23. Rai

2.1K 269 38
                                        

***Flashback Wind***

Sejak Andina putus dari Davi, aku ingat semua kejadian di sekolah berlangsung normal. Kami semua tetap berteman dan tak pernah membahas mengenai Davi lagi. Andina kembali baikan dengan pacarnya, sedangkan aku lebih fokus pada sekolah karena saat itu hampir ujian kenaikan kelas.

Gaara mengucapkan mantranya sampai angin sepoi kembali datang. Sinar putih memancar membutakan keadaan, dan saat semua itu memudar pemandangan sama dengan rasa berbeda telah menyambutku.

Bangunan SMA Harapan masih sama kokohnya. Lalu lalang anak-anak berseragam putih abu-abu, hiruk pikuk dari kantin dan lapangan olahraga juga terdengar tak jauh berbeda dari sebelumnya.

Gedung kelas 12 terletak di barisan gedung pertama dari gerbang. Untuk kelas 12 Bahasa-1, kelas Airi yang sekarang, letaknya kembali di lantai dua.

"Airi kampret!" Sosok Rai tiba-tiba muncul dari arah tangga. "Lo nggak nolongin gue, sih? Gue dikejar-kejar setan bedakan lo malah santai aja!" serunya dengan muka kesal.

Airi yang muncul belakangan tertawa. "Itu bukan setan, Rai. Anak kelas 10 itu fans lo," sahutnya.

Rai mendumal. "Ngefans sih boleh aja, cuma bentuknya jangan gitu juga kali. Dandan ke sekolah kok kayak pemain kuda lumping mau tampil aja."

Lagi-lagi Airi tertawa. Sejak naik kelas 12, banyak adik kelas baru yang mulai suka menggoda Rai. Kebanyakan dari mereka tentu belum tahu isi kepala cowok itu. Mereka hanya melihat tampangnya yang lumayan. Tak heran Rai jadi idola baru cewek-cewek kelas 10, apalagi yang dulunya bukan alumni SMP Harapan.

"Hey, Airi!" Violin yang tengah nongkrong di depan kelas dengan Emily berteriak.

Keadaan kelas dan hari-hari Airi tak banyak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya. Selain Rai dan Luki, Airi mendapat kelas yang sama dengan dua anak itu lagi. Hanya Andina yang terpisah. Ia masuk 12 Bahasa-3.

"Ada apa, Lin? Lo kayaknya lagi senang banget," sahut Airi sambil menghampirinya.

"Gue ketemu Galang di koridor tadi. Dia senyum sama gue, Ri!"

Airi tersenyum. "Harusnya lo ajak dia ngobrol."

"Gimana, ya? Gue suka salah tingkah kalau berhadapan sama dia."

Sejak kejadian saat liburan kenaikan kelas di mana Violin dan Galang bertemu di sebuah festival kesenian, Violin mulai menyukai cowok itu. Galang, yang tak lain adalah teman baik Davi, yang dulunya pernah mau Sally jodohkan dengan Airi.

"Malu itu harusnya saat gue tahu kemarin lo pakai bra warna pink fanta dan sekarang lo pakai warna yang sama, Lin."

Sebuah kipas kayu yang sedang dipakai Violin terbang ke kepala Rai.

"Pokoknya lain kali gue bakal minta Saputra buat ngasih salam gue ke Galang," kata Violin tanpa mempedulikan Rai yang meringis kesakitan.

"Boleh juga," ujar Airi. "Oh, ya. Luki di mana?"

"Lagi tidur kali. Kayaknya dia masih nggak enak badan hari ini," ujar Emily.

"Jangan-jangan karena Susan sudah jadian sama anak SMA Taruna si Luki jadi patah hati," celetuk Violin. "Salah sendiri nggak langsung tembak. Susan kan butuh kepastian."

"Kayaknya Luki nggak sesuka itu sama Susan," kata Emily. "Rasanya ada orang lain yang dia suka."

"Kalau itu benar, pasti orang itu Airi!" ceplos Violin tanpa sungkan.

Flashback WindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang