamar nya, dilihatnya sekeliling kamar Olivia, rapi, dan bercat biru langit.

"Bik, ak-" ucapan Olivia terputus setelah melihat siapa yang datang, dia mengira yang mengetuk pintu adalah pembantunya, namun ternyata dia salah.

"Ngapain disini?" Tanya Olivia.

"Ga boleh?" Tanya Stevano.

Olivia hanya diam tak menjawab pertanyaan Stevano.

Stevano lalu beranjak akan keluar kamar.

"Tunggu, kok keluar?" Tanya Olivia lagi.

"Bukannya lo ga bolehin gue masuk?" Tanya Stevano.

"Ga gitu juga, ah sudahlah, duduk aja, gue cuma nanya mau ngapain kesini, bukannya ga bolehin." Ucap Olivia.

"Katanya lo sakit, makanya gue dateng" ucap Stevano. Ada perasaan senang yang membucah dihati Olivia sekali tau Stevano mendatanginya atas inisiatif cowok dingin itu.

"Nuh, gue bawain bubur, gue tau lo pasti rewel banget ga mau makan kan?" Tanya Stevano memberikan sekantong Bubur untuk Olivia.

"Emangnya gue bayi apa lo kata rewel? Kok tau sih, gue ga mau makan, rasanya pengen muntah kalo makanan masuk mulut" ucap Olivia.

"Lo hamil?" Tanya Stevano datar.

"Ga la nyet! Lo kira gue cewek apaan?" Ucap Olivia kesal sambil melempar guling kearah Stevano dan dengan sigap Stevano malah menangkapnya.

"Ya kirain, lo tadi bilang mau muntah" ucap Stevano.

"Jadi kalo semua orang pengen muntah lo katain hamil? Ya kali bodoh banget lo pasti pelajaran biologi-_- udah ah bodo amat lah, dateng cuma pengen jenguk doang? Gaada mau ngomong apaan gitu sama gue?" Tanya Olivia.

"Enak aja, sorry ya, gue ranking 1 umum for your information. " ucap Stevano.

"Ga usah sombong!" Ucap Olivia kesal.

"Oke, gue pengen ngomong serius sama lo Liv." Ucap Stevano.

"Gue suka lo" ucap Stevano cepat dan tegas namun datar dan dinginnya tak akan pernah tertinggal.

28 September 2016.

Difficult LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang