Gadis Pendiam dan Lugu

112 25 30
                                        


[ Vignette ] Gadis Pendiam dan Lugu

Author : weirdoarmy 

Cast : Jane Han ( OC ) || Park Jimin

Genre : Thriller, Gore, lil bit Sad

Length : Vignette +1000 words

Rating : PG 15

Bibir yang selalu bersenandung itu, kini sedang menganga kesakitan. Darah keluar dari katup bibirnya hampir seperti meloncat. Ia terbatuk tersedak darahnya sendiri. Tidak ada lagi nyanyian indah keluar dari bibirnya, yang ada hanya teriakan kesakitan minta ampun yang sangat pilu. Terdengar parau saking sakitnya.

Rambutnya basah oleh keringat yang terus mencucur tanpa henti. Meluncur bebas dari pelipisnya seperti perosotan TK. Keringat yang biasa diteriaki kala main basket itu, kini terlihat lebih liar dan beringas. Keringat yang muncul karena rasa takut yang melebihi kadar. Ia merasakan ngeri yang sebenarnya.

Napasnya berantakan seirama dengan denyut nadinya. Jantungnya pasti kebingungan karena darah tidak mengalir dengan lancar dan seharusnya. Darahnya sudah keluar dari berbagai tempat yang tak sepatutnya.

Pungkurnya berhadapan dengan tembok suram. Ia tergelatak disana meregang nyawa.

Park Jimin sedang di ujung kematiannya.

Tepat di perutnya, terdapat dua lubang bekas tusukkan dan pisau karatan masih betah menancap di sana. Sang pelaku benar-benar sadis, ia tahu cara menyakiti orang dengan sangat baik. Pisau karatan itu, betapa sakitnya saat pisau itu menggores daging Jimin. Karena karatan maka sensasinya makin menjadi. Menggores dan membelah dengan perlahan dan tidak yakin, menciptakan sengsara yang gila. Jauh lebih gila jika dibandingkan dengan pisau paling tajam sekalipun. Belum lagi risiko yang diakibatkan setelah itu.

Jimin tidak berdaya, untuk memberontak pun rasanya percuma dan mustahil, itu hanya akan menyakiti dirinya lebih. Ia berteriak dalam hati sejadi-jadinya, menjerit sekuat ia bisa. Jika ia benar-benar meraung seperti itu, maka siapapun akan meringis barang hanya mendengar penderitaannya. Sakit tak terperikan.

Di ruangan yang entah berentah ini, ia berdoa sepanjang napasnya yang makin tipis. Tidak ada jendela, hanya ventilasi dan satu buah pintu. Tanpa berabotan yang berarti, hanya lantai dan kehampaan. Dan yang mengerikan adalah adanya bercak darah dimana-mana. Bercak yang hampir menghitam, menandakan tempat ini adalah tampat pembantaian sejak lama. Pemilik ruangan ini adalah psikopat yang sesungguhnya.

Tidak ada yang bisa Jimin lakukan selain pasrah dan berserah diri. Pasrah akan nasibnya yang begitu buruk. Mati karena dibunuh. Tragis.

"Sialan!" Baru kali ini ia begitu. Mengumpat.

Siapa yang tidak bersumpah serapah dalam kondisi seperti ini? Jimin tidak sekuat dan sesabar itu.

Kriek~

Pintu terbuka dan disusul dengan munculnya seorang gadis. Parasnya cantik.

Ekspresi gadis itu terkejut. Ia menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya. Matanya membelalak tidak percaya. Napasnya tersedat. Ia kaget bukan main.

"Jimin, bagaimana bisa kau..."

Gadis itu berasma Jane Han. Gadis pendiam dan lugu yang menyukai Jimin. Ia menyukai Jimin sejak tahun pertama sekolah dan Jimin tidak pernah membalas perasaan gadis itu. Malang sekali. Namun gadis itu sengguh kuat, ia tidak pernah menyerah barang niatpun. Perasaannya kepada Jimin sungguh yang paling kuat.

Jane berkaca-kaca melihat kondisi Jimin. Masih dengan menutup mulutnya, ia mulai mendekat perlahan ke arah Jimin. Sementara itu, Jimin hanya menatap Jane, ia tak tahu harus berekspresi apa.

Challenge DebutWhere stories live. Discover now