"Cewek lo belum datang?" Airi bertanya saat ia dan Rai sudah berada di dalam cafe, tapi teman kencan mereka belum ada yang kelihatan.
Rai dan Airi memilih meja yang sangat berdekatan. Sesuai saran Luki, jadi jika hal yang dikhawatirkan terjadi mereka bisa saling membantu. Selama perjalanan ke cafe tadi mereka telah merencanakan berbagai hal untuk persiapan.
"Itu cewek gue!" Rai tiba-tiba menunjuk pintu masuk. Airi segera menoleh dan benar saja. Cewek imut yang pernah ia lihat dengan Sally sebelumnya datang. Rai tampak sedikit canggung saat cewek itu mendekat.
"Sudah lama, Babe?"
Babe? Airi hampir ngakak mendengar Rai dipanggil seperti itu.
"Baru sebentar, kok." Rai menjawab dengan nada suara yang tidak seperti biasa. Suaranya terkesan sopan dan lembut.
Airi melirik Rai, mengisyaratkan agar ia segera keluar dari cafe sebelum Davi datang. Ini adalah bagian dari rencana mereka.
"Babe, kamu tunggu di sini sebentar, ya? Aku mau ngasih sesuatu sama Miller di depan. Sebentar banget, kok. Nggak sampai 5 menit. Tunggu, ya?" Rai tersenyum pada ceweknya. "Pesanin aku minuman dulu juga boleh."
"Oke. Kamu mau minum apa?" tanya ai cewek.
"Terserah kamu aja, Babe." Rai tersenyum lagi sebelum berdiri, kemudian ia segera keluar dari sana.
Cafe cukup sepi. Selain Airi dan pacar Rai, hanya ada beberapa meja yang diisi pengunjung. Lagu yang diputar di dalam cukup kalem sehingga menambah suasana tenang cafe itu.
Beberapa kali Airi menengok ke arah pintu untuk mengecek Davi sudah tiba atau belum. Davi belum mengirim pesan lagi, jadi ia yakin jika cowok itu sudah hampir sampai tempat tujuan.
Airi menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri. Ia tak bisa menahan gugup. Padahal cewek Rai yang dua tahun lebih muda darinya saja tampak santai.
"Kamu belum pesan minuman?" Suara itu mendadak muncul dari depan membuat Airi nyaris terjengkang. Suara Davi!
"Oh," Airi langsung panik tahu cowok itu sudah duduk di hadapannya. Ia sampai tak sadar cowok itu telah tiba karena sibuk melamun. Kesulitan menjawab, Airi hanya menggeleng dengan payah.
"Kalau pesan chococinno gimana? Kamu suka, nggak?" kata Davi sambil melihat daftar menu.
Segera Airi mengangguk karena Davi terus melihatnya. Namun dari tatapannya anggukan saja dirasa tidak cukup. Saat bingung harus mengeluarkan suara mendadak Airi melihat Rai masuk sambil menunjukkan kepalan tangannya.
"Semangat, Ai!" Pasti itu maksud dari tindakannya.
"Aku suka chococinno. Jadi itu aja." Berkat kemunculan Rai, akhirnya Airi bisa bersuara juga. Saran Luki ternyata mujarab luar biasa.
Davi tersenyum lega. "Oke," ucapnya. "Sama pesan apalagi ya enaknya?"
"Mm...," Airi melihat daftar menu yang diperlihatkan Davi.
"Yang ini kamu suka nggak?" Davi menunjuk satu nama dalam dafar.
"Ini sejenis redvelvet atau apa? Aku belum pernah coba pesan kayaknya," ujar Airi lalu menatap ragu Davi.
"Aku juga belum pernah, sih. Kalau begitu kita pesan ini aja. Kayaknya ini menu baru di sini."
"Boleh, deh." Airi tersenyum, begitu pula Davi. Mereka bertatapan beberapa lama sampai kemudian Rai datang.
"Hai, Ai! Di sini juga lo? Sama siapa?" Ia mendekat dengan akting berlebihan.
"Eeh, Rai?" Airi pura-pura terkejut, sama berlagaknya. "Gue sama ... Davi." Ia menunjuk cowoknya di seberang meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Mystery / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
