***Flashback Wind***
"Nggak nyangka setengah bulan lagi aku bakal menikah," ucap Sally sore itu.
"Kamu pasti senang. Harapan orang tua kamu akhirnya terkabulkan. Anaknya yang sudah pacaran tiga tahun dilamar juga sama cowoknya," kataku membuat Sally tertawa.
Kami berdua tengah rebahan badan di kamarku sambil menatap langit melalui jendela yang terbuka. Sejak dulu kami sering sekali bermalas-malasan seperti ini. Terutama saat masih SMP.
Aku dan Sally tak pernah berhenti menjadi teman meski aku sudah berubah kepribadian. Kenyataannya, di depan Sally aku tetap menjadi Airi yang dulu. Sally sendiri tak pernah memprotes tentang sikapku yang sudah beberapa tahun ini senang mengisolasikan diri. Dia cuma pernah berkata bahwa apapun yang kulakukan pasti punya alasan. Asalkan itu demi kebaikanku Sally tak akan mempersalahkan.
"Kamu mau kapan, Ri?" tanya Sally kemudian. "Sampai sekarang aku masih nggak tahu pacar kamu yang mana. Apa dia yang waktu itu nganter kamu pas pulang kemalaman? Anaknya pemilik hotel Callisto itu, ya?"
"Oh, ayolah, Sal. Itu kejadian sudah setahun yang lalu. Bukannya sudah kubilang kalau kami nggak pernah pacaran?"
"Memang kenapa sih? Dia lumayan, kan? Kayaknya dia juga tipe cowok yang baik," Sally menatapku penasaran.
"Baik sih baik, tapi dia terlalu perfeksionis. Kalau mau jalan aja, dia yang menentukan aku harus pakai baju warna apa. Aku begini dikomentarin, aku begitu disalahin. Itu belum pacaran aja sudah kayak gitu. Apalagi kalau sampai nikah coba?"
"Ah, kamu selalu seperti itu, Ri. Ada aja sisi cowok yang bikin kamu nggak suka. Manusia kan nggak ada yang sempurna, kamu harus belajar menerima kekurangan mereka," kata Sally dengan tampang bosan. "Jadi sekarang kamu lagi dekat sama siapa?"
"Nggak sama siapa-siapa," jawabku langsung saja.
"Jangan bohong. Aku tahu ada banyak cowok yang naksir kamu di luar. Kamu kan cantik, masa iya jomblo terus?" Sally melirikku tak percaya.
"Ya elah, Sal. Buat apa juga aku bohong? Aku beneran nggak suka siapa-siapa sudah beberapa waktu ini," ujarku. "Aku memang sempat beberapa kali dekat sama cowok, tapi mungkin belum cocok aja. Aku nggak bisa memaksa hati buat menerima orang yang nggak aku suka."
"Tapi setidaknya kamu harus mencoba, Airi. Cocok nggak-nya bakal lebih terasa ketika kamu sudah menjalin hubungan sama dia," nasehat Sally. "Lalu bagaimana dengan cowok yang suka lewat depan rumah itu? Kamu bilang dia lumayan."
"Maksudnya?" Aku melirik Sally tak mengerti. "Cowok yang mana, sih?"
"Iih, Airi...! Dulu kan kamu sendiri yang suka cerita. Kamu bilang ada cowok yang sering lewat depan rumah kamu tiap pagi. Sudah agak lama, sih. Kalau nggak salah itu sebelum kamu bekerja di tempat yang sekarang."
Aku termenung untuk mengingatnya. Cowok yang suka lewat depan rumah? Siapa ya? Apa aku sudah lupa?
"Ooh!" Aku kemudian berseru setelah hampir satu menit terdiam. "Maksud kamu saat aku baru resign dari bank itu, Sal? Pas aku belum kerja lagi?"
"Kayaknya sih, iya."
"Ooh, ya aku ingat!" kataku sambil tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Mystery / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
