Tujuh lilin, mewakili ketujuh siswi yang hadir mengelilingi meja dengan papan abjad di tengahnya. Tidak ada angin bertiup, namun lidah api dari lilin di hadapan mereka menari-nari seperti tertiup angin dari berbagai arah. Rambut halus di tengkuk mereka mulai meremang, tapi tak seorangpun berniat mengakuinya. Gadis-gadis itu saling bertatapan, lalu mengangguk bersamaan dalam gelap.
Fiona si pencetus ide mulai meletakkan koin perak ke tengah meja, sementara yang lain mengikutinya dengan meletakkan jari telunjuk mereka ke permukaan koin yang terasa dingin itu. Kasak kusuk mulai terdengar, Fiona merapal mantra, sementara yang lain mengikutinya dengan suara lirih. Upacara pemanggilan arwah Naydelinpun dimulai.
Suara tercekat salah seorang gadis terdengar saat koin mulai bergerak. Suara itu milik Violetta, yang paling penakut di antara mereka.
"Apa dia sudah datang?" tanya Violetta berbisik. Tidak seorang pun menjawab, karena disergap ketakutan.
Masih melekat dalam ingatan mereka, tentang Naydelin sang Ratu dari Sekolah Putri Santa Maria. Khususnya saat tubuh gadis itu ditemukan tergeletak tak bernyawa di kamarnya, dengan darah menodai gaun putihnya, dan pisau tertancap di ulu hatinya. Kemudian desas desus yang tersebar bahwa, sepatu kaca indah miliknya menghilang. Seolah dibawa pemiliknya ke alam sana, menjadi legenda.
Kisah klasik itu mengiringi niat mereka malam ini, untuk menemukan sepatu kaca Naydelin. Sepasang sepatu kaca yang konon, tidak seperti milik Cinderella, di mana sepatu kacanya telah mempertemukannya dengan sang Pangeran, sepatu kaca itu membawa kutukan. Meski begitu, setiap gadis ingin memilikinya. Memiliki segala keagungan dan keindahan pemilik sebelumnya yang seolah tersegel dalam sepatu itu. Semua gadis ingin menjadi Ratu.
Seolah memiliki dorongan sendiri, koin itu bergerak tak tentu arah, membuat mereka yang hadir malam itu menahan napas, berusaha menelan ketakutannya.
"Siapa yang hadir di antara kami?" Renata, yang berhasil mengendalikan ketakutannya mulai membuka pertanyaan.
Koin itu terasa semakin dingin, dan mulai bergerak menunjuk huruf-huruf ... N-A-Y-D-E-L-I-N.
"Apakah dia benar-benar Naydelin?" Violetta menyuarakan pikirannya. Tiba-tiba koin itu bergerak ke huruf Y, untuk jawaban Ya. Gracia yang menyadari Violetta akan menjerit segera membungkam mulut gadis itu.
Sebagian menghela napas, pertanyaan kedua telah terpakai. Kini mereka memiliki lima pertanyaan tersisa. Gadis-gadis itu saling berpandangan, menentukan dalam diam siapa yang akan mengajukan pertanyaan selanjutnya, sementara koin masih berpusar tak tentu arah.
"Naydelin," Gracia mulai membuka mulutnya dengan suara bergetar. "Di mana sepatu kacamu berada?"
Koin bergerak melingkar di hadapan mereka bertujuh, seolah-olah akan menunjuk seseorang. Membuat debaran jantung mereka semakin menggila hingga sulit mengatakan, debaran itu miliknya sendiri, atau milik teman di sampingnya.
"Cukup!" Olivia menarik tangannya, membuat koin berhenti bergerak. Koneksi telah terputus. Beberapa pasang mata di ruangan itu mengernyit kesal. "Aku tidak akan meneruskan permainan ini lagi," katanya, disusul helaan napas lega dari Violetta. "Apa kalian yakin arwah yang kalian panggil benar-benar Naydelin?"
Kalimat terakhir Olivia seketika membuat yang lain merasa ragu. Violetta hendak membuka mulutnya, menyuarakan keyakinannya, namun Olivia lebih dulu bangkit dari duduknya dan berkata, "Aku akan kembali ke kamarku." Lalu meninggalkan keenam temannya yang lain dalam keheningan.
"Tunggu aku Liv!" Anjani ikut bangkit, menyusul Olivia, teman sekamarnya.
⌛⌛⌛
Pagi menjelang, diselimuti mendung. Seluruh siswi di sekolah putri Santa Maria sibuk mempersiapkan pesta dansa tahunan, sekaligus ajang pemilihan ratu sekolah. Beberapa siswi yang terlibat dalam pemanggilan arwah masih memendam kesal pada Olivia, karenanya mereka kehilangan kesempatan mendapatkan sepatu kaca Naydelin. Juga kesempatan menjadi ratu.
Violetta menyadari kesenjangan di antara teman-temannya sejak peristiwa pemanggilan arwah Naydelin tiba-tiba terhenti, dan dia tidak menyukainya. Olvia dan Anjani tidak lagi bercengkrama bersamanya saat makan siang, dan kelompok mereka terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil lagi. Michelle bersama Renata dan Fiona membentuk kelompok sendiri entah di mana, sementara Violetta makan siang bersama Gracia.
"Kau tahu Grace," bisik Violetta. "Aku tadi mendengar Olivia berbisik pada Anjani, bahwa dia melihat sepatu kaca itu di rak sepatunya, saat di kelas Kimia."
"Kau yakin?" tanya Gracia, dengan alis terangkat.
Violetta mengangguk. "Aku duduk di samping Oliv, pura-pura tidur."
Rasa ingin tahu mereka kemudian dialihkan oleh suara derap langkah pantofel yang berlarian di sepanjang koridor.
Tiba-tiba rasa panik menyergap mereka berdua. Gracia bangkit dari kursinya, disusul Violetta.
"Ada apa ya?" tanya Violetta.
Gracia mengangkat bahunya, mengikuti arah siswi lain berlari. Hingga keramaian berpusat di depan pintu kamar mandi di samping Lab Kimia. Langkahnya berangsur-angsur melambat saat menangkap sosok Anjani yang menangis sambil membekap mulutnya. Gadis itu tampak terkejut dan diliputi ketakutan.
"Jani," Garcia menyentuh bahu Anjani, membuat gadis itu menoleh dan langsung memeluknya. "Apa yang terjadi?"
"Seharusnya... kita tidak melakukan pemanggilan arwah itu," ucap Anjani di sela tangisnya.
"Maksudmu?" Gracia mendorong Anjani, memberikan jarak sepanjang lengan, dan menuntut jawaban lebih lengkap dari gadis itu.
Ketakutan seolah ditularkan Anjani kepadanya. Ia tidak menyadari bahwa gadis-gadis lain yang terlibat dalam pemanggilan arwah itu telah mengelilinginya.
Anjani menatap wajah temannya satu-persatu, lalu mulai berkata, "Oliv, dia... dia bunuh diri." Tangisnya kembali pecah. "Pisau menusuk ulu hatinya, seperti yang terjadi pada Naydelin."
Dalam diam, mereka semua seolah menyadari bahwa, kematian Olivia merupakan awal dari teror yang akan terjadi pada malam-malam setelahnya. Kutukan sepatu kaca itu akan menghampiri mereka, disertai kematian.
⌛⌛⌛
Dua hari berselang, Anjani mengundurkan diri dari sekolah. Namun, teror itu tidak berhenti mengejarnya. Sampai sebuah kabar terdengar bahwa, Anjani meninggal seminggu kemudian. Penyakit meningitis yang dideritanya kambuh, membawanya pergi untuk selama-lamanya.
Violetta yang pertama mendengar kabar itu, menangis bersama Gracia di kamar mereka.
"Bagaimana caranya berhenti, Grace?"
Gracia menggeleng. "Tidurlah Vio, malam sudah larut." ucap Gracia, sembari membelai lembut rambut sahabatnya.
Malam itu Violetta seperti bermimpi. Ia melihat sepatu kaca milik Naydelin berkilauan di lantai keramik kamarnya, bergerak-gerak seperti sedang melakukan gerakan dansa klasik, diikuti senandung lirih bersuara merdu.
Suara itu seperti milik Naydelin, tapi Violetta tak yakin dengan pikirannya. Angin dingin berhembus melalui jendela kamarnya yang terbuka, meniup gorden-gorden ke segala arah. Selanjutnya, sepatu itu bergerak mendekatinya. Violetta merapal doa dalam ketakutannya.
Suara itu berbisik di telinganya, "Kembalilah tidur Violet..." dan perlahan-lahan matanya kembali menutup.
Fajar menjelang, saat Violetta terbangun dengan napas tercekat. Kamarnya gelap dan hangat, tapi ia merasa dingin di sekujur tubuhnya. Lalu dadanya berdegup dengan kencang tiba-tiba, saat kembali teringat mimpi yang menghampirinya semalam. Naydelin, dan sepatu kacanya.
Mungkinkah, dia adalah korbanselanjutnya dari kutukan sepatu kaca itu?
End
Author: resrezi
Genre: Horror-Mistery
Editor: Ally Jane
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Pilihan
Short StoryCerita-cerita yang ada di sini merupakan hasil karya para Memberdeul KANOI. Enjoy reading! ^_^
