Aku tak bisa tidur dengan tenang semenjak membaca surat pendek yang kutemukan di meja kerja sebelum pulang. Apalagi dengan kenyataan bahwa hari ini aku baru saja mengetahui suatu hal tentang Davi. Berbagai kejadian yang terjadi membuatku berpikir tiada henti.
Jika Gaara bilang pelaku Love Poison punya rasa benci kepadaku, maka pasti ada suatu hal yang telah kulakukan hingga menyakiti hati orang itu. Dengan kenyataan aku bertemu Luki di hari ini dan dia tak tampak membenciku, berarti satu-satunya tersangka yang tersisa adalah Davi. Lagi pula memang dia orang yang mendominasi mimpiku selama ini.
Menyebut soal Davi, entah kenapa aku masih belum juga percaya jika dia adalah pengirim Love Poison yang menimpaku. Aku tidak terlalu yakin Davi pelakunya. Aku berbicara begini karena aku tak menemukan alasan kuat untuk menjadikan Davi sebagai tersangka.
Dulu waktu SMA kami memang pernah ada hubungan yang berakhir tanpa kejelasan, tapi apakah hal itu cukup masuk akal jika sampai membuat Davi mengirim sihir jahat kepadaku? Aku ingat pertemuan terakhir kami di reuni bisa dibilang tidak ada masalah. Semua tampak biasa.
Maksudku memang tidak benar-benar biasa karena kami juga tak sempat saling bicara. Hanya saja aku yakin Davi tak membenciku saat itu. Dia telah menggandeng Sherina yang bahkan aku saja ikut mengaguminya. Davi punya pacar yang lebih baik jadi posisiku dihatinya juga pasti telah terganti.
Oke, itu yang pertama. Yang kedua, jika ternyata cowok bermotor yang kukira Ruby adalah Davi, dia juga tak tampak benci melihatku. Waktu itu setiap kali lewat depan rumah dia selalu tersenyum kepadaku. Walau mataku agak rabun tapi aku yakin akan hal itu.
"Kamu yakin sekali," Gaara yang muncul entah dari mana langsung mengomentari. "Kamu tahu, Airi? Sebagai seorang manusia biasa, kamu terlalu merasa bahwa apa yang kamu lakukan itu semuanya sudah baik dan benar."
"Apa maksudmu?" Aku menatapnya tersinggung. Kata-katanya cukup mengusik egoku.
"Sesekali cobalah melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain."
Aku mendengus. Kata-kata itu sudah sering kali kubaca dan kudengar.
"Coba pikirkan. Jika Davi berkali-kali lewat di hadapanmu tapi kamu tak pernah menyapa atau sekedar basa-basi menyuruhnya mampir, apa menurutmu hal itu tidak terasa aneh? Membalas senyumnya pun kamu tidak."
"Tapi aku kan tidak tahu kalau orang itu Davi," protesku.
"Memang," sahut Gaara. "Kalau Sally atau keluarganya yang lewat mungkin mereka akan maklum karena tahu kondisi matamu saat itu, tapi Davi, dia yang tak tahu-menahu soal masalah penglihatanmu apa akan berpikir maklum juga?"
Aku terdiam.
"Begini saja. Anggaplah suatu ketika kamu melewati rumah mantan pacarmu. Kalau cuma sekali lewat terus dia tidak tanya mungkin masih bisa dimaklumi. Pikirkan saja dia pangling atau tidak sadar itu kamu. Nah, kemudian kamu berkali-kali lewat depan rumahnya lagi, kalian saling bertatapan, tapi dia tidak pernah bilang 'hai' atau ucapan sapa lain sama sekali. Kamu sudah coba kasih senyum dia juga tidak mau menanggapi. Melihatmu seperti melihat orang asing saja. Kalau kamu bertemu mantan seperti itu, kira-kira bagaimana tanggapanmu?"
"Sombong sekali. Memang dia pikir dia itu siapa?"
"Yah, dan sayangnya dia itu adalah dirimu, Airi." Jawaban Gaara langsung membuatku terhenyak. "Itulah yang Davi pikirkan tentang kamu pada akhirnya."
"Tapi... tapi aku kan cuma tidak tahu kalau orang itu dia. Seandainya aku tahu cowok bermotor itu Davi tentu aja paling tidak aku akan tersenyum padanya."
"Sayangnya Davi tidak tahu alasanmu, Airi. Lagi pula tidak cuma dua atau tiga kali saja dia melihatmu. Sebenarnya kalian sering sekali berpapasan beberapa tahun yang lalu. Kamu saja yang tak pernah sadar kalau orang itu dia. Kadang kamu malah memalingkan muka padahal Davi sudah tersenyum dan hampir menyapamu. Bayangkan saja perasaannya. Kamu tahu? Cowok paling tidak suka sama cewek sombong."
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Bí ẩn / Giật gân[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
