Games - Masquerade Ball

326 4 0
                                        

Resy Adinovitasari:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Resy Adinovitasari:

Meski sebagian wajahnya ditutupi topeng, dan cotehardienya tampak mewah, aku masih mengenalinya. Pria bertubuh tinggi yang sedari tadi mengawasiku, sejak aku memasuki aula dansa. Topeng hitam berhias bulu gagak itu, sama sekali tidak bisa menyembunyikan identitasnya. Jasper Gillbert, satu-satunya pria bermata hijau zamrud di kota ini. Ia membungkuk untuk memberi penghormatan, menyambut kedatanganku.

"Selamat datang, Putri Elisa."

Aku mendengus, "Aku tidak menyukai pesta topeng rakyat jelata," kataku angkuh.

Dadaku masih saja berdebar, menghindari mata-mata pengawas yang mungkin saja mengikutiku.

Jasper tertawa, menangkap kegelisahanku. Suara tawanya benar-benar menggoda. "Oh, Elisaku yang manis... aku hampir tidak mengenalimu di balik topeng emas ini," Jasper membelai sisi wajahku yang tidak tertutup topeng. "Corak sisik naganya benar-benar melambangkan kepribadianmu, cantik dan angkuh."

Aku berdecih, nyaris menyumpahinya dengan kata-kata yang akan membuat ibunda pingsan bila mendengarnya. Aku seharusnya menghindari seorang Jasper Gillbert, tidak mempercayai kata-katanya, atau bahkan mengenalnya. Dia bisa saja memiliki taring beracun seperti ular berbisa di antara giginya yang berjajar rapi.

"Dansa?" tawarnya, di antara kemelut pikiranku. Ah, persetan dengan hal itu. Aku menyambut uluran tangannya tanpa ragu. Lalu Jasper tertawa lagi. "Kau benar-benar menarik, Elisa." Dan kami berdansa.

Musik mengalun dengan tempo yang lebih cepat, dan semakin cepat. Gerakan dansa kami berubah tak beraturan dan tanpa sadar tawaku lepas. Jasper selalu membuatku bahagia pada akhirnya, melupakan amarahku.

Aku mendengar Jasper berbisik ke telingaku, "kau harus sering-sering menyelinap keluar dari kastil, dan tertawa seperti ini, Elisa. Aku mencintaimu."

Kami bersitatatap sejenak, lalu dia menciumku. Malam ini Jasper adalah milikku, dan aku miliknya. Aku akan berhenti mengkhawatirkan hal-hal lainnya.

Persetan dengan kasta, moral, dan aturan-aturan hidup. Aku tidak peduli fakta bahwa, Jasper Gillbert adalah kakak sekandungku. Aku mencintainya, dan aku akan melakukan apa saja untuk bersamanya.

 Aku mencintainya, dan aku akan melakukan apa  saja untuk bersamanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Inasni Dyah R:

Bertha berusaha melepaskan genggaman dua pengawal di kanan-kirinya. Dia berusaha tidak mengeluarkan suara, atau dia akan menarik perhatian. Berkali-kali, Bertha menoleh ke gedung pesta di belakangnya. Membuat langkahnya tertahan meski dia sudah mencapai anak tangga terbawah.

Udara dingin dan korset yang sesak hampir membuat Bertha meledak, tapi sebuah suara tegas memecah keheningan.

"Nona Winifred bersama saya." Sosok itu berjalan dari arah gerbang, tinggi menjulang sembari mengulas senyum sopan. "Tenang saja, dia sudah mendapat izin masuk dan berjanji takkan mengacau lagi."

Tanpa membuang waktu, Bertha menyentak lengan dan berjalan cepat ke arah Michael. Dia sedikit mendengus saat kembali berjalan naik, namun Michael menggenggamnya erat seolah memberi isyarat untuk tidak berulah lagi.

Sesampainya di dalam, Michael berbisik, "Kau tahu, kakakmu Josephine takkan rela berpisah dengan Baxter, tunangannya."

Bertha melirik Michael yang menggunakan topeng berbulu hitam, sama sepertinya. Di pesta topeng sebesar ini, kostum hitam-hitam mereka berdua memberi kesan seperti dua malaikat maut yang tersesat. Namun, Bertha lebih tertarik dengan fakta Michael yang selalu menemaninya meski dia pernah mengacau di pertunangan Josephine, bahkan di setiap pertemuan kakaknya dan pasangannya itu.

"Dari awal," Bertha menarik napas, "tujuanku hanya kau."

Michael menatap tajam ke arah Bertha, dengan luwes menariknya ke lantai dansa. "Kau tahu kita hanya sepupu."

"Aku tidak bilang kita harus bersama," balas Bertha, tidak kaget saat tahu Michael tahu. "Aku juga tidak bilang kau harus menerima perasaanku. Semua akan jadi masalahku sendi--"

Michael memotong ucapan Bertha dengan satu kecupan di punggung tangan. Senyumnya kembali mengembang. "Sekarang, jadi masalah kita berdua."

^_^ Terima kasih buat yang sudah ikutan ^_^

Cerita PilihanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang