38. Untuk Davi

3.8K 371 118
                                        

"Bisa jadi Davi benar-benar cinta sama kamu. Mungkin saja selama ini dia sengaja mengikatmu dan bergonta-ganti pacar selagi masih muda, tapi sebenarnya cuma kamu yang ingin dia seriusi. Cowok kan banyak yang kayak begitu. Siapa tahu besok tiba-tiba dia datang untuk melamar," kata Widi, salah satu rekan kerjaku saat kami makan siang di kafetaria.

Widi bergabung denganku dan Alexandra di ruang admin sejak dua bulan lalu. Secara tak langsung ia juga jadi mendengar semua kisahku.

"Rasanya mustahil," ucapku setelah terdiam sejenak. "Mana ada seseorang memperlakukan orang yang dicintainya dengan cara menyiksa? Itu juga tidak cuma satu atau dua tahun dia melakukannya."

"Ya mana kita tahu? Hidup itu penuh kejutan, Airi," timpal Widi. "Misal besok atau suatu ketika tiba-tiba Davi datang ke rumahmu dan bilang ingin menikahimu, kira-kira kamu akan jawab apa?"

Kulihat Alexandra ikut menatapku. Ia pasti juga penasaran dengan jawabanku. Jujur saja aku tak tahu. Dulu aku juga pernah memikirkan hal ini setelah mendengar pembicaraan Gaara dan temannya, tapi kupikir itu hanya akan membuatku besar kepala pada hal yang tidak nyata. Aku tahu bukan itu maksud utama Davi menyihirku. Aku bukan dipingit karena cinta, tapi karena kebenciannya.

Jika boleh berharap, aku harap Davi bukanlah jodohku. Bukan karena sekarang aku membenci atau tak lagi menyukainya, bukan itu masalah utamanya. Tidak ada maksud menjelekkan, tapi jika seseorang yang menyenangi hal-hal sihir bahkan rela membuat orang lain menderita hanya karena nafsu semata, apakah dia cukup baik untuk dijadikan seorang imam keluarga? Aku tahu semua orang bisa berubah, begitu pula dengan Davi. Namun entahlah.

Aku sadar pengaruh Love Poison itu belum sepenuhnya sirna dari dariku. Aku masih sering bingung melawan rasa yang membuatku seakan-akan menyimpan cinta meski kuyakin kini aku sudah mulai bisa lepas dari belenggunya. Mungkin karena terlalu lama hidupku diikat oleh Davi dan dipaksa terus memikirkannya, aku jadi tak tahu apa yang kupunya. Selama ini aku tidak punya siapa-siapa di hati selain dia. Kini setelah sadar rasanya hatiku menjadi hampa. Kosong tiada penghuninya.

Aku sudah tak tahu lagi apa itu cinta. Berkat Davi aku jadi lupa cara merasakannya dan tak tahu menahu seperti apa rasanya saling mencinta. Kupikir cinta itu adalah dia. Masalahnya hidupku sudah dipenuhi Davi sejak masih remaja. Sekarang aku bagai anak polos terlahir ke dunia yang tahu-tahu sudah dewasa dan dituntut untuk segera mengakhiri masa lajangnya.

"Hey, kenapa diam saja?" Seruan Widi membuat lamunanku seketika buyar. "Bagaimana? Mau tidak jadi istrinya?"

Aku mengedik. "Kurasa aku tidak... ah, entahlah, Wid. Kenapa tidak terapkan pada dirimu saja? Kalau seseorang yang sudah membuat hidupmu bertahun-tahun dalam kejadian demikian bilang ingin menikahimu, apa kamu akan bersedia? Lagi pula Davi punya pacar. Tidak mungkin dia masih menyimpan rasa untukku. Yang ada dia sudah menyimpan benci tujuh turunan."

"Eh, jangan terlalu su'udzon kamu, Ri. Semua bisa saja terjadi. Namanya juga kehidupan," sergah Widi. Ia memang punya tingkat optimisme yang tinggi.

"Tapi kulihat di jejaring sosial katanya Davi akan segera menikah dengan pacarnya," sela Alexandra tiba-tiba.

Well, aku tak kaget mendengarnya. Sandra memang berakhir jadi mata-mata Davi sejak hari di mana kami menemukan akun facebook-nya. Dari situ ia jadi tahu akun jejaring sosial Davi yang lain seperti instagram dan sebagainya.

"Beneran dia mau nikah? Sama pacar yang kamu bilang nggak terlalu cantik itu, San?" tanya Widi. Alexandra cuma mengangguk sebagai jawaban.

"Mungkin dia tak terlalu cantik tapi orangnya pengertian, Wid," aku menyahuti membuat Sandra langsung tertawa.

"Wah, kabar bagus itu, Ri! Temanku yang dulu kena sihir cinta tiba-tiba sembuh setelah pengirimnya menikah! Semoga aja kamu juga," seru Widi segera.

Flashback WindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang