[SELESAI] Repost
Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dari kemarin, pesan dari Davi tak Airi gubris sama sekali. Tak dapat dicegah, hal-hal yang Airi tahu dari Andina dan ia dengar dari anak-anak kelas Bisnis membuatnya tak percaya Davi lagi. Terlebih Airi melihat sendiri apa yang mereka bicarakan.
Sampai berganti hari Airi tidak menceritakan hal itu pada Violin atau Emily. Airi tidak mau Violin marah-marah pada Davi jika memang hal itu benar adanya. Apalagi Violin adalah mak comblang dalam kedekatan mereka. Violin sudah membantu dalam banyak hal. Jika hubungan Airi bermasalah tidak seharusnya ia turut andil juga. Violin juga punya kehidupan sendiri.
"Lo nggak ketemuan sama Davi lagi, Ri?" tanya Emily saat mereka istirahat bersama.
Airi menggelengkan kepala.
"Kayaknya akhir-akhir ini lo jarang banget cerita soal dia. Apa kalian lagi ada masalah?" Violin yang asyik bermain game di ponsel meliriknya.
"Lagi males aja," jawab Airi daripada bingung harus menjawab apa.
"Ah, lo gitu sih. Tapi gue juga jarang lihat Davi sih belakangan ini," gumam Violin.
"Airi sama Davi itu pacaran tapi kayak nggak pacaran aja," kata Emily. "Selama ini kalian jarang ngobrol berdua. Nggak kayak pasangan satu sekolah lainnya yang terlihat jelas statusnya."
Meski dulu Airi sendiri yang berniat merahasiakan hubungannya dengan Davi, namun tetap saja ia membenarkan perkataan Emily. Entah setan apa yang telah menguasai pikiran Airi hingga hal tersebut menguatkan dugaannya jika Davi memang punya pacar lain di luar sana. Mungkin saja status pacaran dengan Airi yang tak diperjelas ini membuatnya bosan.
Lagi pula semakin ke sini, Davi tak pernah mengatakan apa-apa soal hubungan mereka. Airi jadi tak yakin jika Davi serius dengan perasaannya. Siapa tahu ia cuma main-main saja waktu itu. Karena Airi menjawab YA maka ia lanjutkan saja penggombalan lewat pesannya.
Sejak awal Davi datang kembali ke hidupnya Airi memang sudah sangsi. Dulu saat kelas 9 SMP hingga sebelum Davi jadian dengan Andina, Airi memang sempat berpikir Davi mungkin saja punya perasaan yang sama. Namun sejak Davi jadian dengan Andina, Airi telah mengubur dalam-dalam khayalannya.
Berbagai kemungkinan alasan lalu timbul. Bisa saja Davi mendekatinya cuma gara-gara ucapan Violin. Kali saja ia ingin menyenangkan Airi yang katanya dulu sangat mengaguminya. Airi akhirnya beranggapan seperti itu. Airi berpikir Davi tak benar-benar menginginkan dirinya jadi seorang pacar. Tak heran ia punya pacar lain di luar sana. Pacar yang sesungguhnya, pacar yang sampai dikenalkan kepada kakak dan keluarganya. Bukan pacar sekedar status yang berhubungan hanya lewat pesan seperti dirinya.
Setelah memikirkan semua itu Airi merasa tidak dianggap sebagai pacar Davi sungguhan. Hal yang sebenarnya aneh tapi tetap masuk akal.
Hari terus berganti. Akhirnya Davi berhenti mengirimi Airi pesan. Ia juga tak pernah menelepon untuk menanyakan apa yang telah terjadi. Hal itu sudah pasti semakin menguatkan anggapan Airi jika Davi tak serius padanya. Itu sudah jelas. Jika Davi benar-benar menyukainya, paling tidak ia akan menghampiri dan bertanya kenapa ia tak membalas pesannya. Tapi lihatlah Davi. Ia tak menunjukkan tindakan atas perubahan yang terjadi pada Airi. Maka bagi Airi, hubungannya dengan Davi jelas tidak ada artinya lagi.