***Flashback Wind***
"Lo nggak ke kantin, Ri?" Luki bertanya saat melihat Airi duduk di tempat daripada ikut Emily dan Violin keluar kelas.
"Gue masih kenyang," jawab cewek itu. Ia tampak sibuk berkutat dengan ponselnya. "Oh ya, Ki," Airi kemudian menghadapkan badan ke arah cowok itu. "Apa kabar dengan cewek yang lo suka?"
"Memang kenapa?" Luki heran Airi tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Mm... nggakbsih," Airi melirik arah lain. "Gue cuma merasa, sebaiknya lo cepat deketin dia. Gue pikir ini sudah terlalu lama lo hanya diam menyukainya. Lo harus maju dan usaha. Lo ingat kan, Ki, kalau gue akan selalu mendukung lo untuk bisa mendapatkannya?"
Luki tersenyum meski senyumnya tak bisa diartikan bahagia. "Lo yakin akan selalu mendukung gue?"
Airi langsung mengangguk.
"Dia suka orang lain, Airi. Mereka sudah bahagia. Jadi nggak mungkin kan, gue muncul di tengah-tengah hanya untuk merusak kebahagiaan mereka?"
"Maksudnya cewek itu sekarang sudah punya pacar?" tanya Airi hati-hati.
Luki mengangkat bahu.
"Yahh... lo sih, Ki. Kemarin dia jomblo lo nggak mau mendekati. Sudah berapa kali gue bilang kalau lo jangan terlalu pesimis jadi orang? Lihatlah. Rai yang tadinya dibenci cewek-cewek aja sekarang jadi idola. Punya pacar imut pula. Lo harus semangat pokoknya. Lo harus berani berjuang kalau ingin hidup bahagia. Gue yakin andai aja lo sedikit berani bertindak, lo akan berhasil mendapatkannya."
"Gue nggak yakin soal itu," Luki menatap Airi lalu tersenyum. "Gue sudah bilang kalau gue nggak pernah ingin mengungkapkan perasaan gue, kan? Kalau lo belum tahu, hal itu masih berlaku sampai sekarang."
"Kenapa?" heran Airi. "Kenapa lo memutuskan hanya untuk seperti itu?"
"Sejak awal gue tahu gue nggak pernah punya kesempatan," Luki berucap.
"Siapa bilang? Lo punya kesempatan, Ki. Lo cuma nggak mau menggunakannya," Airi menatap Luki tak mengerti.
"Menurut lo seperti itu?" Luki mengangguk-angguk ringan. "Gue tahu gue sudah membuang banyak kesempatan yang ada, tapi gue sengaja nggak melakukannya karena gue tahu, dia nggak mungkin suka gue juga."
"Lo yakin dia nggak mungkin suka lo? Memang ada alasan pasti sampai lo punya pikiran seperti itu?" tanya Airi, begitu penasaran.
"Ya," jawab Luki cepat. "Ada orang yang dia suka sejak lama. Orang yang sama, dengan orang yang sekarang bikin dia bahagia."
Airi mengerutkan kening. "Gimana bisa lo tahu perasaan dia? Bisa aja kan cewek itu sudah merubah perasaannya tanpa lo tahu?"
Luki menggeleng. "Kalau pun diam-diam dia sudah merubah perasaannya, perasaan itu pasti bukan buat gue juga." Ia berkata pelan. "Lo nggak perlu mencemaskan gue, Ri. Gue baik-baik aja kok dengan keadaan gue sekarang. Ini adalah pilihan gue sejak awal. Lagipula lo lupa, ya? Kalau gue lihat cewek itu bahagia sama orang yang dia suka, gue akan mulai menyukai cewek lainnya. Itu lebih mudah buat gue mengalihkan rasa."
Airi balik menatap Luki dengan muka kecewa. "Padahal gue ingin lihat lo jalan dengan cewek yang lo suka. Gue kan penasaran dengan sosok yang dari dulu lo bicarakan itu."
Luki tersenyum lagi. "Daripada mikirin gue, mending lo pikirin Davi. Lo suka dia juga, kan?"
Airi langsung salah tingkah begitu nama Davi disebut. "Lo ngomong apa, sih? Sudah ah, gue mau nyusul Violin aja."
"Tadi katanya masih kenyang?" tanya Luki dengan muka geli.
"Setelah ngobrol sama lo mendadak gue jadi lapar." Airi bangkit dari bangkunya kemudian bergegas keluar kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashback Wind
Misteri / Thriller[SELESAI] Repost Awalnya Airi tak pernah merasa ada yang salah dengan hidupnya. Bahkan Airi selalu berpikir masa remajanya telah ia lewati dengan sempurna. Semua dimulai dari datangnya pria asing yang bisa membaca pikiran Airi dan selalu muncul seca...
