"Kalo kayak gini terus. Mendingan gua ungkapin langsung deh perasaan gue. Toh semua orang udah tau kalle kalo gue cinta ama dia." Ucap Fiana lesu.
"GAK BOLEH!!!" jawab mereka bertiga yaitu Yura, Gendis dan Rio.
"Ehhh kenapa emangnya? Sekarangkan udah jamannya emansipasi wanita kali. Jadinya sekarang udah bukan hal aneh lagi cewe ngungkapin perasaannya." Sahut Fiana.
"Lo mah gak ngerti sih Na." Ucap Gendis.
"Maksud lo?"
"Gini lo Fiana sayang. Lo emang bisa aja ngungkapin perasaan lo. Tapi tetep aja usaha lo gagal. Karena usaha lo gagal buat bikin si Mr. Ice lo itu jadi peka sama perasaan lo. Apa dengan cara lo ngungkapin perasaan lo itu bakalan bikin dia jadi peka?" timpal Yura.
Rio dan Gendis melongo mendengar ucapan Yura. Mereka tak menyangka Yura tidak akan berpikir lemot. Namun, Gendis tidak mau melanjutkan pikirannya itu.
"Masih belum paham juga?" Gendis menghela nafas. Sejak kapan Fiana lebih lemot dari Yura. "Gini lo. Gue mau nanya sama lo yah. Apa hasilnya kalo lo ngungkapin perasaan lo? Apa dia bakalan peka dan punya perasaan yang sama dengan lo? Atau bahkan apa dia bakalan tetep bisa deket sama lo?" tanya Gendis dengan nada serius.
"Tapi-" ucapan Fiana terpotong oleh Rio.
"Intinya! Apa lo mau berhenti berjuang buat bikin dia punya perasaan yang sama lo? Atau malah lo mau dia menjauh dengan lo?" sahut Rio langsung.
"Gue mau dia juga punya perasaan yang sama dengan gue dan itu karena usaha gue." Gumam Fiana sambil menunduk.
"Itukan bukannya Riyan yah?" tanya Gendis.
Fiana yang mendengar ucapan Gendis langsung mendongakkan wajahnya dan melihat Riyan.
Riyan yang sedang mengedarkan pandangannya tiba-tiba pandangannya terkunci dengan tatapan Fiana. Fiana yang melihat Riyan hanya tersenyum manis saat pandangan Riyan tertuju kepadanya.
'Senyuman itu. Manis dan aku seperti mengenalnya' batin Riyan.
Entah apa yang dirasakan Riyan sehingga ia langsung mengubah ekspresinya menjadi lebih santai. Dan langsung membalas senyuman Fiana dengan senyuman tipisnya. Dan ia pun langsung berjalan melewati meja yang Fiana dan ketiga temannya menuju meja lainnya yang ternyata di sana ada Manda yang sedang duduk sendiri dengan buku kesayangannya.
Riyan menghampiri Manda dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. Ia duduk disamping Manda dan ia terlihat sangat bahagia dengannya.
Fiana berpikir.
Apakah ia harus bersikap egois dengan harus mencintai Riyan yang jelas-jelas hatinya adalah milik orang lain.
Apakah ia harus mementingkan hatinya terutama perasaannya.
Apakah ia harus memikirkan perasaannya sendiri?
Jika bukan dia yang mau memikirkan hatinya sendiri?
Siapa yang mau memikirkan hatinya?
Fiana menatap dengan tatapan sendunya.
"Lo liat sendiri kan. Apa dengan cara lo itu. Lo bakal ngerubah keadaan yang bener-bener terjadi di depan mata lo?" ucap Rio tiba-tiba.
Fiana menggeleng lemah dan tersenyum kepada mereka. Senyuman yang dipaksakan.
"Entah kenapa? Semakin sakit hati gue. Semakin besar rasa cinta gue." Lirih Fiana.
"Lo bego Na." Ucap Gendis sarkatik.
"Language Gendis!!!" sahut Yura memperingati.
"Ya gue memang bego. Cinta memang bikin orang jadi bego. Bahkan yang orang yang paling bego karena cinta itu gue. Semua orang punya alasan kenapa mereka mencintai seseorang. Meskipun orang yang di cintainya itu adalah orang yang paling jahat di dunia. Dan gue juga punya alasan tersendiri kenapa gue cinta sama dia." Ucap Fiana membuat semuanya diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
BE ONE [COMPLETED]
Novela JuvenilMungkin julukan Bad Girl tidak cukup untuknya. Gadis remaja yang selalu membuat ulah dan bersikap konyol. Dikenal tomboy tapi suka boneka barbie. Rajin bolos pelajaran tapi nilai paling tinggi. Yang hobbinya manjat pohon cerry tapi gk bisa turun. A...
![BE ONE [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/84541739-64-k300362.jpg)