Hari kelulusan adalah hari paling aku sesali di dunia. Andai saja dulu aku berani berbicara pada Davi. Andai saja dulu Davi mengatakan jika dirinya adalah Rendy. Kadang hatiku masih bisa merasakan sesaknya jika mengingat hari itu.
Sejak hari kelulusan itu aku tak pernah melihat Davi lagi. Aku bahkan tidak tahu dia melanjutkan kuliah di mana sampai waktu yang cukup lama. Sebenarnya tidak cuma Davi, sih. Rai, Luki, bahkan Emily sekalipun, aku benar-benar tak lagi saling kontak dengan mereka.
Hanya Sally seseorang yang masih selalu menjadi temanku. Violin, pada awalnya aku juga masih saling bertanya kabar dengannya, tapi cuma sebentar. Setelah itu aku seolah menghilang dari mereka.
Pada hari setelah pengumuman kelulusan, aku dan kakakku sedang berbelanja untuk keperluanku pergi ke Inggris saat mendengar kabar itu. Bisnis proyek pembangunan yang Papa kelola mengalami kerugian dalam jumlah besar. Salah satu kepercayaan Papa menggelapkan uang perusahaan. Ia bekerja sama dengan rival Papa kabur membawa hampir semua uangnya.
Tak bisa dicegah, bisnis Papa mengalami kebangkrutan total. Aku yang kala itu belum genap 18 tahun belum bisa berpikir dewasa. Aku begitu sedih dan hampir tak bisa menerima kenyataan saat aku tak tak jadi melanjutkan kuliah di Inggris seperti yang telah direncana. Aku gagal pergi ke sana.
Aku sudah mengisi berkas dan formulir secara online sejak beberapa waktu sebelumnya. Berbagai persiapan telah kukerjakan dengan baik. Aku tidak jadi mengambil tawaran beasiswa yang pernah ditawarkan yayasan, karena kakak sudah mendaftarkanku lewat jalur mandiri di sebuah Universitas di Birmingham. Tapi siapa sangka jika akan ada kejadian seperti itu.
Papa berusaha mempertahankan bisnisnya dengan cara meminta bantuan dari rekan-rekannya. Mirisnya, hanya 1 dari 10 rekan Papa yang masih mau berbaik hati pada kami. Itu pun hanya sanggup membantu sekadarnya. Maka sedikit demi sedikit perusahaan Papa yang jatuh mulai bisa dibangkitkan kembali. Kakak bahkan harus rela bekerja dan tinggal di Belanda demi membantu perekonomian keluarga kami.
Sebelumnya kakak perempuanku seorang perancang busana dan punya butik sendiri di Jakarta. Namun gara-gara kebangkrutan Papa, butiknya terpaksa ia jual demi membantu menutup gaji para karyawan.
Di Belanda, kakak ikut temannya yang membuka restoran Indonesia di Rotterdam. Mereka bekerja sama mengelola tempat itu. Kadang kakak juga mengambil kerja part time dari berbagai tempat saat sedang luang. Namun setelah restoran yang kakak geluti bersama temannya semakin terkenal, kakak tidak lagi memerlukan pekerjaan paruh waktu. Meski begitu ia tetap mengembangkan hobi dan bakat merancangnya di sana.
Setiap bulan kakak selalu mengirimi kami uang hasil kerja kerasnya. Bahkan kuliahku pun ikut dibiayai olehnya. Pada akhirnya aku kuliah di Universitas Pahlawan Nusantara, jurusan Manajemen, lewat gelombang ketiga. Aku tidak jadi mengambil jurusan Multimedia atas permintaan Papa dan kakak. Berbagai beasiswa yang pernah datang menawariku sudah diambil peserta lain, jadi mau tak mau aku harus kuliah jalur mandiri.
Memang keluargaku tak sampai menjual rumah atau pindah karena semua fasilitas disita bank. Bersyukurnya tidak separah itu. Kami masih tinggal di rumah yang sama dan tetap bertahan meski dengan pola hidup yang jauh lebih sederhana. Hanya saja kami tak lagi punya kendaraan mewah. Biarpun sejak kecil aku bukan anak manja, tetap saja hidupku terasa sulit sejak saat itu. Untunglah aku punya Sally yang selalu mendukungku.
Sally tak pernah berubah meski keluargaku sedang di titik terendah. Keluarga Sally, kakak-kakak dan kedua orang tuanya juga tetap baik kepadaku. Mereka selalu menasehati dan menghiburku di kala aku merasa terpuruk. Bahkan tak jarang mereka mengajakku liburan.
Mungkin kekecewaan dan pukulan kehidupan yang kualami telah membuat diriku berubah secara tak sadar. Airi yang begitu disenangi dan dikagumi di masa sekolah mulai tertutup saat kuliah. Tak ada lagi Airi yang selalu ceria dengan segala keramahtamahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Mystery / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
