"Kau beri rasa yang berbeda,
Mungkin kusalah
mengartikannya
Yang kurasa cinta."
___________________________________
Hari semakin siang. Emily dan Violin akhirnya datang. Mereka masuk kelas sambil asyik membicarakan acara TV yang mereka tonton semalam.
"Ri, lo nonton Maggie juga nggak tadi malam? Kocak banget, kan?" Violin yang duduk di belakang Luki pun menyapa dengan energi penuh lagi ceria.
"Iya, gue juga nonton semalam. Lucu banget." Airi bersuara l meski tidak sekeras biasanya. Senyum pun ia pasang hingga Violin atau Emily tak akan melihat ada yang aneh darinya.
"Menurut gue, adegan paling kocak itu saat Maggie sama kucingnya dikejar anjing punya tetangga. Tetangganya yang mirip Mr. Bean itu, lho," ujar Emily lalu ia dan Violin tertawa lagi.
Airi berusaha ikut tertawa namun ternyata tidak bisa. Ia cuma sanggup melebarkan bibir sebagai tanda ia merespon pembicaraan dua temannya.
"Hey, kalian baru datang?" Tiba-tiba Andina masuk.
"Eh, Ndin, tadi malam lo nonton Maggie nggak?" Violin segera menanyai cewek itu.
"Nggak. Tadi malam gue nggak sempat nonton TV," ujar Andina, meringis.
"Lah, memang lo ngapain? Tadi malam kan dingin banget. Enak juga di rumah selimutan sambil nonton TV," Violin menatapnya heran.
"Gue duduk-duduk di depan rumah, ngobrol sama Davi," ujar Andina seraya melirik Airi.
Luki yang sejak tadi diam pura-pura bermain ponsel pun ikut menengok. Sepertinya Luki ingin melihat reaksi Airi bagaimana.
"Wah, lo sama Davi ngomongin apa kali ini? Gimana perkembangannya soal Airi?" tanya Emily antusias.
"Itu...." Andina tampak ragu menjawab. Ia baru mau berbicara tapi bel terdengar membuat semua anak ramai-ramai masuk kelas. Maka pembicaraan anak-anak terhenti karena Pak Rahmad kemudian datang.
*** Flashback Wind***
Hari sudah berganti. Baik Emily maupun Violin belum tahu bahwa Davi sudah berpacaran dengan Andina. Airi pun belum memberi tahu dua temannya itu tentang apa yang terjadi. Untuk menghindari keributan, sejauh ini Airi baru bercerita dengan Sally.
"Kan gue sudah bilang beberapa kali sama lo orang seperti apa itu Davi. Dia memang baik sama semua orang. Sampai nggak bisa dibedakan arti baiknya itu gimana," ujar Sally saat Airi bercerita lagi di pagi berikutnya, di dalam bus.
"Yah, gue tahu perasaan lo, Ri. Sebaiknya nggak usah terlalu sedih. Nggak cuma lo kok yang pernah ngalamin." Susan yang rupanya duduk di belakang keduanya menyambung. Pasti Sally sudah cerita padanya tentang Davi melalui telepon.
Airi tersenyum tipis. Susan biarpun kadang terlampau cerewet dan agak centil begitu, dia adalah anak yang baik dan bersikap netral. Mungkin Airi harus belajar dari Susan. Ia tampak tidak dendam dan tetap bersemangat biar pun hati pernah dikecewakan.
"Iya, gue merasa kemarin Airi benar-benar nggak kayak biasanya." Terdengar suara Emily saat Airi hendak masuk kelas. Maka ia pun memutuskan untuk berhenti dulu di depan pintu.
"Gue juga merasa begitu, sih. Dia tersenyum tapi senyumnya nggak lepas. Gue yakin dia pasti sedang punya masalah," sahut Violin. "Eh, Rai, apa yang sudah lo lakuin? Airi pasti begitu gara-gara lo, kan? Ngaku!" Berikutnya ia memarahi Rai yang sedang menyalin PR Bahasa Inggris milik Luki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Misteri / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
