15. Cowok Yang Airi Suka

2.5K 236 35
                                        

Pelajaran Matematika masih berlangsung tapi Luki tampak tidak begitu konsen dengan penjelasan guru. Meski bukan tergolong siswa pintar, biasanya Luki selalu mengikuti pelajaran dengan baik. Namun tidak dengan hari ini. Agaknya perhatian Luki masih tertuju pada kalung Davi yang kini ada di tangannya.

"Luki, kamu sudah paham dengan rumus yang saya jelaskan?" Pak Rahmad, guru Matematika, tiba-tiba menanyai Luki. Sepertinya beliau memergoki salah satu tingkah anak didiknya yang sedang bengong itu.

Luki terkesiap. "Belum, Pak," jawabnya segera.

"Kalau begitu perhatikan baik-baik penjelasan saya. Kamu kenapa? Tidak biasanya kamu bengong seperti itu. Kamu sedang sakit?" Pak Rahmad lalu bertanya padanya.

"Nggak kok, Pak," jawab Luki sambil menunduk. Ia tampak tak tenang saat seluruh isi kelas menjatuhkan pandangan ke arahnya. Maka ia pun menyimpan kembali kalung itu ke dalam saku seragamnya.

"Ke kantin yuk, Ri!" ajak Violin begitu bel istirahat berbunyi.

"Boleh," sahut Airi segera. "Emily nggak ikut?" Ia melirik anak yang duduk di seberang kirinya tersebut.

"Gue ada rapat sama anak-anak cheers," ucapnya. "Kita mau bahas gerakan buat lomba mendatang. Jadi gue nggak bisa ikut."

Saat hendak keluar kelas, Airi menyempatkan diri menoleh ke arah Luki lebih dahulu. Cowok itu masih duduk di tempatnya sambil melamun.

"Ada apa?" Violin yang memergoki tingkah Airi bertanya.

"Sebentar," Airi berjalan mundur lalu menghampiri Luki. "Lo nggak lapar, Ki? Ayo, ke kantin bareng gue dan Violin!" ajaknya, membuat Luki terkejut. "Lo banyak bengong dari tadi, kayak lagi ada pikiran aja. Nggak heran Pak Rahmad sampai negur. Tadi pagi aja lo berangkat agak siang daripada biasanya."

"Ah, gue setuju!" Violin menyambung. "Luki hari ini melamun terus. Tadi gue panggil sampai dua kali aja nggak dengar," tambahnya. "Ayo bareng kita aja, Ki. Nanti lo bisa gabung sama Ardi atau Jati kalau sudah di sana."

Walau sempat ragu, Luki akhirnya mengangguk.

Tak perlu waktu lama mereka bertiga sudah sampai di tempat tujuan. Kantin utama SMA Harapan cukup ramai. Jam istirahat pertama memang selalu seperti itu.

"Kalian cari meja dulu, ya! Biar gue yang pesan," kata Violin begitu mereka menapaki lantai kantin. Siapapun memang harus cepat mencari tempat duduk jika tidak ingin makanan dibawa ke kelas.

"Gue mi goreng sama es jeruk, Lin!" pesan Airi.

"Oke. Lo mau pesan apa, Ki?"

"Kenapa bukan gue yang pesan aja?" Luki yang merasa paling cowok di antara mereka menyahut seperti itu.

"Ah, nggak usah. Kalau lo yang maju, gue yakin lo malah bakal dapat antrian paling belakang. Lo kan suka ngalah sama orang-orang. Selain keburu bel, gue juga sudah keburu lapar," sergah Violin.

"Violin paling jago kalau urusan pesan-memesan. Dia selalu bisa dapetin makanan dengan cepat," ujar Airi agar Luki tidak tersinggung.

"Ooh, oke deh," ucap Luki. "Kalau begitu gue pesan nasi goreng. Minumannya sama kayak Airi aja."

Violin pun bergegas maju ke stan penjaga kantin untuk memesan makanan mereka.

"Ah, di sana aja, Ki!" Airi berseru saat menemukan meja yang belum diisi di pojokan. Luki segera mengikuti langkah Airi tanpa banyak kata. Dia bahkan tak melihat keadaan kanan kiri seperti yang biasa orang lakukan saat di kantin. Biasanya anak-anak akan bertemu teman dari kelas lain lalu berakhir mengobrol bersama.

"Lo beneran sehat-sehat aja, kan?" tanya Airi setelah mereka duduk.

"Apa muka gue pucat?" Luki balik bertanya.

Flashback WindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang