Happy Reading
Bunyi mesik kendaraan yang terdengar membuat kepala Salsha langsung menoleh, ia segera berjalan meninggalkan layar televisi yang menjadi kawannya sejak dua jam lalu, terhitung dari saat ia selesai menyiapkan makan malam menunggu kedatangan suaminya pulang. Ia merapihkan rambutnya, menunggu kedatangan Iqbaal dengan senyum menyemai di bibir tipisnya.
Makan malam sudah ia siapkan, meski menunya dipastikan dingin. Salsha akan memberikan pilihan untuk suaminya menunggu, itupun kalau Iqbaal berkenan sebab putrinya menolak saat gadis kecil itu ia ajak makan malam bersama.
"Malam Kak," sapanya saat Iqbaal berdiri di depannya, dia tersenyum canggung—merasa bingung harus melakukan apa sampai tangannya terangkat meminta suaminya untuk memberikan tas kerja agar ia bawa.
"Terima kasih," ucap Iqbaal setelah menyerahkan tas pada Salsha tanpa pergerakan apa pun, ya setidaknya ciuman di kening seperti yang sering ia lakukan pada Steffi saat perempuan itu menyambut kedatangannya.
"Kakak mau mandi dulu atau makan? Aku udah masak tadi, tapi udah dingin. Kalau nggak keberatan aku hangatkan dulu supaya—"
Iqbaal berbalik membuat Salsha menggantung ucapannya. Bukan apa-apa, posisinya yang ada di belakang Iqbaal membuat dahinya menabrak punggung suaminya yang berbalik mendadak. Gurat lelah yang tergambar di wajah suaminya adalah objek pandang Salsha pertama kali, meski Iqbaal tak mengungkapkannya ia tahu bahwa energi lelaki itu cukup banyak terkuras hari ini.
"Aku capek, kebetulan tadi udah makan juga. Aku naik duluan ya, Salsha."
Tanpa menunggu jawaban dari Salsha, Iqbaal berjalan lebih dulu meski mengakhiri kalimat dengan senyuman tipis di bibirnya. Lelaki itu berjalan lebih dahulu meninggalkan Salsha yang terdiam bak patung di tempatnya, mengembuskan napas berat sebab dua tawarannya di tolak mentah-mentah. Padahal niatnya baik, ia ingin membantu Iqbaal atau barangkali bisa menjadi teman cerita bagi lelaki itu.
Salsha mengembuskan karbon lumayan keras, perempuan itu menarik senyuman lebar untuk dirinya sendiri. Tak apa sebab ini ini masih babak baru, begitu pikirnya. Tak lagi membuang waktu, Salsha berlari ke luar rumah untuk menemui Pak Mawan. Terlalu sayang jika makanan itu dibuang percuma, lebih lagi Salsha sudah membuatnya dari hasil belajar yang susah payah ia lakukan. Dia tak akan mengecewakan masakan pertamanya.
"Pak Mawan?" ucap Salsha mengagetkan lelaki yang sedang menonton siaran bola di televisi dalam pos.
"Astaga, Neng Salsha! Untung saya nggak ada riwayat penyakit jantung."
Salsha tertawa lebar. "Pak Mawan lapar nggak? Mau bantuin Salsha ngabisin makanan, Pak?"
"Makanan?" ulang lelaki separuh baya yang sudah mengabdi lima tahun pada Iqbaal dengan wajah bingung.
"Saya kebetulan masaknya kebanyakan, Pak Mawan sama Mbak Ina mau bantuin saya makan?"
"Di dalam?"
"Ya iya di dalam, masa mau makan di sini."
"Yaudah kalau Neng Salsha maksa, saya mah nggak bisa nolak."
Salsha tersenyum senang. Dia mengangkat dua jempolnya naik ke atas, "Salsha siapkan dulu ya, Pak? Bapak kunci pagarnya aja biar aman kalau ditinggal makan di dalam."
Tak apa jika malam ini dia gagal membuat masakan untuk Iqbaal dan Aqila, masih ada hari esok. Tak apa Salsha, masih banyak kesempatan. Dewa batinnya menyemangati, berpikir bahwa semua akan baik-baik saja sebab ini hanyalah babak awal dari hal yang tak pernah Salsha duga sebelumnya.
***
"Habis dari mana kamu?"
Suara itu, refleks Salsha langsung menoleh mendapati Iqbaal dengan tatapan tajamnya duduk di sofa kamar. Salsha meneguk ludahnya, berani bertaruh bahwa tatapan lelaki itu begitu menakutkan baginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tante Salsha
Romance[ REVISI] Ini tentang jatuh cinta dan kesakitannya. Salsha pikir hidup dengan lelaki yang dicinta hanya akan mendatangkan senyum dan tawa, bahagia dan cinta. Rupanya, dawat yang ditulis tak demikian. Lagi-lagi ia harus menerima kenyataan bahwa lar...
