Malam berikutnya setelah mendapat mimpi di danau bukit berbunga dan diabaikan semua orang, aku mendapat mimpi aneh lain lagi. Aku tidak tahu bagaimana awalnya, yang jelas saat aku sadar aku sedang mendaki gunung yang begitu tinggi.
Aku memanjat tebing-tebingnya yang curam. Aku berjuang seorang diri menuju ketinggian. Sesekali aku nyaris terjatuh tapi tanganku tetap berusaha mencari pegangan. Tingginya gunung yang kudaki dan gersangnya keadaan membuatku beberapa kali ingin menyerah. Aku merasa dalam situasi yang begitu sulit.
Aku semakin ke atas menuju puncak. Aku begitu takut saat melihat ketinggian tebing yang telah kucapai. Aku khawatir angin akan menggelincirkanku. Saat itu aku merasa sudah tak kuat lagi untuk memanjat. Di sisi lain aku juga tak mau jatuh kembali ke bawah mengingat perjuanganku sudah begitu keras.
"Kemarilah!" Tiba-tiba terdengar suara ramah seorang pria dari puncak tebing disertai sebuah uluran tangan.
Aku mendongak, dan segera menyaksikan seorang bapak bersarung juga berpecis ada di sana. Bapak yang tak lain Guru Spiritual tersebut tersenyum lembut padaku. Tanpa perlu pikir panjang aku langsung menyambut uluran tangan kanannya.
Aku lega sekali saat beliau berhasil menarik tanganku kemudian membantuku berdiri di sana. Aku tahu aku tak akan mampu mencapai tebing curam ini sendirian. Dari puncak gunung aku melihat keadaan di bawah dengan kelegaan yang begitu besar. Aku baru berkacak pinggang sambil hendak menghirup udara saat tiba-tiba menyaksikan Davi naik motor sambil memboncengkan seorang anak perempuan. Mereka pergi menuju ke arah utara.
Aku cuma mengerutkan kening melihat mereka. Aku merasa biasa-biasa saja. Hanya terasa aneh karena muka Davi dan ceweknya terlihat rata dari samping.
Saat terbangun, aku tahu mimpi itu adalah petunjuk bahwa aku sudah terlepas dari jerat Davi. Dia pasti kini sudah serius dengan pacarnya. Dia pasti tak akan mempedulikan hidupku lagi. Yah, semoga saja, karena sejak hari itu aku memang tak pernah lagi didatangi Davi dalam mimpi.
***
"Makasih ya," ucapku saat Vidi, cowok yang dekat denganku beberapa minggu belakangan mengantarku pulang.
"Kapan ada waktu? Kamu tahu nggak kalau ada resto baru di jalan Kapiten Tendean?" ucapnya sambil menatapku.
"Memang ada ya?"
"Ada. Teman-teman bilang menu di sana enak-enak, lho. Sabtu besok kamu pulang jam berapa? Kita ke sana bagaimana?"
"Wah, Sabtu aku ada acara sama Alexandra. Aku sudah janji mau nemenin dia belanja perlengkapan bayinya sepulang kerja," kataku, meringis.
"Sayang banget," Vidi menggumam. "Ya sudah, kalau kamu ada waktu luang langsung hubungi aku, ya?" ucapnya kemudian sambil tersenyum kecil.
"Oke. Hati-hati!" Aku pun membalas senyumnya sebelum dia menutup kaca mobil dan pergi.
"Payah sekali," Gaara memunculkan diri di sebelahku dan seperti biasa, langsung mengomentari. "Harusnya kamu menjawab, 'Bagaimana dengan Sabtu malam? Paling aku selesai urusan dengan Alexandra sebelum jam 6'. Bukannya cuma pasrah seperti itu."
Aku mendengus. Dari kemarin-kemarin selalu saja ia jadi penceramahku. Setiap kali aku habis bertemu cowok entah itu sekedar teman ataupun yang memang terang-terangan mendekatiku, Gaara pasti akan mempermasalahkan sikapku.
Omong-omong sejak aku berhasil disembuhkan Bapak Guru Spiritual dan Gaara, aku sedikit mendapat masalah lain. Tentunya ini bukan masalah yang berhubungan dengan sihir atau hal gaib lagi. Ini lebih ke arah pembagian waktu dan pemilihan tambatan hati yang tepat.
Jadi sejak aku tak lagi merasa benci didekati pria dan aku mulai bisa membuka hati untuk mereka, tiba-tiba saja ada banyak sekali pria yang datang ke dalam hidupku. Kebanyakan adalah orang-orang baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Mystery / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
