31. Datang Dalam Mimpi

2.1K 261 48
                                        

***Flashback Wind***

"Aku pikir aku masih menyukainya. Setiap hari sejak kelulusan aku tak pernah bisa melupakannya. Jika perasaan ini bukan cinta, lalu apa lagi? Sebelumnya aku selalu bertanya seperti ini.

Tapi semua telah terjawab kini. Aku bertemu dia lagi di acara reuni. Aku pikir aku akan sangat gugup, panik, dan bahagia. Akhirnya, aku bertemu dia juga. Dia yang selalu kuingat dan mungkin aku cinta.

Namun ternyata aku salah. Aku tidak lagi menyukainya. Aku tak merasakan apa-apa lagi saat di dekatnya. Aku sendiri bingung. Apa semua yang kurasakan selama ini cuma bayanganku saja?

Sungguh. Aku tidak mengada-ada. Aku bahkan tidak merasa cemburu saat melihatnya berdua dengan orang lain. Semua tak seperti yang kubayangkan. Semua seperti imajinasiku sendiri.

Mungkin waktu telah mengendalikan perasaan tanpa aku sadari. Ternyata waktu bisa menghapus sesuatu. Waktu bisa mengubah hati seseorang, hingga tak bisa lagi kutemukan dirinya yang dulu."

Airi menulis kata-kata itu sambil duduk di tempat biasa, di suatu sudut kampus, usai kelas keduanya. Ia menutup buku itu, lalu pikirannya kembali ke acara reuni sebelumnya.

Ia sedang menanti Sally mengeluarkan mobil dari tempat parkir saat tak sengaja melihat Davi. Airi dan Violin yang kala itu masih bersama cuma meliriknya tanpa suara. Cowok itu tidak sendiri. Ia bersama seseorang yang Airi kenal di kampus, yang tak lain adalah Sherina. Sepertinya cewek itu datang karena ingin melihat acara reuni SMA Davi.


Mereka sedang mengobrol entah apa di tempat yang sama dengan Airi. Tepatnya di depan kantor TU, yang tak jauh dari gerbang. Bedanya Airi dan Violin duduk di bangku pojok kiri, sedang Davi dan Sherina di bangku pojok kanan. Kebetulan ada dua bangku panjang di sana.

"Pacar lo nggak jemput, Ri?" tanya Violin. Mungkin melihat Davi yang pernah berhubungan dengan temannya berdua di pojokan begitu, Violin merasa tak enak juga.

"Gue sudah bilang perginya bareng Sally belum? Kalau gue berangkat bareng dia, pulang juga harus sama dia dong, Lin."

"Ya sih, tapi lo punya pacar, kan? Gue pengen tahu aja cowok lo yang sekarang." Violin melirik Airi penasaran.

"Mm, gimana ya?" jawab Airi ragu-ragu. "Gue memang sudah cukup lama dekat sama seseorang. Dia senior gue di kampus. Meski sudah sering jalan, tapi sepertinya kami belum bisa dianggap pacaran."

"Lah, kok gitu? Lo nggak ngasih kepastian apa?" tanya Violin. "Omong-omong seperti apa dia?"

Airi tersenyum saat mengingat Erik. "Menurut gue dia lumayan. Orangnya baik dan nggak aneh-aneh biar pun dia anak band. Lo tahu band indie Capricorn?"

"Kayak pernah dengar sih," sahut Violin. "Apa yang kemarin tampil di acara ulang tahun radio Kawula Fm? Yang pernah main beberapa kali di cafe Dropbox itu bukan?"

"Ah, benar. Lo tahu juga ternyata," kata Airi sambil tersenyum lagi.

"Terus kenapa sama band itu?"

"Itu tadi. Cowok yang dekat sama gue vokalisnya Capricorn. Namanya Kak Erik."

"Hakh?" pekik Violin. "Lo pacaran sama dia?"

"Seperti yang gue bilang tadi, sebenarnya kami cuma dekat. Tapi orang-orang di kampus ngira kami sudah pacaran."

"Gilaa...!" Violin tiba-tiba berseru heboh sampai Davi dan Sherina menoleh. "Vokalis Capricorn kan cakep, Ri. Suaranya bagus pula. Wah, nggak nyangka lo bisa gebet orang terkenal kayak dia."

Flashback WindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang