32. Danau Berbunga

1.9K 258 44
                                        

Aku terbangun dan mendapati diriku berada di sebuah tempat asing. Tentu saja aku bingung. Bagaimana caranya aku bisa sampai ke sini? Keadaan yang tampak tidak bisa kupastikan saat ini pagi atau sore hari. Suasananya tidak begitu jelas karena udara penuh kabut.

Aku bangkit dan memperhatikan keadaan sekitar. Tempat apa ini sebenarnya? Kenapa aku bisa berada di sini? Aku bahkan tidak tahu kapan perginya tapi tahu-tahu sudah di sini.

Aku coba menapak sambil melihat berkeliling. Setidaknya aku harus tahu berada di mana dulu supaya bisa mencari jalan pulang.

Ada banyak pohon rindang yang tampak di kejauhan. Sedang di sekitarku hanya tedapat semak-semak belukar. Tempat ini pastinya jarang dijamah manusia. Lihat saja rumput-rumput yang tumbuh liar, membuatku harus membuat jalan sendiri agar bisa lewat.

Aku melangkah lagi dan menyibak sebuah rerimbunan. "Aduh!" Refleks aku memekik saat kakiku menginjak sesuatu. Aku menundukkan kepala untuk melihat benda apa itu. Rupanya cuma beberapa gumpalan tanah yang mengering. Beberapa ujungnya melancip membuat telapak kakiku sakit saat menginjaknya.

Aku baru sadar jika saat ini aku tak memakai alas kaki. Pantas sejak tadi rasanya agak sakit setiap kali aku memijak tanah. Ini semakin mengherankan. Tidak biasanya aku pergi keluar rumah tanpa alas. Malah sepertinya tidak pernah. Seumur-umur aku bertelanjang kaki hanya saat berada di dalam rumah.

Meskipun bingung aku tetap melanjutkan perjalanan. Di sekelilingku ada banyak pohon jeruk tak begitu tinggi yang sepertinya sengaja ditanam oleh seseorang. Terbukti dari adanya gundukan-gundukan tanah panjang yang teratur. Barisan pohonnya juga rapi. Jika begini tempat ini pasti dulunya pernah dirawat seseorang. Mungkin orang itu sudah mati dan kini kebunnya dibiarkan hidup meliar.

Biarpun langit tertutup kabut tebal tapi cuacanya bisa dibilang cukup cerah. Sinar matahari yang berhasil menembus awan menghasilkan cahaya pucat membuat keadaan tempat ini terasa hangat.

Aku sedang akan melangkah lagi saat tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundakku dari belakang. Aku kaget. Cepat-cepat aku menoleh, dan betapa terkejutnya aku saat melihat siapa di sana.

Davi sudah berada di belakangku, entah sejak kapan. Melihatku terkejut ia hanya tersenyum. Senyumnya begitu lembut membuatku tak bisa lekas membuang pandangan.

Davi menatapku tanpa berbicara apa-apa. Ia menarik pergelangan tanganku lalu mengajakku berjalan melewati barisan pohon-pohon jeruk yang setengah mengering tadi.

Tunggu. Apa sejak awal Davi yang membawaku ke tempat ini? Sepertinya Davi tahu ke mana kami seharusnya pergi. Apa aku pergi ke mari dengannya? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?

"Akh!" pekikku sebab sebelah lenganku tersangkut ranting. Aku langsung menghentikan langkah. Lengan kananku tergores. Aku melepaskan tanganku dari Davi lalu coba menyingkirkan ranting yang masih menancap di lenganku.

"Aduh!" Karena kurang hati-hati saat mencabut, jemariku jadi ikut lecet. Ranting kering tadi ternyata berduri. Jari telunjuk dan jari tengahku sampai berdarah karena tertusuk durinya yang tajam.

Davi yang tahu aku terluka segera berbalik dan mendekat. Ia mengamati lengan dan jariku yang berdarah. Wajahnya tampak begitu menyesal melihatku seperti itu. Ia tahu aku hampir menangis karena menahan perih. Ia pun meraih tanganku kemudian meniup-niup bagian jariku yang terluka. Meski tak bersuara tapi aku tahu bahwa dia sedang meyakinkanku ini tidak apa-apa.

Aku melihat muka Davi saat merawat lukaku. Dia begitu baik dan perhatian. Seketika lukaku tak lagi terasa melihat senyum manis dari wajahnya. Maka kami segera melanjutkan perjalanan. Kali ini Davi menuntunku lebih pelan. Ia sangat berhati-hati. Ia bahkan menyingkirkan ranting-ranting yang akan kulewati agar aku tak terluka lagi.

Flashback WindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang