***Flashback Wind***
"Kemarin jadi nonton Kak Erik tampil di cafe?" tanya Yuri. Ia dan Airi beserta Risa baru saja selesai meneliti proposal Ekonomi di perpustakaan.
"Jadi," jawab Airi sambil tersenyum kecil.
"Wah, jadi sekarang kalian sudah jadian?" tanya Yuri lagi.
Airi mengedik. "Kak Erik nggak pernah bilang gue mau jadi pacarnya apa nggak, sih. Jadian itu kan kalau Kak Erik bilang suka dan gue jawab punya perasaan yang sama. Kemarin nggak ada kejadian seperti itu," jelasnya.
"Tapi intinya kan sama aja. Memang lo nggak mau jadi pacarnya Kak Erik?" Yuri melirik Airi penasaran.
"Menurut kalian gue cocok nggak sih kalau jalan sama dia?" sahutnya membuat yang lain tertawa. "Kak Erik kan cukup terkenal. Gue malu kalau kelihatan jelek waktu jalan sama dia. Anak band biasanya pacaran sama cewek-cewek gaul. Cewek yang keren lah pastinya."
"Memang lo merasa kurang keren?" tanya Yuri setelah berhenti tertawa.
"Memang iya, kan?" jawab Airi polos.
Yuri kembali terbahak. "Yah, gaya lo memang nggak sekeren Pevita Pearce sih, tapi lo nggak seculun Betty La Fea juga. Lo aslinya cantik, Airi. Ya nggak aslinya sih, begini adanya lo juga tetap kelihatan cantik. Jadi pernah minder begitu."
Risa memasukkan ponsel ke tas kemudian memerhatikan wajah dan sekujur badan Airi. "Meskipun nggak bisa dibilang kurang update, tapi gaya sehari-hari lo terkesan itu-itu aja. Apalagi sebelumnya lo sering kelihatan murung dan menyendiri, jadi aura lo juga kurang bercahaya. Ya tapi kayaknya itu nggak ngaruh-ngaruh banget, sih. Buktinya Kak Erik naksir sama lo. Cewek yang suka dia kan banyak."
Airi mengelus-elus rambutnya yang telah panjang sepunggung sambil berpikir Yuri benar juga. Erik punya banyak penggemar entah itu di kampus atau di luar sana. Kenapa dia tidak memilih satu dari mereka dan malah berbulan-bulan terus mendekati dirinya?
"Eh, itu kok kayak teman SMP gue, deh." Risa tiba-tiba mengarahkan pandangan ke seberang jalan.
"Yang mana?" tanya Airi.
"Itu, yang pakai baju biru," tunjuknya. "Menurut lo berdua dia cantik nggak, sih?"
Baik Airi maupun Yuri memperhatikan cewek yang dimaksud beberapa lama.
"Lumayan," komentar Airi setelahnya. "Memang kenapa sama dia? Pacaran sama mantan lo, ya?"
"Nggak," sahut Risa cepat. "Dulu pas SMP dia populer banget. Gue aja suka iri karena dia disukai banyak orang. Tapi sekarang dia biasa aja, kan? Cantiknya standar. Padahal kalau gue ketemu teman yang dulunya culun aja, sekarang jadi cantik banget. Malah bisa jadi lebih cantik daripada dia."
"Waktu SMP gue juga cupu. Waktu SMA sih biasa-biasa aja, tapi lihat gue sekarang. Kece banget, kan?" Yuri berkata sambil menyibak rambut seakan-akan dirinya seorang bintang iklan. Senyum lebar sok cantik pun dipasang di wajahnya.
"Apaan sih? Perasaan lo biasa aja, deh," komentar Risa sambil meliriknya malas. "Cakepan juga gue ke mana-mana. Ya nggak, Ri?"
Airi hanya tertawa singkat. Mendengar pembicaraan Risa tadi, entah kenapa ia jadi teringat acara reuni bulan depan. Mendadak ia merasa cemas. Ia merasa dirinya ini seperti teman Risa. Ia dulu juga cukup dikenal di kawasan Harapan. Namun keadaan kini, bahkan pribadinya, seperti mengalami kemunduran.
Airi sadar. Ia kehilangan berbagai ketertarikan sejak kejadian menyedihkan beberapa tahun silam. Ia tak pernah lagi memerhatikan urusan gaya dan kecantikan. Jarang ia berbelanja besar sejak kebangkrutan papanya. Sekarang setelah keuangan orang tuanya stabil, ia juga tidak pernah memfoya-foyakan uang mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Mystery / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
