Random: Upload lagi:) ya chapter ini sih cuma pecahan dari chapter sebelumnya. lucunya, chapter ini ada 3 hal. flashback. sedih tapi nantinya seneng. dan lainnya deh. emang sih, di chapter ini ga ada gregesnya kaya kemaren-kemaren. dan tau ga?! di bagian pertama, yang masa TK itu, gue dibantu sama temen gue, namanya Ester. dan menurut gue, dia cocok abis jadi editor, nyaranin adegan TK gitu *gue lupa sih*. hohohoho, tapi tetep simak ya. Oh iya, bentar lagi anak SMA UN. good luck ya bagi kalian yang UN. 11 Hari lagi UN SMP, good luck juga. dan SD juga. Ayo cemangat. seluruh anak yang mengikuti UN harus lulus 100% :), so.. check this out!
*Itu ada fotonya Grant Gustin lhoo:3
--------------------M----------------
Masa-masa sekolah yang sering dilupakan adalah masa-masa TK.
Di mana kita benar-benar masih kecil, masih ada yang cadel, masih pada cengeng, dan sering pula jadi korban kebohongan orang tua. Dan masa di mana kita itu kelewat polos.
Kevin dan Darren sudah bersahabat, bahkan sebelum Via kecil pindah ke Singapura.
Namun, khusus untuk masa TK, hanya ada satu bagian, di mana Darren mengingat hal itu dengan baik-baik. Hal itu gak lain adalah perkenalannya dengan Kevin.
Saat itu Darren kecil masih TK.
Dan pada hari... *Darren lupa* ada seorang anak pindahan. Ia datang bersama guru Darren, Bu Lasni.
“Pagi anak-anak semuanya! Hari ini, kali kedatangan teman baru lho. Namanya Kevin. Ayo, Vin, kenalin diri kamu.” Perintah Bu Lasni dengan penuh senyum.
Kevin sedikit memandangi kelas. Dan matanya tiba-tiba tertuju ke arah Darren yang duduk di urutan meja kedua. Begitu pula Darren. Ia juga memandangi Kevin. Diperhatikannya Kevin.
Seragam yang atasannya bewarna putih dan bawahannya hitam masih terlihat baru. Model rambutnya juga sedikit panjang. Pipinya tidak chubby, tapi tetap imut karena rambut yang membingkai wajahnya membuat wajahnya putihnya terlihat berisi. Dan bisa dibayangkan, dulu itu wajah serta penampilan Darren dan Kevin itu Cuma sebelas-dua belas. Kaya kembar deh. Padahal beda keluarga lho #iyalah
Setelah diam cukup lama, akhirnya Kevin membuka mulut.
“Namaku Kevin. Aku pindah dari Bali. Salam kenal ya, semuanya...”
Darren sedikit kagum. Serta Bu Lasni, karena Kevin bisa bicara dengan lancar. Ya, Darren sih kalo ngomong juga lancar, tapi jarang banget ada yang bisa ngomong lancar diumur TK gitu. Udah lancar gak cadel lagi. Teman-temannya aja kalo ngomong masih suka cadel dan salah kata.
Dan disinilah kedekatan Darren dan Kevin kecil dimulai.
Kevin sering melihat Darren sendirian. Jika sedang istirahat untuk makan, Kevin tak pernah melihat Darren ikut berbaur.
Jujur saja sih, kesan pertama yang dilihat Kevin tentang Darren adalah angkuh. Kesannya kayak Darren punya kasta paling tinggi.
Kevin sempat bertanya pada teman-temannya tentang Darren. Dan seperti biasa, jawaban anak TK macam mereka adalah, “Gak ah, takut sama delen. Kaya vampir.” Atau “Darren sombong. Emang dia plesiden apa?” dan lebih parah lagi... “Delen bilang, kita ga stelil.”*dengan nada galau*
Untuk yang menjawab takut, kebanyakan adalah anak cewek, karena jelas lah, pada naksir. Kalo yang bilang sombong, jelas cowok. Iri kali ya. Dan yang bilang mereka ga steril adalah percampuran keduanya. Cowok dan cewek.
Sampai suatu hari, setelah seminggu bersekolah di TK itu, Kevin memberanikan diri untuk menghampiri Darren.
Dilihatnya Darren tengah duduk dengan posisi tegak, dan terlihat sedang menggambar sesuatu. Gambar pemandangan. Dan.. not bad. Paduan warnanya bagus.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Moment With You
Teen FictionKesel gak sih kalau kita harus didepak ke negara lain? Hal inilah yang dialami oleh Via. Ia didepak orangtuanya, dan dipulangkan ke Indonesia. Apalagi kedua orangtuanya menyuruhnya tinggal di rumah Tante Lydia, teman baik mamanya, yang mempunya anak...
