This Feeling~

5.2K 76 5
                                        

Random: Balik lagi. perkembangan semakin besar aja ya. Amen. Sebenarnya sih gue lagi rada kelimpungan. soalnya minggu depan udah banyak ulangan, pr, dan bulan depan ujian! oh shit. abis mid, 2 hari kemudian langsung try out 2. Arghhhh

-----------------M---------------------

“Hah?! serius lo Vi?!”

Tiffany dengan toa-nya yang khas, berteriak kaget tepat di gendang telinga Via. Sore yang lenggang itu dimanfaatkan tiffany untuk ke rumah tinggal sementara Via (rumah daren). Via menceritakan kejadiannya dengan daren mulai dari kota tua sampai pagi baru pulang. Dan yang buat tiffany kaget, temannya yang tadi anti daren, sekarang jadi agak mulai runtuh kata antinya.

“Gue gak tau kenapa udah mulai suka sama dia. Tapi sukanya tuh cuma sedikit, tiff.” Curhat Via. Tiffany sedikit memijit dahinya.

“Iya sih vi, gue tau. Cuman, ya elo tau kan dia playboy? bisa-bisa disepuluhin lo sama dia.”

Via bengong. “Aduh tiff, gue tuh suka bukan suka untuk dijadiin pacar, sukanya tuh dikit banget. Gini-gini juga gue masih lebih suka Kevin.” Ceplos Via tanpa sadar.

Tiffany tambah speechles. “Tuh kan bener, elo suka sama Kevin. Yang bener lo suka sama kevin atau daren nih?” tanya Tiffany meyakinkan.

“Nggak tau nih. Kadar suka gue sama mereka sama, tapi masih lebih ke Kevin sih... Haduh tiff, kayaknya gue juga harus jaga jarak sama daren, soalnya jantung gue. Ahh. Untung hari ini tuh anak pergi.” Via sekali lagi menghembuskan nafas. Tiffany saja yang temannya Via juga bingung. Bagi Tiffany, Daren sama Kevin itu sama-sama bibit unggul. Tapi bedanya Daren itu lebih dan lebih brengsek ketimbang Kevin, soalnya playboy abis.

“Yaudah deh, ada baiknya elo kembali posisi semula, tapi gak sampe berantem lagi. Gue comblangin elo sama Kevin deh!” tawar Tiffany dengan mata berbinar-binar. Via langsung melempar boneka sapinya tepat di wajah Tiffany.

“Gak gitu juga kali tiff. Lagian belum tentu kevin juga suka sama gue. Lagian gue kan suka sama dia sebagai teman atau....sahabat mungkin...” Terang Via mengarah ke balkon.

“Yeh Vi, elo jangan mainin dasar sayang sebagai teman atau sahabat dong. Kalo gitu sih gue juga bisa melakukan hal yang sama ke lo. Sayangnya gue normal. I’m Adin’s. Tapi kalo kayak lo dan kevin bisa-bisa ntar kalian pacaran. Gue yakin kok vi, dia juga sayang sama lo. Seenggaknya nih kalo elo sayang sama si Kevin, elo gak akan dapet harapan kosong kok vi, lah daren? sebelah tangan, kosong itu udah ada. Dia tuh playboy sejati lho vi. PHP pula. Pemberi Harapan Palsu.”

Via masih memikirkan perkataan Tiffany, tapi dia tetap bingung. Menurut dia saran tiffany bagus juga, tapi kan dia juga gak terlalu sayang banget sama si kevin, lagian kan belum tentu dia suka darren. Siapa tau itu hanya perasaan sementara. Ah gimana sih nih. Jadi ribet banget. Batin via. Tiffany sadar juga kalau dia rada maksa via, tapi kan demi via juga.

“Sorry ya vi, gue tuh gak ada maksud maksa buat lo, tapi demi kebaikan lo, yah jadi sekarang lo harus posisiin daren sebagai teman yang sekadar kenal, dan gak lebih.”

Via menatap ke tiffany dengan tatapan yang bicara. ‘sumpah lo?’

“Iya sih Tiff, gue tau kok, elo gak maksa Cuma ngelakuin ini untuk kebaikan gue. Pasti gue usahain sih. Cuma hambatannya tuh tante lydia. Dia suka kayak ngedekitin gue sama Daren gitu.”

Tiffany berpikir. Lah kalau nyokapnya daren kayak gitu. Berarti ada kemungkinan si via dijodohin dong, ah gak mungkin.

“Haha mungkin nyokapnya pengen ngejagain elo kali vi, soalnya kan lo baru di jakarta. Jadi ya dia minta daren.” Tiffany berbohong. Ia tidak mengatakan apa yang ada dipikirannya. Jujur saja, dia punya pemikiran, kelak via dan darren akan menikah. Hmm tunangan deh. Kan dijodohin gitu.

The Moment With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang