[SELESAI] Repost
Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
Sabtu sore tiba. Airi, Sally, Susan, dan Luki sudah berkumpul di lobi gedung bioskop. Airi dan Sally datang paling pertama, Susan dan Luki muncul 2 menit kemudian.
"Agil belum datang?" tanya Susan yang datang dengan kaos merah bergambar hati dan celana hitam ketatnya.
"Dia lagi ke tempat Davi dulu," ujar Sally.
Airi melirik Susan yang membulatkan mulut dengan tegang. Tadi malam ia baru ingat jika Sally pernah bercerita bahwa Susan sempat menyukai Davi juga. Meski Sally bilang Susan sudah melupakan perasaan sukanya pada Davi sejak lama, tapi tetap saja Airi khawatir.
"Wah, baju lo bagus, Ri! Modelnya simpel tapi kece. Lo kelihatan keren!" puji Susan, mengamati kostum Airi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Oah, serius nih? Kaos lo juga bagus. Kemarin gue juga lagi nyari kaos yang modelnya begitu sama Emily, tapi sudah nggak ada," sahut Airi, menyembunyikan kegugupan.
"Agil kok lama, ya." Kemudian Sally melihat jam di tangan. "Sus, lo yakin kita nggak bakal kehabisan tiket? Gimana kalau kita pesan dulu? Biar Airi sama Luki yang nunggu Agil sama Davi di sini."
"Gue kira lo nggak bakal datang, Ki." Airi segera membuka percakapan setelah dua temannya pergi. "Waktu Sally bilang Susan mau ngajak lo, terus terang gue nggak yakin lo bakal pergi. Tapi yah, Susan anaknya menyenangkan, gue juga suka ngobrol sama dia."
Luki tersenyum tipis, entah apa maksudnya. "Gue pikir lo bakal datang bareng Davi," ia mengalihkan.
Airi jadi salah tingkah. Davi adalah teman Luki, harusnya ia menyadari hal itu lebih awal. "Tadinya Agil mau ngajak Galang biar gue nggak dikacangin Sally atau Susan, tapi akhirnya Agil malah ngajak Davi," ujarnya, agak menunduk.
Rai benar. Airi memang tak mungkin berani mengajak Davi pergi. Saran Emily dan Violin tak mungkin bisa ia turuti. Namun Sally punya cara tersendiri. Sejak ia tahu Airi suka Davi, maka sebisanya ia melakukan sesuatu yang terbaik untuk sahabatnya. Saat Agil ingin menjodohkan Galang dengan Airi, maka Sally memaksanya agar mengganti Galang dengan Davi.
"Ini pertama kalinya kita pergi bareng di luar jam sekolah," ucap Luki setelah keadaan hening sejenak.
"Hm, benar juga," sahut Airi. "Ngomong-ngomong, Ki, gue mau tanya sesuatu. Plis, lo jangan ketawa." Ia menghela napas sebentar. "Ini kan kencan pertama lo sama Susan. Apa lo nggak merasa gugup sama sekali?"
Luki menatap Airi beberapa lama. Agaknya ia tahu apa yang anak itu rasakan. "Ada rasa nggak nyaman sih, tapi nggak terlalu," jawabnya kemudian. "Gue nggak terbiasa pergi sama banyak orang yang nggak gue kenal baik seperti sekarang. Mungkin kalau gue nggak tahu lo juga berpartisipasi, gue pasti sudah nolak ajakan Susan."
Airi baru mau bertanya lagi tapi tiba-tiba ia melihat Andina. Cewek itu tengah berjalan melewati depan lobi bioskop dengan seorang cowok. Andina mengamit lengan cowok itu mesra sambil bercanda. Jika dilihat-lihat dari cara mereka berinteraksi, sepertinya cowok itu adalah pacarnya.