Pagi ini terlihat sebuah kelas terlihat gaduh, sepertinya ada yang berkelahi. Ya itu adalah Dimas dan Stevano.
"LO APAIN SEPUPU GUE BEGO" teriak Dimas sambil mencengkram kerah baju Vano. Vano hanya mengerutkan keningnya bingung.
"Lo apa apaan sih Dim, gue apain Oliv emangnya?" tanyo Vano bingung, baru saja dia memasuki kelasnya tadi, tiba-tiba Dimas datang dan mencengkram seragamnya sambil berteriak marah, dia sebenarnya juga tersulut emosi namun jika dia juga emosian yang ada mereka malah berkelahi.
BUG!
"Dia dari kemarin gamau keluar kamarnya bego, gue udah ingetin lo kan Van, kalo emang lo mau pacaran dan suka sama Oliv, jaga dia, gue tau lah lo ga bisa romantis dan juga Oliv ga pernah kan minta apa-apa sama lo, seengaknya lo jangan buat dia nangis" ucap Dimas melepas kerah baju Vano ketika Julian. Brandon dan Dylan memasuki ruang kelas itu.
Pukulan Dimas sudah mengenai wajah Vano dan itu membekas disekitar bibir Vano. Sedikit berdarah lebih tepatnya.
"Gue gatau maksud lo apa, gue dari kemarin ga ketemu sama Oliv sama sekali, gimana bisa gue buat dia nangis, lo salah paham" ucap Vano.
"Van, bisa kita ngomong bentar" ucap Julian tiba-tiba membuat Vano menuruti dan mengikuti langkah Julian kearah taman belakang.
"Gue perlu ngomong sama dia bentar Dim, sorry" ucap Julian sebelum mereka keluar dari kelas lalu Dimas mengangguk, ada baik juga Julian membawa Vano, setidaknya dia bisa sedikit meredakan emosinya.
"Olivia ngeliat lo lagi sama Catherine di Cafe kemarin" ucap Julian langsung membuat Vano sedikit merubah ekspresinya namun sejenak kemudian kembali datar.
"Oh, gue cuma ngobrol biasa sama dia" ucap Vano santai.
"Dengan ngasih mantan lo bunga? I think it's not the simple meet up bro" ucap Julian sedikit emosi melihat jawaban Vano yang santai.
"Dia ngeliat juga itu? Itu cuma formalitas doang" ucap Vano.
"Olivia udah gue anggep kaya adik gue sendiri, ya walaupun gue ga sedeket itu sama dia, jadi kalo emang lo nggak suka lagi sama dia mendingan lo putus, kemarin dia bilang sama gue mau putus dari lo, kalo lo setuju bilang aja sama gue, biar gue yang sampein, kalo emang enggak mending sekarang lo datengin dia dan jelasin kedia, dia gamasuk sekolah hari ini, for your information, and it's because of you " ucap Julian.
"Gaada yang perlu gue jelasin ke dia, itu semua murni dia yang asumsiin sendiri" ucap Vano.
BUG!
Untuk kedua kalinya pukulan Dimas melayang kearah wajah Vano.
"Gue denger semuanya Anjing, lo.. Gue ga nyangka lo kaya gini, sorry aja ya, gue ga bisa jadi temen lo lagi Van, ga perlu gue temen kaya lo yang brengsek, salah besar gue biarin lo pacaran sama Olivia, gara-gara lo dia dibully sama mantan ga guna lo itu, perlu lo inget itu brengsek" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Julian dan Vano yang mematung di sana.
"Gue tau lo nggak kaya gini, jangan buat temen lo sendiri mikir hal yang nggak-nggak sama lo Van" ucap Julian lalu pergi mengikuti Dimas, dia tau sekarang Vano membutuhkan kesendirian untuk berpikir.
***
"AH ANJING" ucap Dimas berteriak kesal di tempat tongkrongan mereka biasanya, Dimas sempat membanting meja dan kursi didekatnya saking kesalnya.
"Ga nyangka gue dia kaya gitu, nyesel banget gue pernah baik dan temenan sama dia" ucap Dimas dengan wajah memerah karena sangat marah.
"Lo tenang dulu Dim, gue yakin dia punya alasan, lo tau kan dia sayang banget sama Oliv" ucap Dylan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult Love
Ficção AdolescenteApa jadinya jika bukan laki-laki yang mengejar wanita melainkan sebaliknya? Dan lebih parahnya lagi si laki-laki tidak menyukai wanita ini. Apa yang akan terjadi dengan percintaan keduanya nanti? When i love him, but him can't love me back, my love...
