Amazing Day + Heartbeat

5.3K 73 3
                                        

Hari Sabtu yang ditunggu Via tiba. Pagi hari, dengan semangatnya ia ke ruang tamu. Ia membawa tas, berisikan Hp-nya sisir, cemilannnya, kaus ganti, kunciran, kacamata hitam, dan terakhir kamera SLR-nya. Via memakai sebuah t-shirt putih dan skinny jeans. Dia juga membawa jaket. Daren juga gak kalah trendy ia memakai kaus polo hijau dan jeans. Juga gak lupa bawa jaket.

“Via kamu main sampai puas ya! mau pulang malam jam berapa pun terserah okay? terus kamu Daren, kamu kan tau tuh disana ramai, jagain Via jangan sampai dia hilang. Terus nyetirnya jangan ngebut-ngebut.” Tukas tante lydia dengan senyum sumringah.

Via tersenyum mendengar perkataan Tante Lydia. Baginya hari itu memang akan sempurna, tapi kalau yang nemenin bukan Darren.

Daren hanya memalingkan mukanya. “Eh orang! ayo jalan keburu macet nih! udah ya ma aku pamit.” Ijin Daren.

“Via berangkat ya tante.” Pamit Via

Tante lydia tersenyum ketika keduanya sudah masuk kedalam mobil. “Hati-hati ya!” teriaknya begitu mobil keluar dari rumah.

Via duduk di sebelah daren. Kepalanya cukup pusing saat itu. Jelas, karena mereka terjebak macet. Biar kata berangkat pagi, macet kan bisa terjadi kapan saja.

“Ck, macet segala sih.” resah daren memukul setirnya. Sementara Via memilih diam. Soalnya kalo orang pusing ngomong sama orang stress yang ada bawa emosi. Via kan gak mau marah-marah. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kepingan CD. Tanpa banyak bicara ia memasukan CD itu kedalam music player di mobil.

“Ngapain lo, vi ?” tanya daren dengan nada stressnya.

Via diam. Daren melihat begitu banyak list lagu yang terpampang di layar. Lagu-lagu itu familier. Tapi ia tahu juga kalau ada lagu korea.

Bonamana-Super Junior

Rihanna – love the way you lie

Far east movement- like a g6

David archuleta-something bout love

Black eyed peas-imma be

Black eyed peas-dirty bit

Lady gaga-born this way

Daren melihat nama-nama penyanyi yang sedang terpampang di layar. Dan dia tau Via maniak lagu. Tapi lagu-lagu itu lumayan menghilangkan stressnya dari dampak macet. Dia juga gak protes saat via membesarkan volume.

“Vi, elo suka sama korea and para penyanyi lain itu ya?” tanya Daren mencairkan suasana. Ia sudah tau kalau via pusing atau stress atau sebel sama orang kayak daren, pasti akan didiemin dan gak disahutin.

“Kalo iya kenapa? Kalo nggak kenapa?” tanyanya masih sibuk melihat ke jendela.

“Nanya doang kali. Gimana kalau kita baikan aja? kan stress kalo berantem melulu.” Tanpa sadar daren meminta via untuk berbaikan. Itu kan bukan keinginannya. Dia langsung menutup mulutnya selesai bicara.

Via menatapnya heran. Langsung via menaruh telapak tangannya di dahi daren. “Nggak panas. Elo sakit ya?” tanyanya heran.

“Nggak! mau atau nggak nih? sebelum gue tarik kata-kata gue sekarang.” Biar udah salah ngomong dia tetap melanjutkan permintaanya. Kalau berantem sama Via bawaannya pasti didiemin. Dan daren hafal itu. Lebih baik gak usah bangunin singa.

“Ya udah! jalan tuh cepetan. Pusing nih kepala gue!” suruh Via. Yang dari tadi sudah memegangi kepalanya.

Daren langsung menurut. Tumben-tumbenan nurut sama cewek. Ya iyalah dia juga tau cewek yang di sampingnya itu aslinya macan.

The Moment With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang