Selama beberapa detik aku hanya bisa terbengong. Luki melihat Gaara. Luki bahkan mengobrol dengannya. Sungguh, aku masih sulit mempercayainya. Selama ini tak ada orang lain di sekitarku yang pernah melihatnya. Atau hanya perasaanku saja?
"Jadi kamu kerja di kantor jasa Bina Mulia, Ri? Sudah lama?" Kalau saja Luki tak menanyaiku lagi, aku pasti akan terbengong selamanya.
"Mm, iya. Sudah cukup lama," jawabku sambil coba tersenyum. "Kamu sendiri kerja di mana, Ki?"
"Kerjaanku cuma ke sana ke mari," ujarnya membuatku mengerutkan kening.
Apa maksudnya? Luki jadi pengacara alias Pengangguran Tiada Acara atau bagaimana?
Luki tertawa saat melihat ekspresiku. "Kamu tahu, kan? Aku lulusan mahasiswa seni. Jadi kerjaanku nggak selalu dipandang pasti oleh orang," terangnya.
"Masa sih? Aku dengar dari Violin, dulu kamu jadi DJ?"
"Awalnya cuma buat kesenangan, tapi sampai sekarang aku masih sering dapat job dari beberapa kelab. Kadang juga dapat undangan buat ngisi acara teman," ujar Luki. "Baru-baru ini aku lagi coba-coba buka studio musik di dekat jalan Gajah Mada. Aku nggak terlalu pintar berinvestasi."
"Waah, itu keren banget!" pujiku segera. "Aku punya sepupu yang suka ngeband. Nanti aku akan rekomendasikan dia buat sering datang ke tempat kamu deh, Ki."
"Boleh juga," sahut Luki sambil tersenyum.
Oke, dia pakai kalungnya. Jangan memandangnya lebih dari tiga detik. Jangan sampai terpengaruh pesona ajaib dari kalungnya. Aku mengintruksi diriku dalam hati agar tidak memandang Luki lama-lama. Kulihat Gaara tampak menahan senyum. Ia pasti mendengar suara batinku. Mau mengejek, ya? Huh, memang siapa juga yang akan peduli?
"Omong-omong jam makan siangku hampir habis nih, Ki. Aku harus cepat balik ke kantor," kataku saat melihat Alexandra keluar dari apotik seberang.
"Oke. Hati-hati." Luki mengajakku berjabat tangan sebelum berpisah. Ia juga mengangguk pada Gaara di sebelah.
"Luki," aku memanggil saat masih bertemu tangan dengannya.
"Ya?" Ia menyahut cepat.
"Kamu... mm, kamu...."
"Kenapa?" Luki menatapku heran karena omonganku tersendat-sendat.
"Kalau ada yang mau ditanyakan bilang aja, Airi. Jangan cuma disimpan dalam hati!" celetuk Gaara dengan tampang meledek. Harusnya sudah bisa kuduga jika ia akan turut campur.
"Nggak, kok." Namun bodohnya aku malah berkata seperti itu. Padahal siapa tahu ini satu-satunya kesempatanku untuk tahu kenapa Luki sering masuk ke mimpiku. Aku tidak mau berburuk sangka padanya lebih lama. "Mm, nggak kok, Ki," ulangku karena Luki masih menatapku penasaran. "Aku cuma mau tanya, kamu... kamu masih selalu menganggap aku teman, kan?" kataku pada akhirnya.
Luki tampak bingung mendengar pertanyaanku.
"Maksudku, meskipun sejak lulus sekolah kita sudah jarang bertemu tapi bagi kamu aku tetap teman, kan?" kataku lagi.
Luki termenung sejenak sebelum kemudian tersenyum tipis. "Kenapa kamu tanya seperti itu, Ri? Itu sudah pasti lah. Lagi pula aku selalu senang menyebut kamu sebagai teman," ucapnya sambil sedikit menerawang.
"Oh, serius?" kataku cepat-cepat.
Luki cuma tersenyum samar menanggapi pertanyaanku.
"Ya sudah, Ki. Sampai ketemu lagi!" Buru-buru aku membalikkan badan karena merasa tak enak. Gaara juga langsung mengikutiku. "Luki bisa melihatmu?" bisikku pada Gaara saat menuju mobil Alexandra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Mistero / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
