RANDOM: ini adalah satu chapter sebelum epilog. udah mau tamat nich. hehehe, baru upload sekarang soalnya flashdisk gue baru dibalikin sama guru. hehehehe. hari senin gue udah berangkat ke Yogya, mau perpisahan. 4 hari 3 malam. hari pertama tidur. hari kedua jalan-jalan ke panti asuhan, kraton, sama nonton sendratari ramayana (kece guys, backgroundnya prambanan), hari ketiga katanya ke borobudur sama maliboro, dan malemnya PROM! yeah! penampilang kelas, sama guru-guru. kelas gue nampilin sebuah drama parodi girlband-boyband gitu:3 hehehe, ntar diupload ah naskahnya:3 heheh, dan hari terakhir ke goa apa gitu, dan pulang. hehehehehe rebet-___- oke deh. langsung aja! check this out! (sekalian ke jogja mau riset tempat wisata, buat jadi latar cerita berikutnya. hehehehehe) *numpang curhat ya*
-----------------
Kembali pada Darren. Pria itu berhasil masuk kedalam bandara. Sempat ia nyaris kena tilang polisi. Ia sempat menerobos lampu merah. Tapi untung ia langsung cepat-cepat bertindak. Alis ngumpetin mobil di gang sempit. Tanpa ketawan sekalipun.
Kontan, setelah ia memarkirkan mobilnya di terminal keberangkatan, ia berlari, sebelumnya ia mengunci mobil dahulu. Celingak-celinguk. Ke kanan dan ke kiri, Darren mencari via. Tak ditemukannya via. Kadang bayangannya seperti melihat via, tapi begitu didatangi, ia salah melihat.
Tak tahan dengan kebingungan yang membawa depresi, akhirnya Darren berteriak memanggil nama via. Kali itu urat malunya putus.
“Via! Via!” Darren terus mengulangi teriakannya. Tak peduli dengan beberapa orang yang melihatnya keheranan dan berbisik-bisik, entah sendiri atau pada teman-temannya.
“Itu mas-mas kok ganteng-ganteng, gila yak. Teriak-teriak sendiri.” Bisik seorang ibu ke telinga anaknya yang sibuk dengerin lagu.
Ada lagi bule yang sibuk merhatiin Darren.
“What the hell with that boy! He’s so noisy! But, he’s so handsome too.” Bisik bule cewek yang gayanya gaul ke temennya.
Persetan dengan mereka! batin Darren.
Ia berhenti
ngos-ngosan.
Tenggorokannya kering.
Keringatnya bercucuran.
Sekali lagi ia memaksakan diri memanggil nama via.
“Via!” kencang dan menggelegar. Bagi beberapa orang di bandara itu sudah biasa. Malah ada yang mikir itu lagi syuting sembunyi-sembunyi. Jadi bodo amat deh. Ya mungkin sekalian kan kalo kena shoot, bisa masuk tv gitu.
Darren menyerah.
Ia membungkuk, menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya dengan kencang.
Tiba tiba ada yang menyentuh pundaknya.
Halus.
kemudian menjadi sebuah cengkraman kencang
Darren langsung menghadap ke belakang.
Di dapatinya via dengan ekspresi heran. Tidak tanggung-tanggung.
Darren langsung memeluk via. Gadis itu shock. Tapi via masih sempat membalas Darren dengan pelukan.
Awal mula, via berniat mencari taksi. Sayang panggilan alam atau mother calling, alias via kebelet buang air kecil, ia memutuskan untuk tetap ada disana, alias lagi ke toilet.
Dari toilet ia berjalan kembali menuju taksi. Samar-samar ia mendengar seseorang berteriak memanggil namanya. Tapi teriakan itu tak terhentikan. Via berlari mencari seseorang yang memanggil namanya. Didapatinya Darren berteriak memanggil via.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Moment With You
Teen FictionKesel gak sih kalau kita harus didepak ke negara lain? Hal inilah yang dialami oleh Via. Ia didepak orangtuanya, dan dipulangkan ke Indonesia. Apalagi kedua orangtuanya menyuruhnya tinggal di rumah Tante Lydia, teman baik mamanya, yang mempunya anak...
