Jam baru menunjukkan pukul 8 malam saat Airi selesai mengerjakan PR Bahasa Jepang. Airi meregangkan tangan sambil memutar punggung lalu mengambil buku Matematika. Besok pagi akan ada ulangan, ia harus menghafal rumus jika tidak mau kelabakan.
Baru membaca sebentar, ponsel Airi bergetar lebih dari dua kali, menandakan bahwa ada panggilan masuk. "Siapa, sih?" gumamnya saat melihat sederet nomor asing yang tampil di layar.
Panggilan itu Airi biarkan tanpa niat mengangkat sedikit pun. Ia memang tak suka menerima telepon dari nomor tak dikenal sejak dulu. Jika memang ada kepentingan, orang itu pasti akan mengiriminya pesan supaya ia mau menjawab teleponnya.
Namun ponsel kembali bergetar membuat Airi mau tak mau harus melihat ponselnya. Nomor asing itu lagi yang muncul.
"Halo?" Dengan malas Airi mengangkatnya.
Hanya terdengar suara gemerisik dari jaringan, tak ada jawaban.
"Halo...?" ulang Airi.
Suara tuttut terdengar. Panggilan justru dimatikan.
Airi berdecak sebal. Ia melempar ponselnya ke ranjang kemudian fokus pada buku Matematikanya lagi. Getar pendek membuatnya tahu bahwa sebuah pesan telah masuk. Dengan langkah enggan Airi membawa bukunya lalu melemparkan badan ke atas kasur busanya yang empuk.
- Ini nomor Airi bukan? -
- Ya. Ini siapa? -
Airi mengetik balasan lalu melihat contoh soal di buku Matematikanya. Satu menit berlalu. Dua menit. Tiga menit. Bahkan sampai sepuluh menit lewat balasan tak kunjung datang.
Apa-apaan orang itu? Setelah memanggil dua kali dan mengirim satu pesan pertanyaan sekarang dia lenyap begitu saja? Sok misterius sekali. Itu adalah apa yang dipikirkan Airi sampai akhirnya ia tertidur dengan buku masih di tangan.
Getar ponsel yang berada di dekat kepala membuat Airi terjaga dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 3 pagi saat ia melirik jam waker di atas nakas.
Airi mengucek mata kemudian meraih ponselnya. Ada pesan masuk memang, tapi siapa yang mengirim pesan pagi buta begini? Bahkan bagi Airi jam segini masih seperti tengah malam.
- Aku teman satu sekolah kamu. Kita seangkatan -
Untuk beberapa detik Airi tampak bingung membaca pesan itu, namun setelah kesadarannya berangsur-angsur pulih, Airi segera ingat bahwa semalam ada nomor asing yang menghubunginya.
Bukan tipe Airi membalas pesan orang asing terlebih larut malam begini, tapi karena matanya tak mau terpejam kembali, maka ia iseng mengetik balasan yang isinya menjurus pada pertanyaan.
- Teman sekelas atau bukan? -
Dan balasan kali ini cepat datang.
- Bukan. Aku anak IPS -
Airi termenung. Ia berpikir, anak IPS mana yang sempat-sempatnya mengajaknya chatting pada waktu sepagi atau bahkan semalam ini? Dia pasti orang tidak bisa tidur dan tidak punya kerjaan lain.
- Cowok atau cewek? Anak IPS berapa? -
Tak secepat sebelumnya, kali ini balasan datang hampir lima menit kemudian.
- Cowok, 12 IPS 2 -
Airi membalikkan badannya ke sisi lain memikirkan cowok itu siapa. 12 IPS-2 adalah kelas Davi yang sekarang, tapi Airi pikir tidak mungkin Davi mengirimi pesan seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Mystery / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
