Feel Like Dying

4.2K 59 5
                                        

Saking serunya ngobrol, via baru sadar kalau sudah jam 12 malam. Dia jadi gak enak kalau pulang malam, biarpun saat itu tante lydia dan om cipta sedang tidak ada. Untung pas pulang, Pak Darja, satpam rumah itu belum tidur. Dia membuka pintu rumah yang tak dikunci. Sepi. Mungkin sudah pada tidur. Via salah. Ternyata masih ada 1 orang yang belum tidur. Daren.

“Tuh kan, gue tau elo bakal ngalong, jadi baru pulang lewat jam 12.” Daren dengan yakinnya berkata demikian. Gayanya kedua tangan dilipat ke dada. Via menatap daren, sekarang jantungnya udah gak nye-tuck, tapi dia malah emosi banget. Ngeliat tampang daren yang sekarang itu bikin tanganya gatel mau cakar-cakarin muka Darren sampai hancur.

Via dengan cueknya, tanpa menanggapi daren langsung berjalan menuju tangga. Dengan sigap daren menarik tangan via, tapi ditepis oleh via agak kasar.

“duh elo tuh maunya apa sih? diladenin, sarap. Nggak diladenin, juga tambah sarap! Maunya apa?!” bentak via. Daren langsung tertawa.

Padahal tadi ekspresinya gak ada.

“Galak banget sih lo, ntar jadi perawan tua aja!” balas daren. Via memang kesal tapi ada baiknya ditahan. Kan diam itu emas. Via berjalan menaiki anak tangga. Mendiami daren adalah hal baik saat itu, soalnya dia lagi kesal sama daren. It’s true.

Via membanting pintu kamarnya. Peduli amat biar itu bukan rumahnya. Dia melempar tasnya ke ranjang, tak lama dia ikut merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia bingung. Tadi pas ditelpon daren jantungnya ‘nyut-nyut’. Sekarang dia kesal sama daren. Dia menatap hp-nya, sudah jam dua belas lewat. Mau tidur atau apa... dia bingung. Tak berapa lama perutnya keroncongan minta makan. Snack cadangannya juga sudah habis, terpaksa turun lagi.

Setelah mengganti bajunya, ia mulai menuruni anak tangga. Di dapur ia membuka lemari khusus snack. Dia melihat lays hijau ukuran jumbo, pocky cokelat, dan oreo. Saat berbalik badan.

“AAAA” teriak via kaget, langsung sebuah tangan menutup mulutnya, tak lama dilepas lagi tangan itu.

“Elo tuh bangunin pembantu tau!” bentaknya kecil. Dari suaranya judesnya itu pasti daren.

“Elo ngapain disini?” tanya via.

“Hmm, nggak ngapa-ngapain gue kan emang dari tadi dibawah. Terus gue liat elo ke dapur gitu, gue pikir elo mau nyolong.” Sindirnya hingga membuat via melotot. Kedua matanya membesar, matanya sangat jernih. Karena itulah daren suka membuat via marah. Karena bola matanya.

 “Najong lu, kalo gue maling, dari kemarin juga udah gue sikat barang-barang disini. Udah minggir!” via berjalan kedepan karena daren terus menghalangi, via bergerak ke kanan daren juga ikut. Ke kiri daren juga ikut.

“Elo maunya apa sih? aneh banget!” bentak via kecil.

Daren tersenyum, umpannya berhasil dimakan. “Gue mau, elo temenin gue di kolam renang!” via kaget.

“Hah?! mau ngapain?”

daren tersenyum lagi. “Mau semedi! udah ikut aja, temenin gue!”Daren menarik tangan via yang penuh dengan snack.

Di belakang rumah daren, ada sebuah kolam renang, dipinggirnya ada kebun. Kebun itu terisi kursi taman, gazebo, ayunan, bunga, pohon kelapa dan tumbuhan lainnya. Daren menarik via sampai gazebo. Badan via terhuyung akibat tarikan daren yang kuat. Ia duduk di gazebo dengan keras.

“temenin gue disini!” perintah daren. Via melihat kearah daren. Jantungnya belum seperti biasa. Arah mata daren beralih ke kolam renang. Via mulai membuka laysnya. Ia mencomot banyak lays dan memasukkannya ke dalam mulutnya, sampai mulutnya menjadi karena menahan banyak makanan. Dia gak peduli daren, kan Cuma disuruh temenin gak disuruh ajak ngobrol.

The Moment With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang